↷✦; w e l c o m e ❞
Taufan menatap ke arah lantai dengan tatapan merana dan heran nya. Apa-apaan ini? Mengapa dirinya malah duduk di lantai, sementara anaknya sendiri alias Supra duduk di atas kasur sambil memandangnya dengan tajam, seperti seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis.
Taufan merasa harga dirinya tercoreng. Maka dari itu, ia langsung mendongak. "Kak—"
"Ibunda."
Taufan langsung menundukkan kepalanya dalam hitungan sepersekian detik. 'Kenapa si Kakak kayak Bang Hali, sih..' batinnya, tersenyum getir.
"Sejak kapan Ibunda punya pekerjaan lain? Selain menjadi guru." Supra bertanya tajam, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Dan pekerjaan lainnya itu kayak kriminal? Mencuri barang?"
Taufan menelan ludahnya.
"Apa lagi yang Ibunda sembunyiin?" Lanjut Supra tanpa berkedip.
Taufan menghela napas pelan. "Gua udah kerja kayak gitu sebelum ketemu Sopan. Ya.. singkat nya udah lama banget, Kak."
Suasana kembali hening. Supra hanya bisa menghela napas panjang, setelah otaknya ia paksa untuk berputar. "Ibunda harus keluar dari pekerjaan, itu."
"Enggak bisa," lirih Taufan cepat seraya menatap ke arah sang empu.
"Mengapa tidak?!" Seru Supra frustasi. "Kalau Ibunda tidak bisa keluar hanya karena perlu mengeluarkan uang, ayah bisa bayar berapa pun biar Ibunda keluar dari pekerjaan itu! Apalagi Ibunda kan lagi pegang si Adek.." Mata Supra melirik ke arah perut Taufan, seakan mengingatkan bahwa nyawa lain ikut terancam.
Taufan menunduk. "Kak.."
Supra mengatupkan rahang. Ia meremas ujung selimut kasur, menahan diri agar tidak membentak lagi.
"Ibunda.. Supra mohon, kasih tau alasannya kenapa Ibunda tidak bisa keluar.." lirih Supra memelas, bangkit dari tempatnya agar dapat memeluk tubuh sang Ibu dengan erat. "Kumohon..?"
Taufan terdiam, kedua tangannya terulur untuk memeluk balik tubuh sang empu dan mengecup puncak kepalanya. "Gua bisa aja keluar dari pekerjaan itu."
"Terus? Kenapa enggak keluar?" Tanya Supra heran.
"Karena si Maripos." Jawab Taufan cepat.
Supra yang mendengar itu pun langsung merotasikan bola matanya malas. "Keliatan peduli banget." Celetuk nya membuat Taufan terkekeh.
"Hey! Gak boleh gitu! Maripos itu udah gua anggap Kakak gua, ya!" Taufan menjewer telinga Supra sambil mendengus. "Dia yang tolongin gua pas gua lagi susah-susahnya sama hidup. Terlebih lagi, itu misi terakhir gua kok, biar bisa keluar dari pekerjaan itu. Memang ada syaratnya kalau mau keluar dari pekerjaan itu harus dikasih misi terakhir dulu. Sebagai kenang-kenangan mungkin?"
Supra menyandarkan punggung, berdecak pelan. "Apa-apaan? Lakuin hal jahat aja bisa dijadiin kenangan?"
Taufan sontak melototkan matanya. "Hey, pekerjaan gua yang itu kagak ngelakuin hal ilegal, ya. Cara kita mungkin salah, dengan mencuri tapi itu buat kebaikan, ya!"
"Kebaikan, konon." Supra menatap malas sambil menyerngit, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat seakan geli sendiri saat mendengar alasan Taufan.
Tanpa aba-aba, Taufan tiba-tiba mencondongkan badannya, mendekat ke arah Supra lalu menggelitik pinggangnya dengan kedua tangan.
"ERK—?! Ibun– Ahahaha!! Udah!! Udah!!" Supra terjerembab ke lantai sambil tertawa keras, tubuhnya meringkuk tak berdaya saat dirinya terkena serangan dari sang ibu yang sangat cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
