9. They waiting for me?

9.7K 638 338
                                        


↷✦; w e l c o m e ❞

Tak terasa, beberapa minggu telah berlalu. Taufan menghela napas panjang saat menyadari betapa cepat waktu berlalu sejak hari pertama dia bekerja sebagai pengasuh di kediaman keluarga Thunderstrom. Pekerjaan yang awalnya terdengar mudah itu ternyata benar-benar menguras energi.

Setiap hari selalu ada saja kejadian yang membuatnya kewalahan. Terutama soal anak-anak itu. Mulai dari Sori, si buntut bungsu yang selalu penuh semangat, tapi sayangnya kurang koordinasi. Berapa kali sudah dia tersandung kakinya sendiri? Dan tiap kali jatuh, suaranya pasti menggelegar duluan sebelum tangisnya menyusul. Taufan bahkan sudah menyiapkan plester dan minyak kayu putih di saku celananya alias standby, hanya untuk Sori.

Belum lagi Sopan. Anak itu ternyata mempunyai obsesi tersendiri terhadap makanan manis. Apalagi Milo. Milo milik Taufan yang sengaja disembunyikan di bagian belakang lemari dapur—supaya aman dan tidak diembat siapa-siapa—pun tetap ketahuan.

Dan siapa pelakunya?

Sopan.

Dengan polosnya si anak itu bilang, "Kan Ibunda juga suka Milo, jadi kita samaan. Tidak boleh pelit, Ibunda~" Masalahnya? Kalau ditolak, Sopan pasti muncul lagi. Dengan jurus baru.

Entah tiba-tiba manja sambil nempel kayak permen karet, entah pura-pura nangis, atau yang paling ekstrem yaitu dengan membawa gambar hasil coretan yang isinya 'Anak ini sayang dengan Ibunda, maka dari itu jangan pelit buat kasih Milo, ya!' lengkap dengan gambar hati dan senyum lebarnya.

Taufan hanya bisa mendesah pelan tiap kali kalah dalam pertarungan kecil itu.

Dan jangan lupakan dengan buntut sulung nya, yaitu Supra.

Anak yang paling tenang, paling kalem, paling anak baik-baik. Tapi suatu hari, kejadian luar biasa bikin Taufan hampir lempar diri dari balkon.

Supra ketahuan sedang membaca buku. Tapi bukan sembarang buku. Bukan ensiklopedia atau novel anak-anak. Buku itu adalah buku yang sangat tidak layak dibaca oleh anak SD kelas tiga!

Buku dewasa. Ya, benar.

Dan lebih parahnya lagi itu buku milik Taufan sendiri. Buku yang sengaja ia bawa dari kosan nya, karena— yah, disisi lain juga karena Maripos yang memaksa. Katanya "Lu perlu hiburan. Hidup lu monoton banget."

Taufan cuma bisa nurut. Tapi dia juga sadar diri, jadi bukunya disumpetin. Di tempat yang menurutnya aman banget.

Tapi ternyata tidak ada tempat aman di dunia ini kalau yang dicari adalah oleh anak-anak. Entah Supra menemukannya bagaimana, tapi Taufan pernah liat saat dia duduk santai di sofa ruang tengah, membaca buku itu dengan ekspresi super serius kayak lagi ngerjain soal ujian.

Wajah Taufan langsung pucat saat melihat judulnya dari jauh. "Kakk?! Lu baca apaan, anjir?!" Teriaknya panik.

Supra mengangkat kepalanya dengan pelan. "Ada apa, Ibunda? Ahh.. apakah buku ini berisi tentang sebuah percintaan?"

Untung saja belum sampai di bagian tengah. Kalau iya, tamat riwayat nya sudah.

Sejak saat itu, Taufan selalu menyimpan buku itu di atas lemari. Ya, tempat paling tinggi, bahkan lebih tinggi dari harga dirinya sendiri. Dan jangan lupakan dengan Milo juga yang ikut dipindahin ke sana.

Prioritas, soalnya. Taufan punya ritual penting tiap malam. Saat anak-anak sudah tidur, dia bakal baca atau main ponsel sambil nyendok bubuk Milo kayak ngemil permen. Tanpa diseduh.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang