↷✦; w e l c o m e ❞
Dua hari kemudian, hari itu Taufan lewati terasa biasa aja. Ya begitu-begitu aja, flat. Tidak ada yang terlalu spesial selama dua hari itu.
Dan diposisi saat ini Taufan tampaknya sedang tidur santai di ruang tamu, setengah tengkurap dengan satu kaki naik ke sandaran sofa, dan bantal tipis yang sudah lepek dipeluk erat-erat.
Di depannya, televisi menyala. Tapi jangan salah, televisi itu bukan untuk ia tonton. Cuman dinyalakan saja biar ada suara, dan tidak terlalu hening.
Karena jujur saja, rumah—eh! Ralat. Mansion sebesar ini kalau sepi, entah kenapa hawa-nya sangat beda dan dapat membuat bulu kuduknya merinding sendiri.
Lampu ruang tamu pun sengaja tidak dimatiin, begitupula juga dengan lampu dapur, lampu lorong, bahkan lampu tangga pun dibiarkan menyala. Semua dinyalakan, tujuannya adalah agar suasana tidak 'bernyawa' ini tidak terlalu sunyi.
Taufan fokus di game yang lagi dia mainin di ponsel-nya. Jemari nya terlihat sangat gesit bergerak, kedua matanya tentu saja fokus ke layar. Dan terkadang alisnya berkerut, atau kadang tersenyum miring saat menang melawan musuhnya.
Sesekali pun ia mendengus kesal kalau karakter gamenya terkena jebakan. Tapi ya itu, suara dari ponsel-nya doang yang menjadi hiburan utamanya. Sementara televisi ia jadikan pajangan hidup yang mengeluarkan suara random dari iklan-iklan atau sinetron tidak jelas.
Dan anak-anak? Oh, anak-anaknya saat selesai makan di sore itu, mereka langsung tumbang. Sekali tidur, belum bangun-bangun lagi sampai sekarang.
Sekarang bahkan sudah hampir pukul sepuluh malam, dan Taufan, sebagai orang yang lagi menikmati me-time-nya, jelas berharap sekali agar mereka tidak tiba-tiba bangun dan meminta ini-itu.
"Jangan bangun dulu sebelum gua menang, ya.." gumamnya lirih sambil tetap main, kepala udah nempel bantal, kaki satu lagi goyang-goyang malas. "Anjing! Apaan ini, cok?! Nge-cheat anjir, bos-nya!" Gerutunya diakhir dan kembali fokus bermain.
Namun, saat ia ingin memenangkan gamenya tiba-tiba—
Drrtt!! Drrtt!!
Getaran ponselnya mengagetkan Taufan sedikit. Bukan karena suara getarannya, tapi karena waktu dan momen yang sangat tidak tahu diri atau diwaktu yang tidak tepat. Padahal lagi seru-serunya, loh..
Taufan menghela napas panjang, dengan wajah kesal dan posisi tiduran yang masih tidak berubah sama sekali, ia menggeser layar ponsel-nya lalu menekan tombol hijau tanpa semangat.
"Apaan? Ganggu, gua lagi main game, tau gak," keluhnya sambil mencibir, mata masih melirik ke layar game-nya yang untungnya tidak memakai waktu dan bisa di-pause.
Suara dari seberang sana terdengar, tapi Taufan belum terlalu fokus. Ia malah mengangkat handphone-nya pakai satu tangan sambil tangan satunya tetap mencet layar game.
"Liat nih, gua hampir menang. Tinggal satu langkah doang," gumamnya lirih ke dirinya sendiri, sebelum akhirnya ia menghembuskan napas lagi karena si penelepon mulai ngoceh panjang kali ini.
"Main game mulu, lu! Nih, lokasi misinya gua kasih ya. Besok kita harus kerjain," terdengar suara Maripos dari seberang sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
