↷✦; w e l c o m e ❞
Di ruang observasi rumah sakit, suara detak jam dinding terdengar lembut. Halilintar berdiri bersandar di dinding, matanya menatap ke luar jendela, tapi pikirannya tak di sana. Dokter yang tadi baru saja memeriksa Sopan yang kesekian kali nya melangkah pelan ke arahnya sambil memegang tablet data medis.
"Permisi, Tuan Halilintar?" Sapa dokter itu pelan, sopan.
Halilintar menoleh, wajahnya datar tapi matanya sedikit sayu. "Ada hasilnya?"
Dokter itu mengangguk pelan, lalu menunjukkan beberapa grafik di tabletnya. "Secara fisik, Tuan Muda Sopan masih dalam kondisi stabil. Tidak ada luka atau kerusakan yang membahayakan. Namun, dari segi mental dan emosional, kondisinya bisa saya bilang cukup kompleks."
Halilintar mengerutkan alis. "Jelaskan."
"Sopan mengalami trauma emosional yang cukup dalam," ujar sang dokter hati-hati. "Ia terlihat sangat terikat pada seseorang yang ia sebut 'Ibunda', kami mencocokkan dengan beberapa data yang tersisa saat serangan panik terjadi. Nama itu selalu disebut. Diselipkan dengan kata 'Ibunda' saat dia menyebutkan nama itu."
"Dan..?" Suara Halilintar terdengar berat.
"Setiap beberapa jam, tubuhnya akan otomatis merasa cemas, gelisah, seperti mencari sesuatu. Lebih tepatnya mencari seseorang. Serangan panik itu muncul karena rasa kehilangan yang sangat besar. Dan dari yang kami pelajari—"
Dokter menatap Halilintar dengan serius.
"—Orang yang bernama Taufan itu sangat berpengaruh pada kestabilan emosi Sopan. Sopan tampaknya membentuk ikatan emosional yang sangat dalam dengannya, layaknya seorang anak terhadap Ibu kandungnya."
Halilintar menunduk pelan. Rahangnya mengeras. "Jadi.. maksud Anda—?"
"Sopan tidak benar-benar sakit," bisik dokter itu pelan. "Ia hanya.. merindukan rumah. Dan dalam benaknya, rumah itu bukan tempat, tetapi seseorang."
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
Sudah genap satu bulan sejak pertemuan terakhirnya dengan bocah kecil itu, bocah yang bernama Sopan, yang pernah menghiasi harinya. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, namun juga terasa lambat saat dirasakan sendiri.
Taufan menatap kosong ke luar jendela, menyandarkan dagunya di lengan yang terlipat di tepi kusen. Bayangan Sopan muncul begitu saja di benaknya, lengkap dengan senyum polos dan celotehan khasnya yang kadang bikin pengin ketawa, kadang bikin pengin mukul tembok.
Ia menghela napas, panjang dan berat. "Sudah sebulan, ya..?"
Ia selalu berharap—selalu—bahwa entah lewat cara apa, mereka bisa bertemu kembali. Mungkin di jalan, mungkin di halte bus yang sama, atau bahkan lewat pertemuan tak sengaja di warung dekat kosan. Tapi, sampai sekarang tak ada kabar. Tak ada tanda.
Dan pada akhirnya, mau bagaimana lagi?
Kalau takdir berkata lain, Taufan tak bisa memaksakan. Ia bukan siapa-siapa. Bukan keluarga, bukan siapa pun yang bisa dengan bebas mengetuk pintu.
Ia hanya bisa menerima.
Menyesakkan sejujur nya, tetapi begitulah hidup. Ia mengikuti arah jalan yang telah ditentukan, meskipun jalannya kini terasa hampa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romansa[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
