14

2.7K 186 27
                                        

Sabtu pagi Serra menjadi pelanggan pertama Forest Coffee. Gadis itu tiba tepat pukul 09.00 saat cafe itu baru dibuka. Harusnya Serra ke sini agak siangan, tapi entah mengapa meskipun baru sampai rumah pukul 03.00 pagi tadi Serra tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Serra sudah bersiap mandi sejak pukul tujuh pagi, lalu yang niatnya hanya skincare-an dan menggunakan liptint, tangannya malah keterusan. Primer, cushion, bedak, blush, contour, eyeshadow, pensil alis, maskara, dan eyeliner menghiasi wajahnya. Hampir saja dirinya menggunakan bulu mata palsu!

"Kak Biannya ada?" tanya Serra pada Aura yang kebetulan mendapat shift pagi.

"Semalem nginep di sini kayaknya Kak. Mau dipanggilin?"

"Boleh kalau engga ngerepotin. Thank u yaaa."

Serra duduk di salah satu sudut cafe, gadis itu meremas jari jemarinya yang berada di pangkuannya. Gadis itu menegakkan tubuhnya saat Bian menuruni tangga dan berjalan ke arahnya. Pria itu menggenakan celana jeans dan baju putih polos.

"Gue kira lo engga bakal ke sini lagi," terselip nada sindiran di sana, membuat Serra menjadi canggung.

"Maaf Kak, engga sempet ke sini kemarin. Ini untuk hutang kopi aku kemarin," Serra mengeluarkan selembar uang, disusul oleh amplop berwarna putih. Amplop itu berisi uang, yang telah Serra simpan selama sembilan tahun ini. Uang yang membuatnya merasa kesal dan marah, tapi juga menyimpan memori yang tak akan pernah gadis itu lupakan.

"Apa ini?"

"Uang Kak Bian dulu, masih utuh. Aku engga pernah nyentuh uang itu. Mungkin dulu aku belum sempat menjelaskan, aku benar benar minta maaf atas semua yang terjadi dulu. Uang taruhan itu engga pernah aku terima. Dan aku menerima taruhan itu karena dulu aku lagi butuh uang, aku tahu apa yang aku lakuin salah."

Salah satu alis Bian terangkat, pria itu tidak menyangka hari ini akan tiba. Hari dimana mereka kembali bertemu, dan membahas apa yang terjadi dahulu. Peristiwa yang membuatnya marah sekaligus kecewa pada gadis di depannya itu.

"Aku memang salah, tapi yang Kakak lakukan malam itu merendahkan aku. Meskipun aku menerima taruhan itu, tapi aku bukan cewek murahan yang bisa Kakak cium seenaknya dengan Kakak sodorin uang uang itu. Aku tahu semua itu sudah berlalu, aku salah dan aku minta maaf."

"Kalo kamu butuh uang kenapa kamu engga pakai uang itu sekalian?"

"Karena meskipun aku miskin aku punya harga diri. Tidak masalah aku harus kerja jugkir balik untuk dapet uang, tapi bukan dengan cara yang seperti dulu."

"Memang lo butuh uang buat apa?"

"Apa itu penting, bukankah sudah berlalu?"

"Ya penting buat gue."

"Aku takut jika aku menceritakan ke Kakak dikira menjual cerita sedih." Serra tertawa miris mengingat masa lalunya yang berat.

"Ceritakan, seenggaknya gue tahu apa yang membuat lo sampe melakukan itu."

"Kakak tau ekonomi keluarga aku kekurangan dulu, sedangkan adik aku butuh sepatu baru untuk dia lomba. Aku bertekad akan melakukan apapun agar adik aku bisa ikut lomba, jadi aku nerima taruhan itu begitu saja."

"Orang tuamu?"

Serra hanya tersenyum, tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Apalagi saat ini matanya sudah berkaca kaca mengingat masa lalunya yang begitu berat. Kan tidak lucu jika dirinya sampai menangis di depan Bian. Ditambah eyeliner dan maskara yang dipakainya pagi ini sepertinya tidak waterproof!

Bian menatap lekat Serra, pria itu juga dapat melihat mata bening Serra yang mulai memerah. Gadis yang pagi ini tampak cantik, membuat dirinya terburu buru menyisir dan menyempatkan menyemprot parfum terlebih dahulu sebelum menemuinya.

Pria itu tidak pernah tahu betapa beratnya hidup Serra. Ia hanya tahu jika saat ini Serra hanya memiliki adik laki laki yang sedang mengenyam pendidikan dokter. Informasi itu ia dapatkan dari hasil dirinya stalking akun instagram Serra dan youtube channel yang gadis itu bawakan.

Apa yang kalian harapkan? Bian akan melupakan gadis itu begitu saja? Padahal surat yang Serra tulis ketika masih masa orientasi siswa semasa SMA masih tersimpan rapi di kamarnya.

Merasa tidak nyaman karena cafe yang mulai ramai karena akhir pekan, Bian mengajak Serra untuk berpindah ke ruangannya.

"Ngapain ke ruangan Kakak!?" tanya Serra panik ketika Bian mengajaknya ke ruangan tertutup.

Gadis itu takut jika ternyata Bian masih dendam padanya!

"Di sini mulai ramai, lo engga takut kalo nanti ada berita nyebar lo kencan sama gue?"

Serra pun baru sadar, jika sejak tadi banyak yang mencuri curi pandang ke arah mereka. Serra tersenyum canggung ketika tatapan matanya bertemu dengan orang orang yang mengenalinya. Lalu gadis itu memilih mengekori Bian, masuk ke dalam ruang pribadinya.

Rasa canggung itu semakin terasa saat keduanya terjebak berdua di dalam ruang kerja Bian. Di dalam ruang itu masih ada satu pintu lagi di sana. Serra memuji dalam hati betapa rapinya ruangan itu. Gadis itu duduk di salah satu sofa di sana. Sedangkan Bian duduk di seberangnya.

"Ada yang mau lo omongin lagi?"

Serra berpikir sejenak, lalu menggeleng. Bukankan tujuannya sudah terpenuhi, gadis itu ingin mengembalikan uang Bian dan meminta maaf padanya sekali lagi. Ini kan yang Serra inginkan?

"Jadi ini alasan lo ke sini setiap hari Jumat?"

"Iyaaa."

Apa benar? Apakah dirinya selalu ke Forest Coffee hanya untuk itu? Bukan karena ingin mengenang masa lalu, atau bahkan ingin bertemu pemiliknya? Sedari tadi Serra mengamati wajah Bian yang bertambah deewasa, garis rahang pria itu semakin terlihat tegas. Sorot matanya masih setegas dahulu. Bahkan kini terlihat lebih tajam.

Bagaimana perasaan Serra setelah bertemu dengan pria itu? Pria yang telah berhasil mengambil ciuman pertamanya?

Tanpa sadar tatapan gadis itu terfokus pada bibir Bian, bibir itulah yang pernah menciumnya. Tenggorokan Serra kesulitan menelan ludah, gadis itu menjadi tidak fokus ketika melihat jakun Bian yang bergerak.

Tatapan mata mereka bertemu, jatung Serra berdebar semakin cepat. Mereka saling menatap lekat, mungkin apa yang mereka pikirkan saat ini sama. Mereka teringat pada ciuman pertama mereka di malam prom night 9 tahun lalu.

Bian bangkit dari sofa, pria itu berjalan menuju tempat Serra duduk. Ketika pria itu sudah berdiri tepat di depan Serra, ponsel gadis itu berbunyi nyaring. Tanda panggilan masuk.

Dengan tangan yang sedikit gemetar Serra meraih ponselnya, menerima panggilan itu.

"Hallo Irene, udah hampir telat? Iyaa gue langsung otw, okeey wait." cerocos Serra pada Irene di seberang sambungan.

"Hallo, engga telat kok. Kan masih nanti habis makan siang syutingnya. Kak???" balas Irene di seberang sambungan yang sudah kebingungan dengan perkataan Serra barusan. Padahal gadis itu hanya berniat membangunkan Serra, dan mengingatkan jika syuting dilaksanakan sehabis jam makan siang.



Serra kaburrrr 💃

WHEN THE PARTY'S OVERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang