15. Rusuh terus

12.3K 570 236
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Pagi pun datang perlahan, menyusup lewat celah gorden yang belum tertutup rapat. Cahaya matahari tipis menimpa sebagian permukaan kasur, menghangatkan udara kamar yang masih sunyi.

Halilintar tampaknya sedang berdiri di depan cermin, merapikan kemeja yang baru ia kenakan. Satu tangan sibuk mengancing bagian atas, sementara tangan lainnya menyisir rambutnya dengan jari. Langkah-langkahnya pelan, seolah berusaha tak menimbulkan suara.

Di belakangnya, di atas ranjang yang masih berantakan, Taufan tampak masih terlelap dalam mimpi indahnya. Selimut menutupi tubuhnya hingga ke dagu, posisi tidurnya agak miring dengan satu tangan menjulur keluar dari selimut.

Lalu—

"Ng.. ini.. ini buat.. apa.. kabel.. hijau.."

Suara igauan itu muncul tiba-tiba, pelan namun jelas di telinga Halilintar.

Ia berhenti mengancing kemejanya, menoleh ke arah ranjang dengan alis yang langsung terangkat.

Taufan mengerutkan kening dalam tidurnya, bibirnya bergerak-gerak tanpa sadar. "Kabelnya.. kenapa.. berubah.. jadi.. warna merah.."

Halilintar mendengus geli. Senyum kecil terbit di wajahnya, dan ia menggeleng pelan. "Mengigau, ya?" Gumamnya sambil kembali membenarkan kerah kemejanya.

Sebelum kembali fokus ke pekerjaannya, ia menyempatkan diri berjalan pelan ke sisi ranjang. Ia menatap wajah Taufan yang masih tenang dalam tidur, lalu membungkuk sedikit dan mengecup keningnya lembut.

Ia kemudian menatap tubuh Taufan yang masih terlelap dengan tatapan lembut namun penuh niat tersembunyi. Dengan pelan, ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh itu, membiarkan udara pagi menyentuh kulit hangat Taufan yang masih dalam posisi tidur menyamping.

Kini tubuh sang empu terbuka di hadapannya, terlindungi hanya oleh posisi tidur dan cahaya yang masih samar. Halilintar perlahan merunduk, mengecup perut Taufan dengan sangat pelan dan lembut. Menciumi perut itu secara bertubi-tubi, namun terlihat tidak tergesa.

Taufan menggeliat kecil. Alisnya tampak berkerut, dan napasnya berubah lebih berat. Kedua matanya mulai terbuka perlahan, sedikit silau karena cahaya pagi, tetapi dengan cepat pandangannya langsung mengarah ke bawah.

Tatapannya bertemu dengan kepala Halilintar yang masih tenggelam di perutnya, menciumi kulitnya seakan tak ingin berhenti.

"Bang..? Lu kenapa? Anomali, banget?" Gumamnya pelan, suara serak karena baru bangun.

Mendengar suara itu, Halilintar berhenti sejenak. Ia mendongak, matanya menatap langsung ke arah wajah sang empu. Ada senyum gemas di bibirnya, dan tanpa banyak pikir ia naikkan kepalanya lebih tinggi lalu mengecup bibir Taufan dengan cepat.

Taufan mengerang kesal, alisnya berkerut. "Ughh.. Bang.. apaan sih..?"

Tangan kirinya naik dan mendorong kepala Halilintar pelan tapi sedikit kuat, mencoba menjauhkan wajah jahil itu dari dirinya.

Taufan akhirnya memalingkan wajah, menyampingkan tubuhnya membelakangi Halilintar. "Gak usah bikin gua kesel pagi-pagi begini, ya." Gumamnya kesal, tetapi nadanya terdengar lebih berat.

Halilintar hanya tertawa kecil. "Lagian, kamu kalau tidur lucu banget? Jadi pengen aku cium, terus," jawabnya santai, tetap duduk di pinggir ranjang sambil menatap punggung Taufan dengan tatapan yang jelas belum puas untuk mengganggu sang kekasih.

"Anomali." Kata Taufan singkat, sebelum menarik selimut berwarna merah maroon itu untuk menutupi tubuhnya sampai leher.

Halilintar terkekeh.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang