↷✦; w e l c o m e ❞
Jari nya mengetuk meja berkali-kali, sembari memandang ke arah jendela, satu tangannya menumpu dagu untuk menahan kepalanya yang hendak terjatuh akibat tidak tidur semalam.
Bahkan, kepalanya sudah terkantuk-kantuk kebawah sampai anak muridnya sedikit terkejut ketika melihat dirinya yang tumbenan ngantukan gini. Karena biasanya Taufan itu semangat. Uhh.. tidak semangat banget, tetapi keliatan aja dari gestur tubuhnya saat duduk.
"Kak, kalau ngantuk tidur aja?" Seru salah satu muridnya, mewakili pertanyaan murid lain.
Taufan menoleh, kemudian menutup kedua matanya dan mendengus. "Gua mana mau gaji dipotong gara-gara tidur pas ngajar, makannya cepet selesain biar gua-nya bisa tidur." Sahut nya lelah. "Kalau semuanya udah selesai, sok, main aja. Jamkos." Lanjutnya mengundang sorakan keras dari dalam kelas.
"Kalau udah selesai, langsung taro aja di meja, ya. Gua mau ke kelas sebelah," katanya sambil bangkit berdiri. "Inget! Semuanya harus selesai dulu, baru boleh jamkos. Ngerti?" Ulangnya, yang langsung disambut sorakan keras dari murid-muridnya.
Taufan mengangguk kecil, kemudian melangkah keluar dari pintu kelas, tak memedulikan suara berisik kebahagiaan anak-anaknya yang mendadak meledak setelah ia pergi.
Saat pintu terbuka, Taufan langsung dikagetkan oleh keberadaan Sopan yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapannya. Dengan helaan napas kasar, ia refleks mengelus dadanya pelan.
"Ngagetin, tau nggak?" Cibir Taufan. "Kenapa? Kagak ada gurunya? Mau tak gantiin ngajarnya buat sementara?" Tanyanya bertubi-tubi. Namun tak satu pun pertanyaannya ditanggapi, membuat Taufan mengernyit.
Ia akhirnya menutup pintu kelasnya supaya murid-murid di dalam tidak mendengar percakapan mereka. Setelah itu, Taufan menjatuhkan tubuhnya ke posisi berjongkok, menyamakan tinggi mereka agar bisa saling menatap tanpa perlu mendongak atau menunduk.
"Kenapa, sayangku?" Kali ini Taufan bertanya dengan lebih lembut. "Need something?"
"Mn.." Sopan akhirnya menjawab meskipun hanya dengan deheman dan anggukan kecil.
"What is it? Tell me."
".. Sopan beruntung." Lirih Sopan menunduk.
Taufan menaikkan sebelah alisnya, menunggu lanjutan dari perkataan itu.
"Dapat Ibunda yang baik. Dapat Ibunda yang sangat peduli. Dapat Ibunda yang lebih memprioritas kan keluarga nya dibandingkan dirinya sendiri. Dapat—"
"Wait—wait—wait!" Taufan cepat-cepat menutup mulut Sopan dengan telapak tangannya. "Kok tiba-tiba banget? Kenapa lu ngelantur, gitu? Ini juga kenapa lu panas banget?!" Sentak nya.
Kedua mata Taufan membelalak. Tangannya langsung terulur, menangkup wajah Sopan dan meraba suhunya. "Lu demam?! Dari kapan?! Kok nggak bilang-bilang?!"
"Ibunda.. pusing.."
"Enggak bakal mati, kan?!"
"Tidak! Mengapa Ibunda jahat sekali?!" Balas Sopan cepat.
"Y-ya, kan lu kagak bilang-bilang lagi demam! Gua jadi khawatir!"
".. Maaf."
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romantik[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
