24. Si Rumput

6.5K 412 205
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Tak kerasa, waktu pembelajaran hari pertama untuk anak murid yang bersekolah di dasar sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.

Begitupun dengan Sopan yang sudah lebih dulu keluar dari kelasnya. Ia segera beranjak menuju kelas sang kakak agar mereka bisa pulang bersama.

"Kak!" Panggil Sopan sedikit keras, ketika melihat kakaknya baru saja keluar dari kelas.

Supra menoleh, melambaikan tangan sambil menampilkan senyum tipis. "Bagaimana suasana kelasmu? Apakah seru?"

"Berisik. Dan.. terlalu membosankan," jawab Sopan dengan jujur sambil senyum kecil. "Not gonna lie, brother. My class was really annoying." Lanjutnya mencoba meyakinkan sambil menghela nafas lelah.

Supra hanya terkekeh pelan lalu mengacak rambut adiknya hingga berantakan. "Biasain aja. Nanti juga malah ikut-ikut begitu."

Sopan hanya terkekeh. "Tidak akan, dan dimana Ibunda?" Tanya nya diakhir, sedikit celingak-celinguk mencari sang ibu.

Supra mengedikkan kepalanya. "Ibunda bilang, beliau enggak bisa pulang bareng sama kita. Ada urusan di sini," ucapnya sambil kembali menatap sang adik.

Wajah Sopan langsung terlihat kecewa mendengar itu. ".. Ibunda.. pulangnya jam berapa?" Tanyanya lirih.

"Ahh.. kalau itu kakak belum tanya," jawab Supra, lalu menoleh sekilas ke arah sang Ibu. "Mau kakak tanyain..?"

Sopan cepat-cepat mengangguk.

Melihat reaksi itu, Supra tersenyum tipis. Ia baru saja berbalik badan, namun tiba-tiba dikejutkan dengan sosok Taufan yang sudah berdiri di ambang pintu.

"Kalian belum pulang?" Tanya Taufan cepat, mendahului mereka yang hendak bertanya.

Begitu melihat kedua buntut kesayangannya, entah kenapa senyum Taufan semakin melebar. Ia langsung merendahkan tubuhnya lalu menarik Sopan ke dalam pelukan dengan gemas.

"Hey, Baby~" ucapnya lembut. "Udah enggak pada cuek lagi ke gua, kan?"

Sopan spontan membalas pelukan itu dengan erat, lalu mendongak. "Hmn.. sepertinya tidak. Dan Ibunda kerja di sini kenapa tidak bilang-bilang?" tanyanya polos.

Belum sempat Taufan menjawab, Supra ikut menceletuk dari samping. "Iya, kenapa diam-diam? Padahal Ibunda tidak perlu kerja, bukankah Ayah selalu memberi Ibunda uang setiap saat?"

Taufan melirik keduanya bergantian, senyumnya makin lembut. Tubuhnya pun ia bawa untuk kembali berdiri, sembari meregangkan otot-otot tubuh nya yang sedikit kaku. "Cuman gabut."

"Apaa??"

Supra, begitupula dengan Sopan menatap tidak percaya dengan jawaban sang ibu yang sangat singkat dan.. sangat aneh.

"Serius?" Tanya Supra lagi, mencoba meyakinkan.

Taufan hanya mengidikkan kedua bahunya. "Iya? Kenapa emangnya? Enggak boleh, kah~?" Tanya nya beruntun sambil terkekeh pelan.

Sopan menggeleng ringan, "Ahh.. tidak juga. Tetapi kami terkejut saja kalau Ibunda bekerja disini hanya karena gabut atau.. bosan." lirihnya tak habis pikir.

Makannya Jangan Menduda! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang