10. Kebablasan

10.9K 589 225
                                        


↷✦; w e l c o m e ❞

Keesokan harinya, Taufan kembali bersiap untuk bekerja seperti biasa. Tapi bukan sebagai pengasuh hari ini, melainkan di sebuah tempat Kafe yang entah kenapa ada makanan dan minuman seperti dagangan di pinggir jalan.

Ia sudah berganti baju dengan sangat rapi, dengan rambut disisir seadanya. Dan, saat ia baru saja mengenakan sepatu ketika tiga buntut itu sudah berdiri di ambang pintu. Seolah mereka penjaga gerbang kerajaan yang menolak rajanya pergi.

"Ama ndak oyeh elja! (Mama enggak boleh kerja!)" Seru Sori sambil menyodorkan tangan kecilnya, menghalangi jalan.

"Hmm, kalau begitu apakah kami boleh ikut dengan Ibunda saja sampai pulang?" Timpal Sopan, nadanya terdengar terlalu santai, bahkan saat reaksi yang ia dapat adalah wajah Taufan yang langsung menganga, Sopan tetap tenang.

Sementara Supra tidak banyak bicara, tapi cara dia berdiri di tengah dengan tangan dilipat sudah cukup untuk menunjukkan sikap seriusnya. Tatapan matanya pun tajam, penuh protes dalam diam.

Taufan terdiam sejenak, menatap mereka bertiga. Tampak nya sudah mengeluarkan senjata masing-masing mereka berupa sebuah rengekan, tatapan tajam, bahkan sampai ransel kecil mereka yang sudah terpasang dipunggung.

"Anak-anak.." ucap Taufan pelan, mencoba sabar. "Kalian gak boleh ikut, apalagi kalo gua enggak kerja buat ngasuh kalian. Gak semua tempat kerja bisa bawa anak kecil, ngerti?"

Ketiganya terdiam. Tidak ada yang menjawab, tapi juga tidak ada yang bergerak dari tempat mereka.

Taufan mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Ya ampun. Ditinggal kerja sebentar saja dramanya sudah kayak sinetron.

"Yaudah, kalau begitu kalian tunggu aja disini. Tapi jangan nakal, ya? Kalau gua pulang terus kalian tidur larut, liat aja! Gua potong biji lu satu-satu." Ancam Taufan dengan nada tegas nya.

Meski begitu, hatinya mencelos juga. Bukan karena marah, tapi karena merasa tidak enak hati sudah membuat ketiga buntut nya ngambek dengannya dan pergi begitu saja setelah memberikan sebuah pelukan di sela-sela ngambek mereka.

Dan di sinilah sekarang. Taufan duduk diam di balik meja kasir, dagunya sedikit bersandar di punggung tangan. Pandangannya menembus kaca pintu yang transparan, mengikuti lalu lalang kendaraan di luar. Motor dan mobil saling bersilang arah, seperti tak ada urusan dengan dunia kecil tempatnya duduk sekarang.

Ia menghela napas pelan. Pandangan kosong, pikirannya melayang entah ke mana. Suasana toko tak terlalu ramai, dan ini kesempatan bagus untuk sekadar diam.

Tiba-tiba, bahu kanannya terasa lebih berat dari yang kiri. Ada sesuatu—atau seseorang—yang bersandar ringan.

Dengan malas, Taufan menoleh ke belakang. Kepalanya bergerak pelan, sebelah alis terangkat. Raut wajahnya jelas-jelas bertanya tanpa suara— 'Kenape?'

"Gantian. Seperti biasa, Fan," suara temannya terdengar datar, mungkin karena pekerjaan nya sudah membosankan.

"Ohh.. oke, gua yang istirahat nih?" Taufan membalas sambil ngangguk kecil.

"Hah? Lu kagak mau istirahat, nih? Baguslah! Lanjutin, gua istirahat la—" Ucapannya terpotong begitu saja ketika Taufan langsung nyela tanpa nunggu dia selesai.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang