↷✦; w e l c o m e ❞
Taufan menatap Kakek itu lekat-lekat. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, kedua tangannya mengepal di pahanya.
Di hadapannya, Kakek berumur sekitar akhir enam puluh-an itu tengah duduk di balik meja kerja berlapis kaca tebal. Rambutnya yang sebagian besar sudah memutih tampak rapi disisir ke belakang, dan kacamata bulat kecil bertengger di ujung hidungnya.
Ia memeriksa benda itu dengan sangat perlahan, penuh kehati-hatian. Tangannya terbungkus sarung tangan katun putih, dan satu lampu kecil bersinar tepat ke arah benda tersebut. Sebuah perekam suara tua yang tampak rapuh dan rusak parah.
"Hmm.." gumam Kakek itu rendah, alisnya bertaut rapat. Ia memutar bagian belakang perangkat tersebut, lalu mengintip bagian dalam, membongkar sisi-sisinya dengan alat khusus. "Retakan di bagian engsel kanan.. korosi di sekeliling pemutar utama.. dan rekaman magnetiknya sudah mulai mengelupas.."
Taufan meneguk ludah. "Jadi..? Bagaimana, Kek?" Tanyanya dengan suara serak, kedua matanya tampak sedikit memerah karena lelah dan tegang yang bercampur. Apalagi dengan angin dingin yang menerpa kulitnya itu yang hanya dibalut oleh jaket tipis.
Kakek itu tampak menghela napas pelan. "Kalau boleh jujur," ucapnya sembari meletakkan alat kecilnya di atas meja, "barang ini sangat tua. Sangat, sangat tua."
Ia menatap Taufan serius. "Kau tahu benda apa yang kau bawa ini?"
Taufan menggeleng pelan.
"Ini bukan sekadar perekam suara biasa. Ini salah satu model pemutar silinder fonograf awal yang diproduksi sekitar tahun 1869 atau mungkin awal 1870-an." Ia menunjuk ke bagian bawah perangkat. "Lihat sini. Ada cap kecil dari Eropa, Kakek menduga ini buatan Prancis atau Jerman. Dulu dipakai oleh kalangan aristokrat. Dan ini sangat langka, Nak."
Taufan terdiam. Dadanya entah kenapa semakin sesak, merasakan firasat buruk.
"Masalahnya, karena kondisinya seperti ini," lanjut Kakek itu, menunjuk bagian kabel yang sudah hancur dan pelat tipis yang nyaris copot, "pemulihan total butuh tenaga dan teknik konservasi tingkat tinggi. Dan bahkan jika bisa diperbaiki, tidak ada jaminan semua datanya masih utuh."
"Lalu.. soal harganya?" Bisik Taufan. "Berapa?"
Kakek itu kembali duduk tegak, menyandarkan punggungnya dan membuka sarung tangannya. Ia menatap Taufan dengan dalam, seolah ingin memastikan pemuda itu siap dengan jawabannya.
"Kalau kamu mau sekadar membongkar dan menyalin isi suara yang masih bisa diselamatkan, yang mungkin bisa sekitar.. seratus juta? Itu pun kalau suara di dalamnya masih ada." Ia berhenti sejenak. "Tapi, kalau kamu mau perekam ini dirawat, diperbaiki, dikonservasi dan dikembalikan ke bentuk terbaiknya, mungkin angkanya bisa tembus sampai sekitar satu miliar. Bahkan lebih."
Taufan membeku dan nafasnya ikut tercekat mendengar harga yang tidak kira-kira itu. Mata nya menatap kosong ke arah barang yang ia jaga mati-matian sejak dulu, dan kini, telah pecah dan rusak. Membuat Taufan merasa kalau kejadian inilah yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Apakah.. bisa diselamatkan?" Bisiknya, nyaris tak terdengar.
Kakek tua itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Bisa. Tapi tidak murah, dan tidak mudah. Tetapi kalau isi suara ini sangat penting buatmu, kau harus siap menebusnya."
Taufan menyenderkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi. Tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai berat karena kenyataan dan angka yang tadi disebutkan. Sebuah helaan napas keluar pelan dari bibirnya yang sudah sedari tadi ber-gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
