↷✦; w e l c o m e ❞
Suara rintik hujan yang menari di atas genteng dan menetes perlahan di kaca jendela terdengar lembut dan menenangkan, seolah alam sedang bersenandung pelan.
Langit di luar jendela berwarna kelabu pekat, seperti kain abu yang dilipat rapi tanpa celah cahaya sedikitpun. Tidak ada kilat, tidak ada gemuruh petir, hanya ada hujan yang turun pelan namun konsisten.
Di dalam kamar kosan kecil itu, Taufan duduk membungkus dirinya dengan selimut tebal berwarna abu-abu kebiruan.
Kursi belajarnya yang sedikit reyot, tapi cukup nyaman untuk sekadar bersandar sembari menatap ke luar. Di tangannya ada mug putih sederhana yang mengepulkan uap dari susu cokelat panas, aroma manisnya mengambang pelan dan menyusup ke hidung.
Taufan meneguk pelan minuman itu, membiarkan hangatnya mengalir ke tenggorokan, berharap bisa sedikit menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
Walaupun tubuhnya terbiasa dengan udara dingin, entah kenapa akhir-akhir ini dia jadi lebih manja terhadap hawa sejuk. Rasanya lebih nyaman saja jika ada selimut melingkar di tubuh, seakan menyelimutkan juga kecemasan yang menumpuk di dadanya.
Matanya masih terpaku ke luar jendela, menatap kosong hujan yang tak kunjung reda. Lalu pandangannya turun ke mug di tangannya, dan kemudian ke lantai kamar yang tenang dan hening.
Fikirannya mulai dipenuhi bayangan Sopan. Anak itu, yang kini entah sedang tidur di sofa atau bermain sendiri di ruang tengah, yang telah tinggal bersamanya cukup lama.
Taufan sadar, ini bukan situasi yang normal. Sopan bukan anaknya. Dia punya keluarga, punya rumah yang lebih pantas dari kamar kosan sempit ini. Apalagi dengan beberapa hari ini mereka harus hemat karena ketidakcukupan uang untuk beberapa hari ke depan.
Taufan masih ada begitu banyak bayaran yang harus dia lunaskan minggu depan, dan itu membuat nya tambah pusing.
Dia menghela napas berat, menaruh mug ke meja. Pandangannya kosong. "Gimana ya cara balikin tu bocah ke Bapak nya, ya?" Bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Dann.. kaya gimana bayar kosan..? Bayar biaya rumah sakit Ibu..? Bayar makanan..?" Semua pertanyaan itu benar-benar membuat Taufan hilang arah.
Dan, terlebih buruk nya lagi dia malah mengeret anak yang tampan, pintar meskipun lugu itu ke dalam masalah nya, yang seharusnya di selesaikan oleh seorang diri.
Jadi, dia kepikiran untuk mengembalikan Sopan kepada Ayah nya dengan imbalan yang besar, sesuai dengan apa yang di katakan. Dimana dia mengatakan kalau dia akan memberi apapun jika dapat menemukan anak kandung nya tanpa lecet sama sekali, atau pun sebuah wajah yang kosong.
Taufan tahu, keputusan itu harus dibuat. Tapi.. entah kenapa dadanya terasa sesak saat membayangkannya?
Disisi lain juga Taufan merasa enggan untuk mengembalikan Sopan, di saat ia sudah tau, siapa sebenarnya Sopan yang secara tidak sengaja ia temui di halte bus itu.
Alasan mengapa Taufan tidak langsung mengembalikan Sopan kepada orang tuanya bukan karena tidak tahu harus ke mana. Tapi karena ia tidak tega. Sesederhana itu, namun terasa sangat berat di hati.
Taufan menghela napas panjang saat pikirannya kembali tertuju pada anak itu. Anak yang kini setiap malam tertidur di pelukannya, memanggil nya 'Ibunda' dengan suara manja, dan menatapnya seolah dirinya adalah dunia. Ia tahu betul, Sopan bukan anaknya. Ia ingat, ia laki-laki. Ia sadar penuh bahwa dirinya bukan ibu, bukan siapa-siapa dari anak itu.
Namun, lambat laun, ia mulai terbiasa. Panggilan 'Ibunda' yang awalnya terdengar asing, kini mulai terasa seperti nyanyian pengantar tidur.
Kehadiran Sopan, yang dulunya ia anggap sebagai tamu sementara, kini perlahan berubah menjadi bagian dari rutinitasnya. Dia bangun, melihat wajah anak itu di sebelahnya. Dia pulang, mendengar suara ceria memanggilnya dari ruang tengah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romantika[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
