6. Just interesting?

8.2K 625 179
                                        


↷✦; w e l c o m e ❞

Hari pertama Taufan bekerja menjadi pengasuh pun akhirnya terjadi di hari ini. Ia sudah bilang ke asisten yang dipercayai di rumah—mansion—ini. Siapa lagi kalau bukan Fang? Sebelum Fang pulang, Taufan sempat meminta nomor kontaknya agar mereka dapat bertukar pesan dengan mudah.

Ya.. meskipun ponsel nya sangat jadul di zaman yang penuh dengan teknologi baru. Taufan sebenarnya ingin membeli nya, dan merasa sedikit malu jika ia memakai ponsel ini terus. Tetapi, karena bayaran, keseharian untuk makan dan lain sebagai nya lah yang membuat Taufan enggan untuk membeli ponsel.

Taufan selalu berpikir— "Ah, ponsel bisa beli nanti. Sate Padang dulu, dah!" Sampai sekarang ponsel yang ia idam-idamkan itu masih tidak dapat Taufan beli. Disisi lain, Taufan sebenarnya tidak memerlukan ponsel baru, selama ponsel itu masih bisa hidup meskipun ada retak dikit itu sudah cukup bagi Taufan.

Dan hari ini adalah hari di mana Taufan harus tinggal selama ia menjadi pengasuh di sini. Meskipun ia harus merelakan kosan yang sempit itu, tetapi kosan itu berhasil membuat Taufan nyaman meskipun kosan nya akan terbengkalai. Ahh.. ia harap ruang jahit nya tidak ada yang rusak sampai ia kembali.

Eh, emang harus, ya? Kalau pengasuh itu harus tinggal di rumah majikannya? Sebenarnya, Taufan sudah bertanya ke Fang, kenapa dia langsung tinggal disana. Sementara, diri nya ini belum di terima pekerjaan ini.

Fang sempat tertawa kecil ketika mendengar cerita Taufan soal syarat diterima atau tidaknya menjadi pengasuh.

Ia bersandar di dinding, menyilangkan tangan sambil menggeleng pelan, dengan ponsel yang menempel di daun telinga nya. "Memang seperti itu, bos kita," ucapnya, nada suaranya ringan tapi jelas. "Dia suka banget ngetes orang. Bukan karena dia kejam, tapi karena dia pengen lihat seberapa jauh orang itu serius dan bisa diandalkan."

Taufan saat sedang bertelefon dengan Fang, dalam kondisi duduk di ujung sofa hanya bisa melongo, masih bingung sendiri. Fang lalu melanjutkan, "Waktu dia bilang soal 'sejak kapan aku terima kamu' atau tantangan sehari itu.. itu cuma gertakan. Bos sebenernya udah memutuskan kalau kamu diterima sejak awal. Cuma ya, dia nggak gampang ngomong langsung."

Taufan memiringkan kepalanya, "Terus kenapa harus kayak gitu?"

Fang terkekeh, "Ya itu, sifatnya. Dia bukan tipe orang yang bisa langsung bilang 'selamat datang di tempat kami, mohon kerja samanya'. Dia lebih suka lihat reaksi orang dulu. Kalau kamu langsung nyerah cuma karena satu kalimat dari dia, ya artinya kamu nggak cukup kuat buat jaga anak-anaknya."

Taufan mendengus pelan, setengah lega setengah gemas. "Serius, nih? Gua dari tadi di kerjain?"

Fang mengangkat bahu, masih tersenyum. "Anggap aja ujian masuk. Lagian, kamu lulus, kan? Dan maaf, bos ku memang seperti itu. Semoga kamu betah bekerja ditempat kami ya, Taufan. Dimohon kerja sama nya untuk mengasuh ketiga anak nya si Gledek."

Taufan menghela nafas panjang ketika mengingat hal tersebut. Ahh.. sial, membuat Taufan kesal saja.

"Selamat datang, Taufan," ucap suara itu dari samping, membuat Taufan sedikit terkejut. Ia langsung menoleh dan mendapati Fang berdiri di dekat pintu, senyum santainya seperti biasa.

"Oh, pagi, Bang," balas Taufan dengan senyum kecil.

"Sudah jadwalkan ulang pekerjaanmu? Yang di kafe, itu?" Tanya Fang sambil mempersilakan nya masuk ke dalam mansion. "Sebelum itu, gak usah pake bahasa formal, ya? Kita santai aja."

Taufan mengangguk cepat dan melangkah masuk, disusul oleh Fang yang menutup pintu—walaupun pintu itu terbuka dan tertutup secara otomatis—lalu menyesuaikan langkahnya.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang