↷✦; w e l c o m e ❞
Beberapa minggu pun berlalu. Matahari perlahan mulai naik dari sisi timur, sinarnya menembus kaca jendela kamar milik ketiga buntut yang masih tertidur.
Cahaya itu mengenai wajah salah satu dari mereka, membuatnya menggeliat kecil dengan raut tidak senang. Ia lalu menarik selimutnya sampai menutupi kepala, berusaha menghindar dari sinar pagi yang mengganggu.
Meski dari luar kamar terdengar suara berisik-entah suara panci, suara langkah, atau suara air-ketiga buntut itu tetap tidak bergeming. Tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda ingin bangun. Justru sebaliknya, mereka semakin menyelipkan diri lebih dalam ke pelukan kasur yang hangat.
Sehingga—
Krek!
Pintu kamar pun terbuka.
Taufan muncul di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, menunjukkan bahwa ia baru saja selesai mandi. Ia sedang mengenakan pakaian sederhana, yaitu kaos dan celana pendek.
Dan ini kali pertama nya Taufan mandi se-pagi ini. Biasanya? Ya, biasanya mandinya saat mau sore aja. Sekalian mandi pagi dan sore. Alias hanya mandi sekali sehari.
Srett!!
Kain hordeng pun dibuka, membuat sinar matahari masuk lebih dalam ke dalam kamar anak-anak. Sinar hangat itu menyebar ke seluruh ruangan, menyentuh wajah dan tubuh ketiga buntut yang masih lelap tertidur. Salah satu dari mereka menggeliat tidak enak, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi jendela, berusaha menghindari cahaya terang yang menyebalkan.
Taufan mendengus kecil, tangannya masih memegang kain hordeng yang kini sepenuhnya terbuka. Untung hari ini libur, jadi ia tidak perlu repot-repot membangunkan ketiganya terlalu pagi.
Namun, kakinya tetap melangkah pelan menuju si buntut yang sempat menggeliat dan membalikkan badan. Ia jongkok sedikit, lalu menggoyangkan tubuh kecil itu perlahan.
"Bangun.. udah pagi," serunya lembut sambil terus menggoyangkan tubuh sang empunya kasur.
Lenguhan kecil akhirnya terdengar dari kasur. Tubuh kecil itu perlahan meregang, menggeliat sebentar sebelum memiringkan kepala, menatap Taufan yang kini tengah menempatkan punggung tangannya di dahinya, memeriksa suhu tubuhnya.
"Masih pusing?" Tanyanya pelan.
Anak tersebut tampak mengangguk meskipun lemah.
Taufan langsung melipat alis, menghela napas pendek. "Jangan banyak belajar. Kalau belajar lagi gua bakar buku lu, ya. Serius."
Ancaman itu terdengar sepele, tapi nadanya jelas-jelas tidak main-main. Anak tersebut hanya mengangguk lagi, pasrah, tanpa membantah sepatah kata pun.
"Mnhh.."
Wajah anak itu terlihat sangat damai dalam tidurnya. Padahal, kalau sedang bangun, mukanya akan terlihat sangat- sangat datar, dan sangat susah ditebak seperti Ayah nya.
Taufan menghela napas, lalu berdiri pelan. Ia mengambil kain basah yang sudah tergeletak di meja nakas, yang memang sengaja sudah ia letakkan di sana sebelumnya agar ia tidak perlu bolak-balik ke bawah. Mana harus turun pakai tangga pula! Bikin pegel aja.
"Kenapa kagak ada lift sih," gumam Taufan dalam hati, sambil memeras kain itu sedikit.
Eh, atau.. ada ya? Ntahlah. Ia bahkan belum menjelajahi seluruh bagian Mansion ini. Jangankan menjelajah, ke ruang makan aja kadang masih suka nyasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
