3

3K 180 3
                                        

Wajah Bian berubah keruh ketika menyadari apa yang Serra kenakan sore ini. Wanita itu mengenakan kaos crop top yang memperlihatkan kulit perutnya. Dari gerak geriknya, Bian tahu jika Serra sepertinya tidak merasa nyaman ketika menggunakan crop top itu.

"Bang tumben kamu mau nganter pesanan ke customer?" tanya Mama Bian heran.

"Pasti gara gara customernya cantik, udah paham gue Bang. Dihhh...sok sok an anter pesanan padahal caper aja," cibir Valen adik dari Bian yang hanya beda satu tahun dengan pria itu.

"Sembarangan kalo ngomong!" elak Bian yang tidak ingin nantinya Valen mengejek dirinya terus.

"Udah engga usah ribut, Mama minta tolong anterin dong sayang."

"Emang mau ke mana Ma?"

"Ke salon, engga ada supir lagian. Pak Aji izin pulang siang tadi."

"Kenapa engga Valen yang nyetir Ma?" Bian sudah hafal jika adiknya itu pasti yang memiliki ide mengajak mamanya nyalon.

"Mama engga mau mobilnya baret semua ya. Terakhir kali Valen nyetir itu mobil ditabrakin pot pas mau parkir. Yang ada semua mobil di rumah pada baret sama penyok semua."

Tersangkanya hanya nyengir, mau bagaimana lagi skill menyetirnya memang masih di bawah rata rata. Mama Bian lebih tenang jika putra sulungnya itu yang mengantarkan mereka.

Tapi pria itu tidak rela harus meninggalkan caffee ini, apalagi sepertinya Serra masih sibuk kerja kelompok di sini. Karena jarang jarang Serra mau nongkrong, selama ini Bian hanya pernah melihat gadis itu di sekolah. Pria itu tidak pernah melihat Serra berpakaian casual, sehingga tadi Bian sedikit terkejut dengan tampilan Serra di luar sekolah.

"Ayok Bang nanti keburu macet," ajak Mama Bian agar segera berangkat.

Serra menatap Bian yang keluar dari pintu caffee bersama dengan sorang wanita paruh baya dan gadis yang tampak begitu cantik. Gadis itu bergelendot manja di lengan Bian. Mereka tampak cocok bercanda bersama, pria itu juga menjitak kepala si gadis lalu tertawa puas.

"Pacarnya ya?" tanya Serra pada Sasya yang saat ini juga tengah memperhatikan interaksi Bian dan si gadis cantik.

"Bukan, adeknya. Duhh gue juga pengen deh gelendotan manja ke Kak Bian."

"Dih, gatel!"

Rayi langsung mendapat lemparan pulpen milik Sasya, gadis itu menatap Rayi dengan garang.

o0o

"Ser ke kantin yuk, jamkos-nya sampe ntar pulang. Habis itu baru kita lanjut kerja kelompok Bahasa Perancis."

"Ngapain ke kantin?" tanya Serra yang mengerjakan PR matematika yang baru saja diberikan oleh gurunya.

Serra lebih memilih langsung mengerjakannya karena jika sudah sampai rumah gadis itu harus membantu ibunya, jadi kemungkinan tidak sempat untuk belajar atau pun mengerjakan tugas. Di pagi buta pun dirinya harus menyiapkan dagangan yang harus dijual di sekolah.

Rutinitas itu Serra lakukan sejak SMP, gadis itu memiliki ide untuk berjualan di sekolah dengan dititipkan di kantin. Semua itu dirinya lakukan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Ibunya bekerja sebagai buruh prabik yang gajinya pas pas-an dan beban hutang yang harus keluarganya bayar, apalagi wanita itu single parent dan harus membiayai kebutuhan sekolah anak anaknya.

Apakah Serra malu berjualan seperti itu???

Tentu tidak. Hidup keluarga Serra pernah di titik mereka hanya memiliki beras tapi tidak sanggup untuk membeli lauk. Mereka bahkan sering makan hanya dengan nasi dan garam saja, agar Serra dan adiknya tetap bisa membayar biaya sekolah.

Bagaimana rasanya makan nasi hanya dengan garam? Tentu saja rasanya asin, tapi mereka tidak sempat merasakan enak atau tidaknya. Yang terpenting adalah perut mereka terisi sehingga tidak kelaparan dan tidur nyanyak di malam hari.

Ayah tiri Serra lah yang membuat hidup keluarga itu semakin menderita. Pria itu senang minum miras dan berjudi, yang berakhir terlilit hutang. Ketika sudah bercerai dengan ibunya, pria itu meninggalkan hutang puluhan juta yang bunganya semakin berlipat ganda karena meminjam ke lintah darat.

Serra dan adiknya memang berbeda ayah, ibu Serra menikah dua kali dan cerai. Ayah Serra sendiri kembali ke Korea ketika Serra masih berusia satu tahun, dan mereka lost contact. Enam tahun kemudian ibunya menikah dengan pria yang akhirnya melahirkan Djiwa, adik laki laki kesayangannya.

Gadis itu sangat menyayangi Djiwa, karena sejak kecil Serra lah yang ikut menjaganya. Rasanya Serra sedih ketika adiknya itu tidak merasakan minum susu seperti bayi bayi lainnya. Keluarga mereka hanya sanggup memberikan air beras atau yang sering disebut air tajin.

Setelah semua yang Serra alami, apakah gadis itu akan merasa malu dengan berjualan sembari sekolah?

Jelas TIDAK, semua akan Serra lakukan agar dapat melihat senyum adik dan ibunya. Ya, Serra akan melakukan apa pun agar hidup keluarga menjadi lebih baik.

"Ser! Malah bengong. Yuk, gue yang traktir, ulang tahun nih gue!? ujar Gara dengan nada rendah, pria itu memang hanya berniat mentaktir Serra, Sasya, dan Rayi karena hanya merekalah yang benar benar temannya.

"Kan lo masih besok ulang tahunnya?" tanya Serra heran, gadis itu memang mengingat ulang tahun teman temannya.

"Iya sih, tapi besok hari libur, jadi traktirannya gue majuin sekarang aja. Yuk, mumpung kantin sepi. Males gue kalo rame."

Akhirnya mereka berempat menuju kantin di sekolah itu. Karena bukan jam istirahat, kantin tampak sepi.Tapi ada satu sosok yang membuat Serra menghembuskan napas panjang, Ares. Pria itu adalah biang onar di sekolah mereka, yang digadang gadang menjadi ketua geng di SMA nya.

Masalahnya adalah pria itu mengincar Serra sejak pertama kali masa orientasi siswa. Bukan rahasia lagi, para kakak kelas sebelas ataupun dua belas pasti akan membidik target target untuk sekedar digombali atau bahkan dipacari. Sialnya, Serra ternyata berhasil menarik perhatian ketua geng itu.

Ketika rombongan Serra mencari tempat duduk, gadis itu menyarankan meja sejauh mungkin dari tempat Ares duduk. Serra malas meladeni kakak kelasnya itu. Namun Serra sadar Ares yang sedang dikelilingi oleh teman temannya sedang berbisik bisik sembari curi curi pandang ke arahnya.

"Kita kenapa sih ketemu sama itu orang mulu!? gerutu Sasya yang tadi pagi juga bertemu rombongan Ares di parkiran ketika Serra dan Sasya berangkat bersama.

Sebenarnya kantin dan parkiran merupakan markas Ares. Pria itu sering membolos kelas dan ke kantin untuk makan, atau parkiran jika ingin diam diam merokok. Sebenarnya Ares memiliki wajah yang lumayan tampan, tapi akhlaknya san perilakunya minus.

"Jodoh lo kali," ujar Rayi yang sedang menikmati goreng yang baru saja matang. Pria itu tidak peduli dengan gerombolan Ares, yang penting perutnya kenyang. Apalagi gratis, karena ditraktir Gara.

"Amit, amit! Tuh orang kan ngejar ngejar Serra sejak MOS. Herannya kok engga nyerah nyerah," bisik Sasya.

"Engga nyerah gimana? Orang pas nongkrong di Forest Coffee gue liat dia lagi ngopi sambil ngerangkul cewek. Gaby juga kemarin habis posting foto sama itu cowok pake sayang sayangan." cerita Rayi, yang memang sering bertemu Ares di tempat tongkrongan tanpa sengaja.

Serra menahan napas saat Ares bangkit dari kursinya. Pria itu berjalan menuju arahnya, Sasya pun reflek menyikut rusuk Rayi agar pria itu diam. Serra mengumpat dalam hati, ketika Ares mengambil tempat duduk tepat di sampingnya. Tubuh gadis itu membeku, tidak berani bergerak sedikit pun.

MATILAH DIA...






Gimana gimana, Bian?

Atau Ares?

Ya hidup Serra memang seberat itu, dan apakah cerita seperti itu ada di dunia nyata ini? TENTU ADA

Makan cuma pakai garam, karena tidak sanggup beli susu formula akhirnya diberi air tajin.

Next part mari bertemu Adek Djiwa :)

Terima kasih uda baca part ini, dannn yuk pencet bintangnya ⭐





WHEN THE PARTY'S OVERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang