↷✦; w e l c o m e ❞
Bulan berganti dengan matahari yang mulai menaik, menandakan pagi sudah mendatang.
Di kediaman Thunderstrom, suasananya bisa dibilang jauh dari kata tenang. Langkah-langkah kecil berderap cepat di lantai, diiringi dengan teriakan panik yang menggelegar di tempat yang mereka lewati.
"ADEKKK!! JANGAN LARII!! LU MASIH BASAH, WOY!!" Seru Taufan berteriak sambil setengah berlari, dan setengah melompat-lompat menghindari mainan yang berserakan di lantai.
Di depannya, bocah mungil dengan tubuh masih basah seusai mandi, berlari riang tanpa sehelai kain pun melekat di tubuhnya. Tangannya menggenggam mainan berbentuk pesawat kecil, wajahnya sumringah seolah dikejar-kejar itu bagian dari permainan.
Sori baru saja selesai mandi, dan anak itu benar-benar tidak mau diam. Dia berlari ke sana kemari dan berhasil membuat Taufan kewalahan dengan handuk kering begitupula dengan baju milik Sori yang berada di bahu kanan nya.
'Tch! Kalau bukan karena cuan, udah gua buang tu buntut ke solokan.' batin Taufan kesal.
Tapi disisi lain juga, Taufan tidak sejahat itu sampai dengan tega membuang bayi yang masih sangat kecil dan lugu meskipun ngeselin itu ke solokan.
Hey! Taufan masih punya hati, ya. Justru, dia begitu sayang dengan anak kecil. Bahkan, ketiga buntut yang ia jaga saja Taufan sudah anggap sebagai anaknya. Ya.. walaupun lebih masuk ke anak bohongan, sih.
Tapi, ini buntut masih basah, woy! Jatoh, malah Taufan yang nanti di salahin!
"Ibunda?" Panggil Sopan dari lantai atas. "Kaos kaki anak ini dimana?"
Sopan menampakkan dirinya dari atas tangga, membuat Taufan yang sedang sibuk mengejar Sori langsung mendongakkan kepalanya. Napasnya terengah, keringat sudah membasahi pelipis, dan Sori masih saja berlari-lari. Seolah-olah anak itu tidak takut jika dirinya jatuh, atau tersandung dengan kakinya sendiri lagi.
Taufan hanya bisa menjawab dengan suara setengah putus asa, "Di laci. Laci paling atas! Yang deket boneka bentuk semangka!" Sahut nya lelah, sebelum kembali menoleh ke arah Sori yang ternyata hendak ingin pergi ke taman belakang dalam keadaan tanpa busana. "Eh—?! SORIII!! NOT THERE YOU SILLY!!"
"Ada di laci? Laci mana, Ibunda? Dan boneka semangka nya sudah berpindah tempat karena ulah Sori, ya." Kata Sopan perlahan.
"Dikamar lu!"
"Iya, dibagian mana nya, Ibunda?"
Taufan mendengus setelah berhasil menangkap Sori, dan memeluknya dengan erat agar tidak kabur lagi. "Laci yang di lemari buku lu lohh, bukan yang lemari baju," balas Taufan lagi, masih dengan napas berat.
Sori menggeliat kecil dalam pelukan, tapi Taufan mengeratkan pelukannya tanpa ampun.
"Woy! Lu mau kemana sih, anjir?!" Sentak Taufan kesal.
"Amma! Amma! Lepas!!" Seru Sori memberontak, membuat Taufan menggertakkan gigi nya kesal.
"Gak! Lu masih basah, anjing! Giliran udah jatoh malah nyamperin gua, nanti!" Sahut Taufan kesal, kedua tangannya dengan sigap membalut Sori dengan handuk yang sebelumnya berada di bahu kanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makannya Jangan Menduda!
Romance[μ] - Halilintar x Taufan Taufan, yang selalu boros atau bisa di bilang menghamburkan uangnya. Sehingga uangnya kini bisa dibilang tidak cukup untuk kehidupan kesehariannya membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika ia bekerja di tempat itu terus...
