↷✦; w e l c o m e ❞
Suara langkah sepatu yang berat terdengar makin mendekat, menggema di lorong sempit yang penuh dengan kabel berantakan dan bau besi tua. Lampu-lampu gantung yang berkedap-kedip menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, membuat suasana jadi makin menegangkan.
Taufan menahan napas. Punggungnya menempel rapat ke tembok, tubuhnya menyempil di balik celah sempit antara dua panel logam.
Nafasnya cepat dan panas, menekan masker hitam yang dikenakannya. Jaketnya sudah setengah terbuka, memperlihatkan kaus tipis yang basah oleh keringat.
Tangannya yang bergetar pelan meraih walkie talkie dari saku belakang celana.
"Lu dimana, sat? Keburu ketauan ni gua!" Bisiknya cepat dan tajam, pelipisnya berdenyut karena tegang.
Suara Maripos terdengar malas, seperti orang yang masih sambil duduk nyemil, "Sabar goblok! Baru sembilan puluh delapan persen. Dikit lagi. Lagian disini kayak kagak dijagain, cok. Aman."
"Aman pala lu," desis Taufan seraya melirik ke lorong sebelah. "Gua tadi dikejar. Sumpah, tuh orang hampir nyamber gua! Untung ada sapu di deket pintu. Gua tabok pala dia sampe nyungsep!"
Terdengar suara cekikikan kecil dari walkie talkie, suara Maripos yang jelas banget lagi nahan ketawa, "Lu nge-bunuh orang pake sapu?!"
"Bukan nge-bunuh! Gua cuma tabok. Dia pingsan, paling nggak seminggu baru bangun," gumam Taufan sinis, sambil geser sedikit tubuhnya untuk bisa ngintip situasi lorong.
Tapi saat ia bergerak, sebuah suara—kreeekk—terdengar dari bawah sepatunya yang menginjak serpihan besi kecil. Taufan langsung mematung. Suara langkah berat yang tadi sempat menjauh, kini terhenti.
"Holy—" bisiknya hampir tak terdengar.
Walkie talkie-nya langsung berbunyi lagi, suara Maripos masih di sana, tapi kini sedikit panik, "Oke, oke! Udah seratus persen! Data gua dapet semua. Cabut sekarang! Pintu evakuasi di titik barat, lu belok kanan dua kali, terus kiri. Di sana udah gua buka!"
Taufan menghela napas cepat, mencabut walkie talkie-nya, dan bersiap kabur.
"Lu tunggu gua di luar. Kalau gua ketangkep, bilangin ke anak-anak kalau gua nggak nyesel pernah jadi kriminal."
"Taufan, lu dramatis banget, tai."
Taufan mencibir sambil melompat keluar dari celah sempit. Langkahnya cepat, bayangannya melesat di antara kegelapan lorong dan misi penyusupan yang baru saja dimulai itu.
Taufan terus berlari menyusuri lorong panjang yang remang. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat matanya menangkap segerombolan penjaga dari arah depan. Refleks, ia langsung menyelinap masuk ke balik rak tua yang tersandar di tembok dan menahan napasnya sekuat mungkin.
Suara langkah itu mendekat dan tak lama kemudian mulai menjauh. Setelah merasa aman, Taufan kembali keluar dan mulai berlari lagi. Tapi baru beberapa langkah, kepalanya mendadak berdenyut hebat. Ia mengerang pelan, dan menghentikan langkahnya sambil memegang kepalanya.
Dan Taufan terdiam selama beberapa menit ditempatnya sampai membuat rekan kerjanya sadar.
"Taufan? Lu kenapa? Lu diem aja dari tadi!" Suara Maripos terdengar dari walkie-talkie, karena ia dapat mengetahui dimana posisi Taufan berada melalui walkie talkie yang sengaja ia pasang pelacak mengingat Taufan suka berkeliaran dan tidak mengikuti perintahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Storie d'Amore[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
