Bian mengetuk ngetukkan ujung sepatunya, menunggu Serra di lobby salah satu stasiun tv. Pria itu nekat menjemput kekasih barunya itu, setelah hampir dua minggu tidak bertemu.
Ya ini akan menjadi pertemuan mereka yang kedua setelah resmi menjalin hubungan. Bian baru saja pulang dari Sumatera, mengurus jual beli lahan sawit milik ayahnya. Ayahnya baru saja membeli lahan sawit, dan menugaskan Bian untuk mengurusnya.
Sedangkan Serra juga disibukkan menjadi bintang tamu di reality show program dari stasiun tv milik Wiranata. Reality show itu sedang viral dan banyak digemari oleh anak muda.
Masalahnya adalah, selain sudah lama tidak bertemu, Bian cemburu jika Serra dijodoh jodohkan oleh penggemarnya dengan rekan sesama artis. Dan di sini lah Bian, menunggu kekasihnya selesai syuting.
“Bian?”
Pria matang dengan jas abu itu memanggil namanya dengan ragu ragu. Bian menyunggingkan senyumnya ketika pemilik stasiun tv itu menyapanya.
“Hai, udah lama engga ketemu.”
Bian menjabat tangan Wira dengan mantap. Pria 42 tahun itu tampak semakin matang semakin menggoda.
“Ada keperluan apa ke sini?”
“Jemput pacar.”
“Kerja di sini? Staff atau artis?”
“Artis.”
“Wow, maaf saya engga bisa lama lama karena sebentar lagi ada pertemuan. Kamu bisa nunggu di dalam, atau di ruang riasnya saja. Daniel, antar Bian ke dalam.”
Nyatanya berkat Wira, Bian dapat masuk dan melihat langsung bagaimana proses syuting berlangsung. Mata Serra melebar ketika mendapati Bian berada di sana. Tatapan mereka bertemu, dan saling mengunci. Serra pun tak sabar menyelesaikan syutingnya, lalu menemui kekasih yang sudah lama tidak berjumpa itu.
o0o
“Kalian mau kemana sih?” tanya Rose santai.
Bian menghembuskan napas kasar saat Rose tengah memulas kembali bibirnya dengan liptint dengan harga satu juta hasil dari merampok kartu kredit Bian bulan lalu. Sepupunya itu dengan tidak tahu malunya ikut bergabung dengannya saat Bian ngedate dengan Serra.
“Lo ngapain sih ngintilin gue?”
“Ih nebeng, engga bawa mobil. Emang tega gue pulang sendiri?”
“Kenapa engga pulang sama tunangan lo? Bukannya tadi ke sini ketemu tunangan lo, Julian?”
“Julian bukan tunangan gue! Lagian gue ke stasiun tv buat ketemu Wira.”
“Lah ngapain ketemu Wira?”
“Ada urusan penting!”
“Lo gue anter ke pulang. Mau pulang ke apartemen atau balik ke rumah?” Bian ingin segera berduaan saja dengan kekasihnya.
Pria itu kesal sekali ketika Rose duduk di depan, sedangkan kekasihnya malah duduk di kursi belakang mobilnya.
“Sejak kapan sih kalian jadian? Valen tau? Tante tau?”
“Engga usah ember deh. Sana gih turun, mending gue pesenin taksi online. Dari pada ganggu orang pacaran aja.”
Setelah berhasil memulangkan Rose, Bian dan Serra pun memilih untuk menghabiskan waktu bersama untuk menonton film. Serra menggunakan topi untuk menutupi sebagian wajahnya.
Setelah membeli popcorn caramel dan juga dua iced lychee tea, mereka pun memasuki bioskop. Bian memesan tiket velvet, awalnya Serra menyerngit saat mereka berdua sampai di tempat yang dipesannya.
Bian menggaruk pelipisnya, menatap bingung bed lengkap dengan dua selimut di sana. Serra langsung menatap Bian, pria itu meringis karena merasa bersalah.
“Sumpah aku engga tahu kalo ternyata bed. Kirain kursi tapi jaraknya jauh-jauh gitu.”
Bian buru-buru menjelaskan, takut Serra berpikir Bian sengaja memilih tiket nonton velvet karena cari-cari kesempatan.
Serra menghembuskan napas, mau bagaimana lagi. Ia meletakkan tasnya di samping lalu melepaskan sepatunya sebelum naik ke bed. Serra berusaha meyakinkan dirinya bahwa Bian tidak akan macam-macam. Lagi pula meskipun di bed dan gelap, tetap ada cctv.
Dengan kikuk, Bian ikut bergabung, tapi pria itu tidak berani mendekat ke arah Serra. Bian berbaring di ujung bed, meletakkan bantal kecil di antara mereka. Ketika lampu sudah diredupkan dan film dimulai, keduanya fokus dengan alur cerita.
Serra lah yang memilih judul filmnya, ia penasaran ingin menonton Exhuma, dan Bian pun setuju. Meskipun pria itu tidak tahu akan seperti apa ceritanya.
Bian menengok ke arah Serra ketika wanita itu menggunakan selimut untuk menutupi matanya. Ternyata kekasihnya itu penakut. Bian menggelengkan kepala, lalu salah satu lengannya terangkat, menawarkan sebuah pelukan untuk kekasihnya itu.
Serra mendekat, karena sudah tidak terlalu mencekam diturunkannya selimut yang tadi menutupi matanya. Kembali meringis ketika dilayar menampilkan Lee Dohyun yang terluka.
“Emang engga dingin?” bisik Serra, agar tidak menganggu yang lainnya.
Bian memang belum membuka selimutnya, padahal pria itu hanya menggunakan kaos polo pendek. Serra membuka melimut milik Bian, dan menyelimuti kekasihnya itu.
“Thanks,” Bian mengecup pelipis Serra, lalu kembali memeluknya.
Serra menyandarkan kepalanya di dada Bian, tubuh pria itu menawarkan kehangatan di tengah-tengah suhu bioskop yang dinginnya minta ampun. Mereka memesan tempat paling belakang di bagian tengah. Serra mendongak saat mendengar suara-suara aneh.
Ia menengok ke arah bed paling pojok, melihat pasangan yang sepertinya sedang kasmaran. Mereka menciptakan suara suara gaib yang lebih menyeramkan dari pada jumpscare di film yang mereka tonton. Kecupan kecupan basah, dapat mereka dengar. Sepertinya pasangan itu lebih sibuk dengan pasangannya dari pada menonton film yang sedang tayang.
Bian menutup mata Serra, lalu perempuan itu berbisik “kamu denger juga?”
Bian mengangguk, “udah biarin, fokus sama filmnya aja.”
Akhirnya sampai film berakhir, Serra berusaha untuk tidak mengok ke pasangan di samping mereka. Ia berusaha fokus menonton, apalagi pelukan Bian berhasil membuatnya nyaman. Jika saja bukan film horor yang sedang ditontonnya, pasti Serra sudah tidur karena terlalu nyaman dalam pelukan Bian.
Mata Serra membesar saat mendengar suara resleting dinaikkan, lalu ia melirik ke samping mendapati pria di samping bed mereka membenarkan celananya. Serra menatap Bian, seketika pria itu menahan tawanya. Sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama. Ada-ada saja pasangan itu berbuat mesum di bioskop.
Serra senang sekali dapat berkencan untuk pertama kalinya. Ini merupakan pengalaman pertamanya menonton film bersama pacar. Apalagi pacarnya adalah Bian. Tidak pernah terlintas dipikirannya berpacaran dengan Bian. Dunia mereka terlalu berbeda.
Maaf yaaa lapak Serra dan Bian ini sampai berdebu
Ada yang udah nonton Exhuma?
Meskipun engga banyak jumpscare, tapi tetep ada aja adegan nutup mata pake selimut
KAMU SEDANG MEMBACA
WHEN THE PARTY'S OVER
RomanceSurat cinta masa putih abu abu itu ternyata masih tersimpan rapi. Kenangan itu sulit untuk mereka lupakan. Setelah bertahun tahanun berlalu, akankah semesta mempertemukan mereka kembali? Ciuman Bian di malam promnight itu membekas meskipun sudah ber...
