16. Wait.. your a what?

9.4K 513 253
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Sudah lebih dari tiga bulan Taufan bekerja di sini— uh.. maksudnya, di kediaman Halilintar, bukan di Lunapop atau pekerjan part time-nya itu, ya!

Dan kalian masih ingat kan, setiap sebulan sekali Taufan dapat gaji dari Halilintar? Sekitar.. uhh, entahlah berapa tepatnya. Tapi yang jelas, sekarang uangnya sudah terkumpul lebih dari ratusan juta.

Taufan sendiri sampai heran, mengapa ia bisa secepat itu mendapatkan sembilan digit pertamanya, dan hanya membutuhkan tiga bulan ini.

Tapi— Hey! Walaupun dia itu kekasih Halilintar, dia statusnya masih menjadi pengasuh anak-anak, oke? Masih bekerja, dan masih digaji!

Meskipun Halilintar selalu saja bilang atau menyuruh-nya untuk keluar saja dari pekerjaan nya, yaitu mengasuh anak-anaknya, dan menyuruh Taufan untuk menjadi Istrinya saja.

Aduh.. lidahnya licin banget, ya?

Taufan diposisi itu sempat terkejut. Matanya sedikit membelalak, tidak menyangka Halilintar akan mengucapkan kalimat itu lagi. Ya— sejujurnya Halilintar selalu berkata sebelum nya, kalau ia ingin Taufan menjadi Istrinya tetapi dirinya hanya men-cueki saja.

Mungkin karena.. Taufan masih belum siap? Atau ada hal lain yang membuatnya tidak bisa men-seriuskan perkataan Halilintar.

Dan Halilintar meskipun di beri harapan palsu oleh Taufan kembali berkata seperti ini. "Untuk apa kau menjadi kekasihku tetapi di sisi lain kau juga menjadi pengasuh di sini, Ufan? Jadilah istriku, saja!"

Nada suaranya terdengar serius. Dan Taufan tidak tahu ingin menjawab apa selain berdeham dan mengalihkan topik pembicaraan mereka. Ya.. ia jujur kok, kalau dirinya sangat jahat karena telah memplesetkan topik yang itu. Tetapi Taufan ada alasan-nya, oke..?

Dan karena uangnya yang sangat banyak itu, Taufan merasa sangat senang karena ia ingin memakainya cepat-cepat. Tetapi bukan untuk berfoya-foya, melainkan untuk membayar biaya rumah sakit sang ibu.

Ibunya akan bisa pulang sebulan kemudian.

Penyakit sang Ibu memang cukup parah. Selama ini, Taufan hanya bisa mencicil pembayarannya dan itu pun membuat biaya semakin membengkak, sementara kondisi ibunya pun ikut memburuk. Hal itu selalu membuat Taufan khawatir.

Tapi kali ini, tidak lagi. Semuanya sudah ia bayar, dan langsung lunas. Begitupula dengan operasi sang Ibu yang syukurnya berjalan dengan lancar.

Taufan menghela napas lega.
Sekarang tinggal menunggu sebulan ke depan, lalu ibunya bisa pulang. Hahh.. benar-benar melegakan hati Taufan.

Sekarang dirinya benar-benar berbeda dibandingkan dulu, yang nge-kos di kosan, makan yang ada aja, selalu meng-hemat dan ketika dapat gaji pun Taufan selalu memikirkan sang Ibu dibandingkan dirinya sendiri.

Tetapi sekarang sudah berbeda. Hahh.. memang benar, ya? Roda berputar pada porosnya itu benar-benar nyata.

Dan ia juga sempat berpikir, kalau dirinya keluar dari pekerjaan Halilintar yang sebagai pengasuh, apakah Halilintar masih mau menerimanya..?

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

Sinar matahari sudah mulai menaik sedari tadi, bahkan sekarang terasa sangat terik. Karena jam sudah menunjukkan pukul satu siang.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang