↷✦; w e l c o m e ❞
Di belakang mansion, di area yang lebih tenang dan tersembunyi dari hiruk-pikuk utama, terdapat barisan kamar sederhana untuk para pembantu dan bodyguard.
Di salah satu ruang tamunya yang mungil namun hangat, Taufan duduk santai di atas sofa empuk. Sebuah mug berisi teh hangat bertengger manis di tangannya, uapnya masih mengepul pelan. Ia sedang jam istirahat, dan suasana sepi membuatnya ingin mendengar sesuatu yang bisa mengisi kekosongan waktu.
"Bibi Mayen," ucap Taufan dengan suara setengah malas namun tetap penasaran. "Boleh tolong ceritain, kenapa tu dua buntut bisa jatuh sakit secara barengan?"
Bibi Mayen, yang sedang duduk tidak jauh dari situ, sedikit menghela napas, tampak siap menjawab namun masih menimbang kata-katanya. Sebelum ia sempat bicara, Taufan menambahkan, seperti tanpa beban, "Oh ya, tadi Ufan udah tidurin Supra di tempat tidur. Dia udah tenang sekarang." Ia melirik mug nya sebentar, lalu lanjut, "Sopan tadi pas Ufan liat juga kayak nya masih mimpi indah. Jadi, Ufan biarin aja."
"Jadi Bibi, kenapa mereka bisa sakit barengan begitu?" Tanya Taufan sekali lagi.
Bibi Mayen terdiam sejenak lalu membuka suara. "Hnn.. sedikit susah Nak kalau Bibi ceritain," balasnya.
"Ceritain aja Bibi, gapapa," sahut Taufan membuat Bibi Mayen mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
Bibi Mayen duduk tegak, tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tampak serius, nada suaranya pelan tapi jelas. "Tuan muda Sopan udah sakit lama sekali. Yang khawatirkan itu, Tuan muda Sopan tampak terkena serangan panik setiap beberapa jam. Jadi—"
"Hah? Kok bisa?" Taufan langsung memotong, nadanya kaget, hampir panik sendiri. Ia menurunkan gelas tehnya ke meja, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata menatap Bibi Mayen dengan tajam.
Bibi Mayen menatap mata Taufan beberapa detik sebelum bicara lagi. "Itu terjadi saat Tuan muda Sopan di temukan setelah hilang beberapa hari dengan seseorang. Sejak hari itu, Tuan muda Sopan jadi lebih sering rewel dan susah tidur saat di rumah sakit maupun pulang nya. Kadang-kadang juga dia suka terbangun tengah malam sambil sesenggukan, seperti mencari seseorang sambil panggil-panggil nama yang tidak kami kenal."
Suara Bibi Mayen menurun, penuh iba. "Dia terus nanya,'Ibunda ke mana?', 'Ibunda marah ya, sama Sopan?', 'Ibunda tidak mau Sopan lagi?' dan Bibi nggak bisa bohong. Sejak itu, tiap beberapa jam dia suka kayak gelisah, nafasnya cepat, badannya gemeteran. Saya coba peluk, tapi nggak selalu berhasil nenangin. Sementara kami tidak tau siapa yang dia maksud dengan 'Ibunda'."
Ia mengusap bajunya sendiri dengan pelan, seperti merasa bersalah. "Bibi awal nya berpikir, mungkin Tuan muda Sopan cuma kangen biasa sama orang yang dia panggil 'Ibunda', itu. Tapi makin lama, Bibi sadar kalau itu sebuah ketakutan."
Taufan menunduk perlahan, dadanya seperti ditekan dari dalam. 'Is it because of me..?' batin nya ketika mendengar cerita tersebut, sambil mengusap wajah nya dengan gusar. ".. Kaya gimana keadaan Sopan sekarang, Bibi?" Tanya nya di akhir.
Bibi Mayen tampak tersenyum sebelum menggeleng pelan. "Sayang sekali Tuan muda Sopan sampai sekarang belum sembuh. Dia mungkin beberapa menit lagi akan kambuh lagi, hah.. Tuan besar juga tampak menyalahkan diri nya sendiri karena telah membuat anak seperti itu."
Taufan mengangguk, sebelum mengingat kembali apa yang di ucapkan Bibi Mayen tentang Sopan. "Tunggu—! Beberapa menit lagi Sopan kambuh..?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
