34. Argue

2.4K 199 112
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Taufan mengaduk kembali susu miliknya dengan lemas. Tubuhnya ia tidurkan di meja, menatap gelas warteg yang ia datangi itu dengan lama.

Dirinya benar-benar dibuat berpikir keras, karena lusa kemarin, saat mereka sedang berdiskusi lewat zoom Maripos sempat menceletuk jika dirinya harus memberitahu tentang kehamilan nya.

Karena suatu saat nanti pasti akan terbongkar, disaat perutnya mengembang. Dan lebih baik di beritahu lebih awal dibandingkan telat hari, itulah yang dikatakan Maripos.

Taufan kembali menghembuskan nafasnya dengan panjang. Pedagang warteg yang melihat langganan nya itu sedang tidak bersemangat pun akhirnya mendatangi sang empu, duduk di samping nya sembari menepuk punggung itu berkali-kali dengan pelan.

"Kenapa sih? Keliatan lemes banget?" Tanya nya terkekeh.

Taufan kembali menghembuskan nafasnya panjang nya. "Nggak tau nih, Pak. Lagi mikir keras Ufan tuh," balas Taufan seadanya.

Pria tua itu kembali terkekeh, tangannya masih setia menepuk punggung Taufan dengan gerakan yang menenangkan. Aroma masakan rumahan dan suara bising kendaraan di luar warteg seolah menjadi latar belakang yang kontras dengan keheningan di kepala Taufan.

"Mikir mah jangan keras-keras, Mas. Nanti bautnya lepas satu," canda si Bapak, mencoba mencairkan suasana. "Masalah hidup mah pasti ada. Tapi kalau cuma ditatapin di gelas susu gitu, susunya nggak bakal ngasih jawaban, yang ada malah dingin."

Taufan hanya tersenyum tipis, masih dengan posisi kepala di atas meja. Matanya mengikuti uap tipis yang mulai menghilang dari gelasnya. Benar kata Maripos, rahasia ini punya batas waktu. Perutnya tidak akan selamanya sedatar ini, dan kebenaran biasanya punya cara sendiri untuk menyeruak keluar.

"Pak," panggil Taufan pelan, suaranya hampir tertelan oleh suara dari jalanan yang berada di luar.

"Kenapa? Mau nambah tempe mendoan?"

"Kalau ada sesuatu yang harus diomongin, tapi Bapak tahu itu bakal bikin orang kaget atau kayak kecewa, mending ngomong sekarang atau nunggu momen yang pas?"

Si Bapak terdiam sejenak, mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut tipis. "Momen yang pas itu jarang datang sendiri, Mas. Biasanya kita yang harus buat. Kalau nunggu terus, yang ada malah keburu basi. Ibarat nasi, kalau kelamaan di magic com juga jadi kuning, kan?"

Taufan terdiam. Kata-kata itu sederhana, tetapi terasa seperti sentilan tepat di dahi miliknya yang langsung memerah. Kepastian memang pahit di awal, tapi ketidakpastian adalah beban yang pelan-pelan menghisap energinya sampai habis seperti sekarang.

"Gitu ya, Pak.." gumam Taufan. Ia menegakkan tubuhnya, meraih gelas susu yang sudah menghangat itu lalu meminumnya dalam satu tegukan besar.

"Tapi, bicara nya kayak gimana?" Tanya Taufan kembali setelah gelas susu tersebut sudah habis.

Si Bapak menarik napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang sedikit berderit. Ia memperhatikan raut wajah Taufan yang tampak sangat buntu.

"Bicara mah pakai mulut, Mas. Jangan pakai batin, nggak bakal sampai," selorohnya lagi.

"Begini-ni, kalau masalahnya berat, nggak usah pakai mukadimah yang kepanjangan. Langsung aja ke intinya, tapi ngomongnya yang pelan-pelan. Jangan langsung nyeletuk atau asal ceplas-ceplos, juga! Itu paling bahaya, oke?"

Taufan memainkan jemarinya di atas meja yang sedikit berminyak. "Tapi kalau mereka kecewa gimana, Pak?"

"Kecewa itu urusan mereka, Mas. Kita nggak bisa nyetir perasaan orang lain," jawab si Bapak pelan. "Tugas kita cuma nyampein kebenaran. Masalah mereka mau marah atau nangis, itu bagian dari proses. Yang penting, setelah Mas ngomong, beban di pundak Mas itu pindah. Enggak Mas panggul sendirian lagi."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 19 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang