1. First

20.9K 755 236
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Suara rintik hujan mulai memenuhi udara, mengetuk-ngetuk atap bangunan dan mengguyur dedaunan yang bergoyang perlahan. Aroma tanah basah dan aspal yang terkena air meruap di antara kabut tipis yang menggantung rendah. Jalanan mengilap, lampu-lampu jalan memantulkan bayangan samar dari genangan air kecil yang membentuk pola-pola tak beraturan.

Di bawah naungan langit kelabu itu, seorang pemuda berambut coklat dengan satu helai rambut putih mencolok di antara helai-helai gelapnya berdiri mematung di pinggir jalan. Tangannya merapatkan jaket tipis yang sudah separuh basah. Dari sela bibirnya terdengar gumaman kecil, kadang terdengar seperti gerutuan kesal, kadang seperti umpatan yang setengah ditelan hujan.

Beberapa jam yang lalu, dunianya masih utuh sekali. Kini, dia resmi jadi pengangguran. Semuanya berawal dari insiden sepele di tempat kerjanya.

Seorang bocah, atau anak dari pelanggan VIP berlari tak terkendali, tangannya menggenggam segelas jus semangka. Tanpa aba-aba, bocah itu menabraknya. Jus semangka merah terang tumpah, membasahi kemeja kerjanya yang baru saja disetrika rapi pagi itu.

Secara refleks, dia membentak nya. Bukan teriak membabi buta, hanya bentakan pendek, lebih karena kaget dan kesal. Namun seisi restoran terdiam. Semua mata menatapnya seperti ia baru saja membunuh seseorang.

Yang membuat dadanya makin panas, bocah itu malah merengek sambil menunjuknya, seolah semua itu salahnya.

"Dia jahat! Dia galak!" Teriak bocah itu, disusul rengekan manja ke arah orang tuanya. Dan sialnya, si orang tua bocah itu dengan wajah yang penuh kuasa langsung melotot ke arahnya tanpa mendengar penjelasan.

Setelah di caci maki tiada habis nya, ia pada akhirnya di-pecat karena kekuatan kedua orang tua dan anak nyebelin itu, ia sempat menganga ketika mendengar hal tersebut. Ternyata benar, ya? Apa-apa kalau ada uang pasti bakal tenang.

"Sialan. Di pecat lagi, di pecat lagi. Dia yang salah kenapa malah gua yang kena imbas-nya?" Umpat Taufan yang masih kesal dengan perihal tersebut, bahkan dengan air yang menghujani tubuh nya tidak membuat nya tenang.

Taufan ingin kembali melangkah ke kos-kosannya meskipun hujan masih turun deras, tetapi langkah kakinya terhenti. Ia memundurkan beberapa langkah dengan pandangan yang tertuju ke bangku halte bus di pinggir jalan.

Di sana, seorang anak kecil yang mungkin sekitar lima tahun tampak duduk sendirian. Tubuh mungilnya sudah basah kuyup, rambutnya menempel di dahinya, dan bajunya meneteskan air ke lantai semen halte. Tak ada orang dewasa di sekitarnya, tak ada tas, tak ada tanda-tanda kalau anak itu sedang menunggu seseorang.

Taufan membulatkan mata, terperangah. Anak sekecil itu sendiri, di tengah hujan deras, dan tanpa pelindung. Apa dia ditinggalkan? Tapi, pikirannya segera membantah.

Dengan wajah sebersih dan serapi itu, mata bulat, hidung mungil mancung, kulit putih, dan ekspresi yang tenang, mana mungkin ada orang tua yang rela membuang anak se-tampan ini?

Bahkan Taufan sendiri sempat terpana, sampai baru sadar ia melongo cukup lama dengan ketampanan itu.

Ia akhirnya melangkah mendekat, berdiri di hadapan anak itu yang masih duduk diam tanpa ekspresi ketakutan sedikit pun.

".. Lu sendiri disini dari tadi, cil?" Tanya Taufan, suaranya pelan tapi terdengar jelas di antara sisa rintik hujan.

Anak itu hanya bisa menunduk, tidak menjawab, dan tatapannya masih kosong, begitu hampa seolah dunia di sekelilingnya tak ada artinya.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang