↷✦; w e l c o m e ❞
Suasana rumah—mansion—bisa dibilang cukup sepi. Anak-anak sedang tidur siang karena paksaan oleh Taufan, dan Halilintar tengah tampaknya sibuk di dapur untuk meredakan rasa gelisahnya karena mereka ingin kencan.
Jadi, Taufan mengambil waktu untuk masuk ke kamar mandi sendirian. Cermin yang sedikit berembun karena air hangat tadi masih menyisakan pantulan samar wajahnya.
Taufan berdiri di depan cermin, mengernyit melihat bayangannya sendiri. Perlahan ia mengangkat kaos lusuh yang ia kenakan, memperlihatkan bagian perutnya. Pandangannya terpaku pada sebuah tonjolan kecil yang tampak asing.
".. Kok aneh, ya?" Gumamnya pelan.
Ia menyentuh tonjolan itu dengan dua jarinya, lalu menekannya pelan. Sentuhan itu memunculkan rasa ngilu yang menjalar ringan, membuat Taufan meringis kecil dan menghela napas.
"Ini dalem nya tai semua, kah? Gua perasaan kemarin habis berak juga, dah?" Lirihnya dengan bingung, berbicara pada dirinya sendiri sambil mengusap pelan perutnya yang keras di bagian tengahnya itu.
Detik berikutnya, terdengar suara Halilintar dari luar kamar mandi, "Taufan! Apa kau masih di dalam kamar mandi? Film di bioskop nya akan mulai dua puluh lima menit, lagi!"
Sontak Taufan langsung menjatuhkan kaosnya kembali ke posisi semula, buru-buru meraih jaket yang tergantung di gantungan pintu.
"Iyaa, bentar Bang!" Sahutnya sambil menyambar jaket dan menyelinap keluar dari kamar mandi, berusaha mengabaikan rasa aneh yang masih membekas di perutnya barusan dan pergi menyusul ke arah Halilintar yang tampaknya sudah berjalan terlebih dahulu menuju bagasi mobil.
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
Sesampainya di mall terbesar di tempat mereka, Halilintar langsung membawa Taufan ke bioskop karena film akan dimulai sepuluh menit lagi.
Begitu sampai, antrian menuju pembayaran tiket terlihat cukup panjang karena film yang di tayang bulan ini cukup menarik. Apalagi, film yang beberapa orang tunggu-tunggu itu mulai tayang dilayar lebar.
Beberapa pasang mata menoleh tanpa sadar ke arah dua pria itu, meskipun ada yang hanya melirik sekilas, ada pula yang terang-terangan menatap mereka. Bukan hanya karena mereka bergandengan tangan dengan sikap sangat santai, tapi juga karena aura mereka berdua benar-benar memikat perhatian.
Halilintar yang berdiri tegak dengan ekspresi datarnya, tampak seperti seorang eksekutif muda atau model papan atas yang sedang turun ke bumi. Kaos dalam putihnya tersembunyi di balik kemeja merah tua yang terbuka separuh, dan jam tangan mewah di pergelangan tangan kirinya memantulkan cahaya lampu mall.
Meski gayanya terlihat simpel, tapi dari potongan pakaiannya yang rapi dan bahan kain yang jatuhnya elegan, orang-orang bisa menebak kalau semua yang dipakai itu mahal.
Sementara Taufan, dengan tubuh mungilnya yang kontras di samping Halilintar, justru menarik perhatian karena kesan kasual tapi berseni.
Celana pendek birunya jatuh sedikit longgar tapi pas di pinggang, memperlihatkan lututnya yang bersih dan jenjang. Kaos putih polos yang ia kenakan terlihat nyaman, dan jaket biru langit dengan list putih yang ia kenakan membuat penampilannya terlihat seperti idol remaja yang sedang liburan.
Taufan bahkan sempat semakin mendekatkan diri ke Halilintar ketika melihat seseorang melirik mereka terlalu lama.
"Bang.. mereka ngelihatin kita terus," bisik-nya lirih, bibirnya sedikit mendekat ke lengan Halilintar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
