Yuk click vote ⭐ dan jangan lupa follow Lembayunsenj
Hari Jumat berikutnya, Serra kembali ke Forest Coffee. Gadis itu tetap menyempatkan diri ke sana sekedar untuk mendapatkan suntikan cafein di tengah tengah kesibukan syuting drama kolosal yang dibintanginya.
"Maaf Kak QRIS nya baru eror," ujar kasir dengan wajah tidak enaknya, ketika Serra bersiap men-scan menggunakan ponselnya.
"Kalo pakai debit bisa Kak?" Serra mengeluarkan kartu atmnya, memberikannya pada mbak mbak kasir.
"Duh maaf Kak, mesin edcnya juga baru error hari ini. Bisanya cash,"
Serra mencari uang cash di dalam dompetnya, tapi tidak menemukan apa pun. Di mobilnya pun hanya ada uang recehan yang biasa dirinya gunakan untuk membayar parkir. Kebiasaan gadis itu cashless, dan jarang membawa banyak uang cash.
"Pesanan saya udah dibikin yaa? Bentar saya ambil uang di ATM dulu yaa."
Serra memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas, ia akan mencari atm terdekat untuk mengambil uang tunai terlebih dahulu. Lalu dirinya akan kembali lagi dan membayar pesanannya.
"Udah engga usah."
Suara berat dna sedikit berat itu terdengar dari samping. Serra seketika menoleh, napasnya tercekat menemukan pria yang sudah tidak dilihatnya selama 9 tahun belakangan.
Pria itu lebih tinggi darinya, membuatnya harus mendongak untuk memastikan kembali wajah pria yang mencuri ciuman pertamanya.
"Kak Bian?"
Bian mengabaikan Serra, memilih berjalan menghampiri barista yang telah selesai membuat pesanan gadis itu. Salah satu bibir Bian tertarik ketika melihat pesanan kopi susu gula aren, seperti biasa. Sama seperti dulu, tidak pernah berubah.
"Nih, kopi susu gula aren kan?"
Serra mengangguk, matanya mengerjab. Gadis itu masih terlalu terkejut dengan kemunculan pria itu. Dari sekian banyak kedatangannya ke Forest Coffee mengapa sekarang dirinya bertemu Bian? Sekarang saat dirinya berantakan setelah pulang syuting, wajahnya polos tanpa riasan, rambutnya dicepol sembarangan.
"Tapi uangnya gimana? Tf aja bisa? Boleh minta nomor rekening Kakak?"
"Setelah dulu pura pura minta nomor telepon sekrang mau minta nomor rekening? Udah bayar aja kalo besok ke sini lagi."
Setelah mengatakan itu semua, Bian segera beranjak berjalan cepat menuju lantai dua. Belum sempat Serra berbicara, Bian sudah menghilang dari pandangannya. Di tangannya kini ada cup ice coffee yang tadi dipesannya, terasa dingin di kulitnya.
"Kak memang orang itu sering ada di cafe ini ya?"
"Pak Bian? Iya Kak, malah lebih sering tidur di cafe dari pada di apartementnya."
Mata Serra membeliak, apa jangan jangan selama ini Bian tau jika Serra sering kemari? Setelah diingat ingat wajah Bian tadi tidak tampak terkejut sedikit pun. Masih datar, seperti beberapa tahun yang lalu.
"Kak Serra kenal ya sama Pak Bian?"
"Dulu kakak kelas saya waktu SMA,"
Benar kan jawaban Serra? Tidak mungkin dirinya menjelaskan lebih lanjut jika Bian adalah first kissnya dan bahan taruhannya dengan teman temannya.
"Ohhh pantes sering perhatiin Kakak kalo lagi ke sini. Tapi anehnya engga pernah mau nyamperin, biasanya kalo hari Jumat cuma tanya Kakak udah dateng apa belum."
Serra melirik name tag gadis yang berjaga di kasir itu, Aura Pallas. Gadis itu tampak manis dan polos, Aura tidak tahu saja jika gadis itu keceplosan membuka rahasia bosnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
WHEN THE PARTY'S OVER
RomanceSurat cinta masa putih abu abu itu ternyata masih tersimpan rapi. Kenangan itu sulit untuk mereka lupakan. Setelah bertahun tahanun berlalu, akankah semesta mempertemukan mereka kembali? Ciuman Bian di malam promnight itu membekas meskipun sudah ber...
