33. Taufan bingung

1.6K 184 95
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Di sebuah tempat yang masih diselimuti udara pagi, dan dingin tipis yang menggantung di sekeliling ruangan. Cahaya matahari belum sepenuhnya naik, hanya menyusup pelan lewat celah jendela membuat suasana terasa begitu sunyi dan tenang.

Taufan duduk di meja belajarnya, tubuhnya dibungkus jaket tipis. Sebuah laptop menyala di hadapannya, layar itu menampilkan wajahnya sendiri di sudut kecil, sementara beberapa kotak lain memperlihatkan rekan-rekan misinya yakni Maripos, Solar, dan Mala.

Di layar, Solar dan Maripos terlibat adu mulut ringan. Sebenarnya pertengkaran bodoh mereka tidak serius, lebih seperti saling sindir yang sudah biasa terjadi di antara mereka. Suara mereka saling tumpang tindih, membuat Taufan mendengus pelan.

Tangannya meraih gelas hangat, lalu meneguknya perlahan, membiarkan hangatnya minuman itu sedikit mengusir dingin pagi.

Maripos menyilangkan tangan di depan dada, menatap tajam ke arah layar Solar. "Gua masih nggak terima laporan misi kemarin diubah sepihak," katanya dingin.

Solar mendengus, sambil bersandar santai. "Emang kenapa? Itu cuma penyesuaian data. Kalau nggak diubah, kita semua yang kena, ya."

"Penyesuaian pala lu," balas Maripos cepat. "Lu nggak bilang apa-apa, tiba-tiba udah fix aja. Terus giliran ada yang nyalahin, nama gua yang disebut duluan."

Solar menyeringai tipis. "Ya, karena kamu koordinatornya. Masa aku yang maju?"

"Dasar manipulatif," geram Maripos berdecak malas.

Di sudut layar, Taufan mendengus pelan sambil mengangkat gelasnya. Membiarkan mereka berdua kembali berdebat seperti tidak ada tanda-tanda selesai ataupun ada yang mau mengalah, sampai salah satu dari mereka akhirnya membuka suara.

"Emm.. teman-teman? Bisa kita langsung ke inti kenapa pertemuan ini diadakan lewat komunikasi?" Ucap Mala tersenyum tipis.

Solar dan Maripos segera menghentikan perdebatan mereka.

Solar berdeham singkat. "Maaf."

Ia menekan beberapa perintah. Tampilan di layar berubah menjadi peta digital dengan beberapa penanda koordinat.

"Ini lokasi terakhir tempat flashdisk tersebut terdeteksi," kata Solar perlahan. "Sistem pelacakan hanya sempat menangkap sinyal singkat sebelum terputus sepenuhnya."

Ia memperbesar satu titik. "Secara kasat mata, lokasinya tidak mencurigakan. Alias area tersebut publik, aktivitas normal, tidak ada indikasi pengamanan khusus. Namun, masalahnya muncul saat data pergerakan dibandingkan dengan waktu."

Solar menampilkan tabel waktu dan jarak. "Flashdisk yang sama terdeteksi kembali di lokasi lain dengan selang waktu yang tidak memungkinkan untuk perpindahan fisik biasa. Jarak antar titik terlalu jauh, sementara tidak ada catatan transportasi, log akses, ataupun sinyal perantara."

Solar kembali berpindah ke beberapa penanda lain. "Pola ini berulang. Lokasinya berbeda-beda, tapi semuanya berada di area yang minim pengawasan langsung dan jarang diperiksa secara rutin."

Maripos menatap layar lebih saksama. "Jadi.. maksud lu benda itu sengaja dipindahkan?"

"Lebih tepatnya, sengaja diperlihatkan," jawab Solar. "Kalau tujuannya menyembunyikan data, mereka tidak akan membiarkan flashdisk itu terdeteksi sama sekali. Fakta bahwa sinyalnya muncul sebentar, lalu menghilang dan menunjukkan upaya untuk menarik perhatian."

Ia berhenti sejenak. "Dengan kata lain, flashdisk ini kemungkinan dijadikan umpan untuk memetakan siapa saja yang melacaknya dan seberapa cepat respon yang muncul."

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang