14. Hug, and too much!

24.9K 750 773
                                        


↷✦; w e l c o m e ❞

Sinar matahari pagi masuk dari celah tirai kamar, menyilaukan kelopak mata Taufan yang masih setengah tertutup. Ia mengerang pelan, memegang kepalanya yang terasa berat.

"Aduh.. kepala gua kayak habis digebuk kulkas," gumamnya.

Tapi belum sempat dia bisa menikmati detik-detik bangun itu, suara berat dan tajam langsung menyambutnya dari sisi kamar.

"Kamu sudah gila, ya?! Ke tempat menjijikan itu lagi?!" Sembur Halilintar, seakan ia masih tak puas untuk memarahi Taufan lewat telfon yang pasti hanya di balas oleh kekehan atau tawa'an yang membuat nya kesal sendiri.

Taufan sontak membelalak. "W-woah, b–bentar! Kepala gua masih muter, Bang! Bang Hal—"

"Tidak ada 'Bang Hali', lagi! Kenapa ke tempat itu lagi sih? Kau tahu? Saat kita telfonan kemarin aku benar-benar ingin memarahi lebih jauh, Taufan!" Bentak Halilintar, tetapi tangannya mulai mengusap leher Taufan, memberikannya sebuah pijatan dan obat hangat yang biasanya dipakai Nenek moyang mereka. "Tetapi aku tidak bisa karena masih ada anak-anak!"

Taufan memutar bola matanya, lalu menunduk dalam. "Kan gua udah bilang buat kerjain urusan gua..?" Lirihnya, dan sedikit mendesis ketika pijatan itu menekan lehernya kuat dengan amarah Halilintar yang kembali keluar.

"Tck! Ngurusin urusan tapi ketemuan nya ditempat seperti itu. Dan, asal kau tahu, Taufan. Aku bisa membantu urusan mu dengan lebih mudah berpuluh-puluh lipat dibandingkan dengan teman aneh mu itu yang bekerja di dalam bar dan memuaskan pria ataupun wanita bejat disana!" Katanya dengan suara yang meninggi lagi dan dalam satu tarikan nafas.

Taufan meringis, menyentuh leher nya yang masih nyut-nyutan karena pijatan Halilintar yang masih berlanjut ke keningnya. "Aduh, Bang.. jangan sembur gua pake omelin lu, dong.. sembur gua pake sperma lu aja nanti.."

"TAUFANNN!"

"EHHH!! ADUH! ADUH! IYAA! AMPUN!!" Mohon Taufan ketika keningnya di tekan dan ditangkup dengan jari-jari Halilintar yang besar dan panjang itu. Sampai dengan mudah menangkup keningnya, menggunakan dua jari saja yang sebelumnya dipakai untuk memijat keningnya.

"Aduhh.. pelan, Bang.." rengek Taufan mengerang kesal. "Baru juga bangun, kasih makan atau minum, kek!" Tambah nya protes.

Halilintar mendengus. "Ku sembur sperma nya nanti saja, dan makanan ada di meja nakas, ya. Sekarang, jelaskan. Dari awal sampai akhir, dan disaat kamu bilang kalau kamu itu habis mengalami kejadian aneh." Tuntut Halilintar.

Taufan menaikkan sebelah alisnya. "Emang gua sebelum nya ngomong kalau gua mengalami kejadian aneh, kah..?"

"Jangan berusaha untuk menghindar." Balas Halilintar tajam.

Taufan mendengus disaat itu juga. "Cuman mastiin, ya!" Seru nya tak terima. "Oke, awalnya gua pergi jogging ke komplek sebelah, bareng Ibu-ibu sama bocil kematian. Tau, kan? Komplek nya Pak Hadast? Ketua komplek disana yang penuh sama bocil skibidi, bocil sigma, sama bocil brainrot yang kagak jelas itu?"

"Tidak." Jawab Halilintar cepat.

"HAH?!" Taufan terperanjat. "Yang bener lu kagak tau kompleknya? Itu jelas-jelas deket mansion lu, anjir!" Kata nya masih terkejut.

"Disebelah mana, Taufan?" Tanya Halilintar perlahan. "Dan apa itu bocil skibidi? Bocil sigma? Bocil brainrot? Apa yang ku lewatkan selama hidup?"

Taufan merotasikan kedua matanya jengah. "Lu kayak orang purba pas jaman Nenek Moyang pertama kita lahir, Bang. Bersosialisasi sama komplek sebelah, sana! Dijamin, elu langsung di deketin sama Ibu-ibu gara-gara tampang lu yang kelewatan tampan spek bule!" Serunya diakhir, sambil terkekeh geli.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang