6

2.2K 157 11
                                        

YUK JANGAN LUPA TAP TAP BINTANGNYA, DAN RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR 🥳








"Yuk mari dibeli, salad buah dijamin masih fresh. Macam macam buahnya, bukan cuma semangka melon semangka melon semangka melon." Serra menjajakan salad buah yang baru saja ia buat pagi tadi.

Saking dekat dan akrabnya Serra dengan ibu kantin, wanita paruh baya itu mengizinkan Serra menitipkan salad buahnya di pendingin ice cream yang memang isinya hanya tinggal 10 bungkus. Jadi salad buah yang tadi pagi Serra buat masih dingin dan segar.

"Ada nanas sama pepaya engga Ser?" tanya Gia siswi kelas sepuluh yang memang sering membeli dagangan Serra.

"Engga ada, kalo mau nanas sama pepaya mending besok gue dagang rujak. Sekalian nanti kedondong sama bengkoangnya biar tambah bervariasi buah buahannya."

"Mahal amat Ser, masak segitu lima belas rebu?" protes Rayi yang memang sedang ikut duduk duduk di kantin pada jam istirahat seperti ini.

"Ini wadahnya pake thin wall yang harganya lumayan yaaa. Bukan cuma cup tempat es teh. Biaya produksinya aja udah berapa, yuk yuk yukk dibeli dibeli. Bagi yang mau mau saja..."

Beberapa siswa siswi sudah mengantri untuk membeli salad buah yang Serra jual hari ini. Gadis itu tersenyum puas ketika dagangannya hanya tersisa dua wadah. Padahal gadis itu membawa 20 buah, belum lagi dirinya akan mendapatkan untung dari nasi bungkus yang ia titipkan di ibu ibu kantin.

"Gue PO deh buat lusa, kalo ada yang mau salad buah lagi hubungin gue ya!!!" seru Serra dengan semangat.

Besok dirinya tidak berniat jual salad buah karena ternyata dagang salad cukup melelahkan. Belum belanja buah buahan yang segar tapi dengan harga murah. Memilih wadah yang tepat, mengiris buah buahan, lalu membuat saus yang harus dengan takaran yang pas agar saladnya tidak encer. Gadis itu sedikit keteteran harus menyiapkan semuanya sendirian, apalagi Serra juga harus memasak nasi bungkus.

"Saladnya masih?" suara berat itu terdengar di telinga Serra yang sedang merapikan uang hasil dagangannya.

Gadis itu mendongak, menemukan Bian yang berdiri di hadapannya. Mereka berdua hanya berjarak kira kira 50 centi. Pria itu masih menggunakan seragam olah raga, sepertinya kelas Bian baru saja selesai jam pelajaran olah raga.

Serra menelan ludahnya ketika melihat keringat yang menetes di pelipis Bian, gadis itu mengerjabkan matanya ketika dahi Bian berkerut lalu salah satu alisnya terangkat.

"Masih 2 Kak, mau beli?"

"Boleh, semuanya. Jadi berapa?"

"Tiga puluh ribu Kak."

Bian menyerahkan uang lima puluh ribuan, saat menerima uang kertas itu tanpa sengaja kulit mereka saling bersentuhan. Serra buru buru menarik tangannya, gadis itu memberikan uang kembalian dengan terburu buru, karena salah tingkah.

Gadis itu merutuki dirinya, misinya belum juga dimulai tapi kenapa Bian sudah membuatnya salah tingkah begini. Bagaimana kalo nantinya malah Serra yang benar benar jatuh hati pada kakak kelasnya itu!

o0o

"Kak boleh minta tolong engga?" tanya Serra dengan ragu ragu setelah menghampiri Bian yang berada di dekat lapangan tempat biasa dirinya latihan.

Ketika mata Serra tanpa sengaja menangkap keberadaan Bian, gadis itu mengumpulkan keberanian untuk mulai menjalankan misinya.

"Minta tolong apa?" tanya pria itu datar.

"Nyari ponsel aku, aku lupa naruhnya. Boleh telponin nomor aku engga, kebetulan engga aku silent ponselnya, jadi kalo ada yang nelpon bakal bunyi." Serra entah mengapa segan apa bila menggunakan lo gue dengan kakak kelasnya itu.

WHEN THE PARTY'S OVERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang