32. Spoiled and Accident

4.3K 263 187
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

".. Tuan Muda Sori.. apakah kau yakin ingin berangkat sendiri?"

"Ri yakin!" Seru Sori, dada membusung penuh antusias. Tetapi, antusiasme itu cuma bertahan tiga detik sebelum wajahnya meredup drastis.

"Paman.. enapa Unda sama Yah lebih ilih ama Tak Upla dan Tak Opan..? (Paman.. kenapa Bunda sama Ayah lebih pilih sama Kak Supra dan Kak Sopan..?)" Gumamnya dengan bibir manyun.

Pria tua itu menahan tawa. "Sejak kapan? Bapak nggak merasa begitu, tuh," jawabnya yakin.

Sori terdiam, benar-benar tidak puas dengan jawaban yang menurutnya menggantung itu.

Paman itu berdeham pelan. "Dan Tuan Muda Sori.. setidaknya kasih tahu dulu pada kedua orang tuamu bahwa kau akan pergi jalan-jalan dari pihak sekolah. Bagaimana kalau mereka marah? Belum izin, kan?"

"Elum.. (Belum..)" Sori memeluk tas kecilnya. "Unda ama Yah ebih sibuk ama tatak-tatak Ri.. (Bunda sama Ayah lebih sibuk sama Kakak-kakak Sori..)"

Paman itu mendekat sedikit. "Sejak kapan?" Ulangnya lembut.

"Seling! Buktinya Ri alang apet sclin time di celita, ini! (Sering! Buktinya Sori jarang dapet screen time di cerita, ini!)" Seru Sori memprotes dengan suara sengau, seolah-olah dikhianati oleh alur buku.

Paman itu langsung merana disaat itu juga. "S–setidaknya Tuan muda Sori bilang ke—"

"Ndak au! (Enggak mau!)" Sela Sori dengan cepat. "Pokokna Ri ndak uka ama meleka mulai sekalang! Unda Ama Yah ilih kasih! (Pokoknya Sori enggak suka sama mereka mulai sekarang! Bunda sama Ayah pilih kasih!)" Serunya merengek diakhir.

Paman tersebut kembali merana.

─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───

Suara ketikan laptop terus terdengar dari dalam ruang kerja, ritmenya cepat dan tidak teratur. Sejumlah berkas menumpuk di atas meja, sebagian terbuka, sebagian lagi hanya ditumpuk begitu saja karena Halilintar sudah terlalu lelah untuk memilahnya.

Ia menghela napas panjang. Pekerjaan menumpuk, dan ia sadar betul kenapa, beberapa hari terakhir ia jauh lebih sibuk menuruti hasratnya daripada menyelesaikan dokumen-dokumen ini. Sebuah penyesalan kecil muncul di wajahnya, tapi tak ada waktu untuk menyesal lama.

Sampai akhirnya, pintu ruang kerjanya terbuka perlahan.

Tampak Taufan berdiri di ambang pintu, tubuhnya dibalut jaket oversize milik Halilintar. Jaket itu jelas kebesaran, hampir menelan tubuhnya, membuatnya terlihat semakin kecil dan menggemaskan.

Halilintar otomatis menaikkan sebelah alis. "Sejak kapan kamu pake jaket aku?" Tanyanya heran.

Taufan tidak menjawab. Diam di tempatnya selama beberapa detik, menatap Halilintar lama.

Kemudian tanpa berkata apapun, ia tiba-tiba melangkah mendekat.

Halilintar hendak membuka mulut, ingin bertanya lagi tetapi suaranya malah hilang begitu saja saat Taufan tiba-tiba duduk di pangkuannya.

Tubuh Halilintar refleks menegak di kursi. "Taufan..?" Lirihnya merona merah, pasalnya Taufan tidak pernah manja kepadanya. Apalagi secara tiba-tiba seperti ini.

"Hahh.." desah Taufan, kepalanya langsung bersandar di bahu Halilintar. Tubuhnya terasa begitu lemas, dan ia langsung menempel begitu saja di dada bidang sang empu. "Capek.."

Halilintar yang tadinya tegang langsung melunak. Tangannya secara otomatis terangkat dan mengusap punggung belakang Taufan pelan dengan lembut.

"Habis ke mana emangnya?" Tanyanya pelan.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang