25. Digantiin katanya

6.1K 443 225
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Langit yang awalnya berwarna biru berganti dengan warna orange yang begitu indah dengan adanya warna putih dan ungu. Tunggu—! Ungu? Tapi langitnya memang ada warna ungunya!

Langit yang berwarna orange menandakan waktu sudah menunjukkan waktu sore, begitupula dengan Taufan yang baru saja masuk ke dalam Mansion setelah menutup gerbang utamanya.

Ia pulang telat seperti ini karena di perjalanan, entah kenapa akhir-akhir ini begitu macet dengan kendaraan bermotor atau pun kendaraan bermobil.

Taufan bahkan sampai pengap dan kepanasan didalam angkot. Tapi berkat cemilan dingin yang dia beli, ia dengan sabar menunggu angkotnya kembali jalan tanpa ada hambatan macet seperti ini lagi.

"Hah.. Sakit perut." Keluh Taufan pelan, tubuhnya begitu banyak menampung benda. Seperti tas gendongnya, belanjaannya. Ya.. dikit sih, tapi coba ditampung sekaligus. Pasti capek.

Hahh.. seperti nya buntut kecil ini ingin makan makanan berat, ya?

K'rek!

Ketika Taufan membuka pintu utama Mansion, tepat di depannya sudah ada Halilintar yang tampaknya sedang menunggunya dengan kedua tangan bersedekap dada dan jangan lupakan kedua matanya yang menatap tajam ke arah Taufan bak elang.

"Ngagetin!" Protes Taufan.

Halilintar terlihat mendengus. "Kenapa pulang telat?" Tanyanya tajam, sebelum mengambil alih plastik belanjaan Taufan ke kedua tangannya.

"Macet." Jawab Taufan seadanya. "By the way, anak-anak mana?"

"Dikamar," Sahut Halilintar sebelum mendengus sebal. "Kalau begitu tadi aku minta tolong ke pak Yarka aja buat jemput kamu, enggak usah pake angkutan umum. Jadi telat kan pulangnya?"

Taufan mendengus. "Udahh, enggak usah dibahas. Yang penting gua udah balik ini?" Ucap nya dengan kedua tangan yang melepaskan tali sepatunya.

Halilintar terlihat menunggunya.

"Bang," panggil Taufan setelah melepaskan kedua sepatu dan tas gendongnya, kemudian Taufan berdiri dihadapan Halilintar yang menatapnya bingung.

"Coba cium tubuh gua." Pinta Taufan seraya memajukan tubuhnya setelah mengucapkan kata itu, yang dimana membuat Halilintar terkejut.

"Apa? Mencium tubuhmu?" Beo Halilintar, takut-takut ia salah mendengar.

Taufan mengangguk. "Cium aja. Kayak ngendus gitu," Kata Taufan.

"Kaya anjing aku nanti-nya." Timpal Halilintar membuat Taufan tersenyum lebar dengan wajah yang berkerut kesal.

".. Bangke. Dahlah, gajadi." Seru Taufan kesal, sebelum beranjak pergi dari tempatnya dengan kesal. Tetapi sebelum itu—

Grep!

Halilintar sudah mencegatnya terlebih dahulu sebelum dirinya pergi menjauh. "Ya ampun, kenapa kamu jadi sensi begini? Sini," Kata Halilintar sambil tertawa pelan dengan tangan yang mencengkram pergelangan tangan sang empu lembut.

Halilintar menyingkap baju lengan panjang milik Taufan, lalu mendekatkan pergelangan tangan sang empu ke hidungnya sebelum mencium baunya.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang