Jangan lupa vote and ramaikan kolom komentar🔥
Serra baru saja menyelesaikan pemotretan saat melihat Bian yang melintas dengan Rose sampingnya. Wanita itu bergelayut manja di lengan Bian, memasang wajah merengek.
Kedatangan Irene membuat Serra memutus pandangannya dari dua sejoli itu. Irene datang membawa box dengan tulisan toko roti terkenal. Irene menyodorkan kotak itu pada Serra.
"Dari Kak Dean."
Irene meringis, wanita itu tahu Serra kurang suka menerima hal hal semacam ini dari lawan mainnya. Ia hanya ingin berhubungan sewajarnya, cukup bersikap profesional di lokasi saja.
"Kok bisa tau gue di sini?"
"Make up artist sama hair stylistnya kan temen deketnya Kak Dean. Ehh kayaknya semua kru yang pernah kerja sama, dia kenal semua deh. Orangnya humble banget gitu."
Dean memang terkenal ramah dan humble, pria itu tidak sungkan untuk mengobrol dengan MUA, hair stylist, sutradara, producer, dan kru kru lainnya. Kebetulan juga tadi sang MUA membuat story instagram ketika sedang merias wajahnya.
Apalagi MUA yang Valen sewa tidak lah kaleng kaleng, memiliki jutaan followers di Instagram dan sering mengadakan beauty class yang dibandrol dengan harga jutaan rupiah setiap kelasnya. MUA itu sering merias para diva dan sangat terkenal di kalangan artis papan atas karena hasil make up nya yang selalu memuaskan.
"Bagiin ke yang lain aja, sisain satu aja."
Setelah pemotretan selesai, Serra masih memilki jadwal di salah satu podcast. Wanita itu menjadi bintang tamu bersama dengan pemain drama yang dimainkannya.
"Makasih ya Kak Serra buat hari ini." Valen memeluk Serra ramah saat mereka berdua akan berpamitan.
"Sama sama Kak."
"Mau langsung balik?" tanya Valen.
"Ini mau lanjut ke podcast Kak." Irene lah yang menjawab.
"Wah padet banget yaa jadwalnya, tapi belum makan siang aku perhatiin."
"Nanti di jalan aja Kak. Kalo gitu kami pamit yaa, mari Kak Valen, terima kasih semuanya untuk hari ini." Serra juga pamit ke kru pemotretan hari ini.
Mata Serra melirik Bian yang sibuk di kursi pojok ruangan, di sampingnya terdapat Rose. Mereka berdua tampak fokus dengan layar laptopnya. Serra menghembuskan napas, bahunya turun ketika Bian sama sekali tidak bertegur sapa dengannya.
Sebenarnya Serra bingung mengapa hubungan mereka menjadi sedingin ini. Sebelumnya pria itu bahkan mau berbicara dengannya bahkan mengantarkannya pulang. Tapi beberapa hari belakangan Bian berubah menjadi dingin padanya, yaa Serra menyadarinya. Bian hanya berlaku dingin padanya, karena pria itu akan berbicara seperti biasa dengan orang lain, bahkan dengan Irene.
o0o
"Kenapa engga mau ngasih nomornya Wiranata Adhitama sih!" protes Rose yang sudah sejak tadi merengek tapi sepupunya itu tidak mengindahkan permintaannya.
"Wira bukan orang sembarangan, kamu minta nomor pribadinya.Tentu gue engga bisa kasih."
Rose menatap Bian dengan wajah kesalnya, dirinya sebenarnya sudah mendapatkan kartu nama dari Wiranata Adhitama tapi yang ia inginkan adalah nomor pribadinya. Sialnya meskipun ia sudah melakukan berbagai cara Rose belum juga mendapatkannya, hanya orang orang yang benar benar kenal dekat dengan Wira yang memiliki nomor pribadinya. Yang lainnya akan menghubungi pria itu dengan nomor ponsel yang ia gunakan bekerja.
"Lagian lo mau ngapain sih? Bukannya kata Tante lo dijodohinnya sama si Julian, kenapa malah nyari nomor Omnya?"
"Gue ada perlu. Penting, urgent!"
"Ya temuin aja di kantornya. Atau minta sama Julian."
"AMIT AMIT HARUS HUBUNGIN TU CECUNGUK!"
Rose memang sangat anti dengan Julian, pria yang dijodohkan dengannya. Bagi Rose Julian itu redflag, dirinya sedang berusaha untuk membatalkan perjodohan itu segera.
Mengabaikan sepupunya yang sedang tantrum, Bian menyadari jika pemotretan sebentar lagi akan selesai. Sebelumnya pria itu sudah menghubungi Aura untuk mengirim makanan dan juga kopi susu gula aren khusus untuk Serra dan kopi latte untuk kru yang lainnya. Namun karena caffee sedang sangat ramai pesanannya itu baru datang.
Aura dengan sedang membagi bagikan kopi itu ke beberapa kru tepat setelah pemotretan selesai. Bian juga melihat Serra yang sudah akan berpamitan, pria itu langsung menelpon Aura untuk menyerahkan makanan dan kopi susu gula aren untuk Serra sebelum wanita itu pergi.
Mencuri dengar dari pembicaraan Valen dan Serra sepertinya gadis itu memiliki jadwal lagi setelah ini. Bian pun juga baru mengetahui jika Serra belum sempat makan siang, pantas saja badan gadis itu semakin kurus sekarang ini.
"Bang Bian suka ya sama perempuan itu? Dari tadi ngelirik terus," tembak Rose yang langsung membuat Bian menegang.
Bisa gawat jika Rose menyebarkan hal ini ke orang tuanya. Mulut sepupunya itu kadang ember, apalagi jika mendapat informasi seperti ini Rose akan memanfaatkan dengan sebaik baiknya.
"Engga," sangkal pria itu.
Salah satu sudut bibir Rose tertarik membuat senyum yang begitu menyebalkan. Tentu sepupunya itu tidak mudah dibodohi. Lagi pula kenapa juga mata Bian tidak bisa dikondisikan sedari tadi. Meskipun tidak bertegur sapa dengan Serra, tapi mata pria itu tidak bisa bohong. Ekor matanya selalu mengikuti gerak gerik Serra.
"Kata Valen, dia adik kelas waktu SMA. Yakin cuma adek kelas?" goda Rose, yang membuat Bian menghembuskan napas panjang.
"Nih, mending sana jalan!" Bian menyodorkan salah satu kartu kreditnya.
Sebenarnya uji nyali memberikan Rose kartu kreditnya. Wanita itu bisa saja menghabiskan uang puluhan bahkan ratusan juta dalam sekali belanja. Tapi seharusnya hal ini bisa membungkam sepupunya itu agar tidak merongrongnya dengan pertanyaan yang membuat dirinya tidak nyaman.
o0o
"Kok mereka bisa tau kalo Kak Serra sukanya kopi susu gula aren?"
Irene yang menerima kopi dan makanan yang diberikan oleh Aura tadi tampak terheran heran. Pasalnya ada satu cup khusus untuk Serra yang berisi kopi susu gula aren, sedangkan cup lainnya adalah latte.
"Bukannya semuanya kopi susu gula aren?" dahi Serra berkerut, lalu menyesap kopi yang berhasil membuatnya tetap waras meskipun masih harus melanjutkan syuting.
"Ini tadi katanya khusus buat Kak Serra, sedangkan tiga cup lainnya latte kok."
Tanpa dapat dicegah, salah satu sudut bibir Serra tertarik. Entah memang Aura yang mengingat kopi yang sering Serra pesan, atau yang punya Forest Coffee yang masih mengingat kesukaan Serra. Di epanjang perjalanan menuju tempat syuting podcast, suasana hati Serra begitu baik hingga wanita itu terus tersenyum.
Bian ini gimana? Kadang hangat kadang dingin
Serra nya kan jadi bingung
KAMU SEDANG MEMBACA
WHEN THE PARTY'S OVER
RomanceSurat cinta masa putih abu abu itu ternyata masih tersimpan rapi. Kenangan itu sulit untuk mereka lupakan. Setelah bertahun tahanun berlalu, akankah semesta mempertemukan mereka kembali? Ciuman Bian di malam promnight itu membekas meskipun sudah ber...
