21. Komplek sebelah

7.5K 467 236
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

"Jadi.. kalian mau ke mana? Kok udah siap begini?" Ujar Taufan, menatap ketiga buntut nya yang kini sudah berdiri di depan matanya dengan baju yang sudah rapi. Tetapi entah kenapa, bajunya terlihat begitu mewah di mata Taufan.

Ini adalah hari Minggu, dan tepat sekali Taufan memang berniat keluar untuk berjalan-jalan.

Namun, saat ia baru saja ingin keluar dengan baju yang sederhana, menikmati hembusan angin dan melihat sekelilingnya, tiba-tiba dari belakang ia mendengar suara yang begitu menggelegar, membuat kupingnya langsung berdenyut.

Ternyata, yang memanggilnya tadi adalah ketiga buntutnya yang kini telah memakai baju begitu mewah, namun tetap terlihat rapi dan lucu saat mereka memakainya.

Taufan terdiam, wajahnya menunjukkan keterkejutan. Yah.. begitulah, mengapa kini mereka berada tepat di depan pintu utama bersama nya.

"Ikut Ibunda tentu saja?" Seru Sopan sembari memeluk kaki Taufan dan menatapnya dengan kepala yang ia dongak kan ke atas.

"Kok?" Taufan memiringkan kepala sedikit.

"Ibunda mau keluar, kan?" Tanya Supra pelan, matanya menatap lurus ke arah Taufan.

Taufan mengangguk pelan tanpa berpikir panjang.

"Kalau begitu, ajak kami," lanjut Supra tenang.

Taufan langsung terkejut. "Lah? Siapa yang mau ngajak kalian kelu—"

Perkataannya terhenti begitu saja saat matanya menatap ketiga buntut yang kini berdiri di depannya sambil memasang wajah memelas. Bahkan, salah satu dari mereka berpura-pura sedih dengan cara mengerutkan alis dan menunduk pelan, membuat Taufan hanya bisa menghela napas panjang dengan lelah.

Mereka benar-benar dapat membuat Taufan lumpuh, dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menghela nafas di saat itu juga.

"Fine-fine. Kalian ikut," ucap Taufan akhirnya.

Terdengarlah sorakan ceria dari ketiga buntutnya.

"Kalau begitu, ayo kita keluar~" seruan Sopan langsung terhenti ketika sebuah tangan mencegat mereka bertiga yang hendak keluar dari pintu utama.

Ketiganya sontak menatap Taufan dengan tatapan heran.

"Dengan baju mewah gitu?" Ujar Taufan dengan alis terangkat sebelah. Ketiganya mengangguk polos.

"Really? Terlalu mewah anjir?" Lanjutnya, memandangi pakaian mereka dari atas sampai bawah.

"Apa? Ini menurut kami sederhana, Ibunda." Kata Sopan pelan, sembari menepuk-nepuk bajunya dan membersihkan bagian yang tak terlihat kotor.

"Menurut elu. Dan sederhana dari mana?! Itu baju kek mau pergi jalan-jalan ke tempat mewah!" Taufan membalas cepat, suaranya meninggi sedikit karena frustasi. "Ganti. Cepet. Mau keluar doang, cari udara segar, bukan mau ke mall."

Ia berdecak pelan, lalu melipat tangannya di dada. "Jangan bilang kalian nggak punya baju biasa?"

"Punya," jawab Sopan cepat. "Tapi bahannya menurut anak ini terlalu gatel. Jadi Sopan tidak suka, begitupula dengan Kak Supra dan Adek Sori."

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang