↷✦; w e l c o m e ❞
Bau harum hujan masih terasa kuat, terbawa angin pagi yang sudah dingin sejak subuh, dan kini menjadi semakin menusuk setelah hujan turun.
Di hari Sabtu ini, tentu saja Supra meluangkan waktu untuk menikmati susu coklat buatan Taufan yang sudah disiapkan. Tubuhnya terbalut selimut, duduk santai di atas sofa sambil menonton televisi.
Supra mengembuskan napas pelan. Tak lama kemudian, ia menoleh ketika melihat Sopan masuk ke ruang tamu. Tanpa berkata apa pun, Sopan langsung duduk di samping kakaknya dan melilit selimutnya lebih rapat.
"Hahh.. kenapa bulan ini dingin sekali..?" lirih Sopan lelah, lalu tanpa izin mengambil gelas milik Supra dan meneguknya.
Supra mendelik kecil. "Sori dimana?"
"Masih tidur," jawab Sopan singkat. "Lalu, Ibunda mana? Tumben Ibunda tidak berisik di pagi hari?" gumamnya bingung.
Supra mengangkat kedua bahunya, acuh. "Nggak tau. Mungkin karena hari libur, Ibunda sengaja nge-bebasin kita?" Tebaknya, sambil membuka laptop.
Sopan menghela napas dan tersenyum tipis. Ia ikut melirik ke layar laptop Supra, tapi tatapannya terlihat kosong.
Sama halnya dengan tatapan Supra yang ikut kosong, mengetahui Ibunda nya yang tiada hari tanpa kegaduhan itu terdengar sangat langka membuatnya gelisah sendiri.
'.. Tumben sekali Ibunda tidak jahil..?' batin Sopan, sedikit khawatir kalau ada apa-apa lagi. Ia menggeleng pelan, memaksa dirinya untuk berpikir positif sebelum kembali menonton televisi.
'.. Ahh, mungkin Ibunda sedang lelah sejak misi kemarin.'
'.. Mungkin karena si Dedek kembarnya mau tidur aja.'
Batin mereka dengan serempak, dan anggukan kecil.
⚠️🔞 PERINGATAN 🔞⚠️
Suara halus derit kasur terdengar dari dalam kamar luas yang kedap suara. Beberapa pakaian berserakan di lantai, lampu meja nakas menyala terang, sementara jendela tetap tertutup rapat membiarkan dua orang di dalam kamar itu tenggelam sepenuhnya dalam kebersamaan mereka tanpa ada gangguan dari luar.
"Ahh.. ahh.. oh—! Uhhh.. Bangh.. ud– aghh!! Udahh!!" Rengek Taufan menggeleng kuat dari tempat tidurnya, kedua tangannya tampak menahan perut Halilintar untuk berhenti meskipun ia tahu itu merupakan tindakan yang sia-sia.
P'lok!
P'lok!
Thusrt!
P'lok!
"Emnhh.. Ufanhh.. Ufannh.." bisik Halilintar dengan suara nya yang semakin berat, menunduk untuk kembali menciumi leher yang sudah penuh bercak biru maupun ungu.
Cup! Cup! Cup!
"Hahh.." desah Halilintar mendongak, merasakan betapa nikmatnya bercinta dengan seseorang yang sangat ia cintai. Terlebih lagi, mereka sudah jarang sekali bercinta mengingat Halilintar selalu sibuk dan Taufan yang bisa dibilang tidak terlalu peduli tentang hubungan seksual.
Toh, berpasangan juga tidak semestinya berhubungan seksual setiap seminggu sekali atau lebih, kan?
"Banghh.. nggh, ahh! Oh! Ashh!!" Desah Taufan lagi, tubuhnya sudah benar-benar lelah dengan kenikmatan yang tiada tara ini. Meskipun sakit, tetapi Taufan tidak bisa mengelak jika rasanya juga sangat nikmat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
