28. Strange place..

5.8K 410 187
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Suara kicauan burung terdengar bersamaan dengan kokok ayam jantan yang begitu menggegarkan hari itu, yang juga menandakan pagi telah datang.

Di sebuah mansion besar yang dihuni oleh lima penghuni asli mansion tersebut bersama para pekerja yang sudah mulai sibuk menyiapkan sarapan, membuat suasana pagi terasa lebih berwarna.

".. Ufan, apa yang kau lakukan?" Tanya Halilintar begitu melihat posisi duduk Taufan di sofa yang tampaknya sedikit aneh.

Taufan menoleh sekilas, kemudian menghela napas panjang dengan wajah lesu. Halilintar mengerutkan dahi, merasa janggal.

"Enggak, gua cuma laper.." gumam Taufan pelan.

"Mau makan apa?" Tanya Halilintar sambil menatapnya.

Taufan kembali menarik napas dalam-dalam. "Entahlah.. bentar, gua mau cek," katanya, lalu berdiri dan berjalan melewati Halilintar.

"Tolong ambilkan cemilan," celetuk Halilintar cukup keras.

Taufan hanya mengangguk tanpa menoleh. Tapi alih-alih menuju dapur, ia justru masuk ke kamar mandi. Ia bersandar di pintu, menundukkan kepala dengan wajah letih.

"Hahh.. gua kok tiba-tiba mual," lirihnya perlahan sambil mengusap keningnya. "Emang morning sickness-nya masih ada, ya..?"

Ia menarik napas pelan, lalu tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh perutnya. Pandangannya menurun, menatap lekat bagian yang kini tampak sedikit menonjol. Perutnya benar-benar mulai membesar meskipun baru dua bulan.

Taufan terdiam lama, menatapnya intens. "Udah mulai kelihatan, ya..?" bisiknya lirih.

Setelah beberapa saat, ia menegakkan tubuhnya, mencuci muka-nya lalu menatap cermin dengan napas yang masih sedikit berat. Ia menepuk pipinya pelan, berusaha menenangkan diri, dan keluar dari kamar mandi.

Langkahnya kemudian diarahkan ke dapur, dengan niatan ingin mengambil beberapa cemilan meski pikirannya masih penuh dengan bayangan perutnya yang mulai membulat.

'Aduhh, mana belum beli baju yang oversize lagi..' batinnya lelah.

Taufan akhirnya berjalan pelan menuju ruang tamu, di mana Halilintar sudah duduk santai sambil fokus menonton. Langkahnya terdengar lembut di lantai marmer, tangan kirinya membawa beberapa cemilan yang tadi ia ambil.

Begitu sampai, ia menaruhnya di meja depan Halilintar dan ikut bersandar di sofa, dan kembali mengembuskan napas perlahan.

Halilintar menoleh sekilas, mengambil salah satu cemilan itu, lalu tanpa banyak pikir, mengulurkan tangan dan menarik pinggang Taufan agar bersandar lebih dekat ke bahunya.

"Ada apa? Kenapa kau keliatan lelah hari ini?" Tanya Halilintar pelan, matanya masih menatap layar. "Apa karena kemarin kamu terlalu bersemangat bakar-bakar ayam sama anak kos?"

Taufan hanya mengangguk pelan, matanya sedikit terpejam di pundak Halilintar.

Mereka memang baru pulang setelah tiga hari menginap di rumah Kuputeri. Kemarin, sebelum kembali, mereka mengadakan acara bakar-bakar di halaman belakang bersama yang lain.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang