Gue bangun di tempat asing, bukan di mobil lagi tapi di kamar seseorang. Gue reflek pegang-pegang tubuh gue meriksa takut gue udah telanjang atau ada yang gak beres sama tubuh gue. Untungnya gapapa, baju gue juga masih lengkap dan rapih seperti semula. Kepala gue masih sedikit berat tapi gue memaksakan diri untuk bangun. Gue terlonjak kaget ketika ada yang buka pintu kamar, gue liat Renjun tatap gue sebentar.
"Lo udah bangun Naya?" Tanya dia, gue cuma menatap dia takut sementara dia tersenyum dengan manis.
"Gue dimana? Dan lo mau apa?" Tanya gue
"Lo di villa keluarganya Jeno."jawab dia singkat dengan santai berjalan menghampiri gue dan duduk di sisi ranjang.
"Lo mau apa?" Gue mengulang pertanyaan itu lagi.
"Santai aja gue gak tertarik sama tubuh lo kok, duduk."perintahnya, gue cuma nurut. Duduk di sofa yang ada di pojok ruangan sambil memperhatikan Renjun.
"Langsung aja ya Naya, lo liat apa malam itu?"tanya dia
"Huh?"
"Tepat seminggu yang lalu, jam sebelas malam lo liat apa?!" Bentak Renjun, gue langsung nutup mulut gue reflek. Otak gue langsung bilang 'kejadian pembunuhan' si cewek berambut coklat itu.
"A-apa yang lo maksud? Gue gak terlalu ingat udah seminggu yang lalu kan." Gue sedikit terbata, bodoh gue gak terlalu hebat dalam berbohong.
"Gak usah pura-pura bego, ini punya lo kan?" Ucapnya sembari memperlihatkan gantungan berbentuk rubah dan dengan jelas ada rangkaian huruf nama gue, gantungan yang selalu ada menghiasi tas gue. Bisa-bisanya gue gak tau kalo gantungan itu hilang, sepertinya jatuh ketika gue nabrak tong sampah saat itu.
"Jadi, yang bunuh itu lo?"tanya gue, Renjun hanya menyunggingkan senyum miring nya.
"Jadi lo beneran liat apa yang kita lakukan?" Renjun balik bertanya, gue bego bisa-bisanya keceplosan. gue memilih bungkam, sudah jelas bisa saja ini hari terakhir gue ada di bumi sebagai manusia bernyawa.
"Jawab Naya!" Bentakan Renjun membuat gue sedikit takut.
"Iya gue liat kalian bunuh cewek rambut coklat itu yang mayatnya kalian buang di tempat sampah." Jawab gue, Renjun cuma ngangguk lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamar.
"Dia beneran liat, mau di apain?"tanya Renjun, lalu gue lihat Jaemin sama Jeno ikut masuk dan mengunci pintu. Gue langsung berdiri dan mundur ketakutan, keringat dingin sudah membanjir di tubuh gue.
Gak ada kesempatan buat lari juga, jendela kamarnya di pasang tralis besi dan Jaemin bersandar di pintu. Di depan gue ada Renjun sama Jeno. Sementara tas juga hp gue gak tau di mana, disini juga gak ada benda yang bisa gue pakai untuk membela diri.
"Gue bisa jaga rahasia kalian, tolong jangan apa-apain gue."
Mereka bertiga hanya tertawa, gila mereka punya penyakit mental ya?
"Apa jaminan lo? Bisa aja habis ini lo lapor polisi." Ujar Jeno
"Enggak, lagipula gue gak punya bukti buat bilang kalian yang bunuh kan. Itu malah jadi bumerang buat gue nantinya,gue mohon gue mau pulang."
"Kalo masalah penculikan ini?" Tanya Jaemin
"Selama kalian membiarkan gue pulang gue gak akan bilang siapa-siapa."
"Kita gak sebodoh itu Naya." Sahut Jeno
"Lo mau pulang?" tanya Renjun, gue cuma bisa ngangguk. Semakin mundur ketika Renjun berjalan ke arah gue, sampai akhirnya tubuh gue sudah mentok sama tembok.
"Lo boleh pulang setelah lidah lo kita potong terus jari-jari tangan lo kita patahin. Setuju?" Bisik Renjun tepat di depan wajah gue. Gue merinding ketakutan, apalagi sekarang tangan Renjun ngelus pipi gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eccedentesiast [Huang Renjun]
Fanfiction21+ | Jung Naya,mahasiswi jurusan psikologi yang tanpa sengaja melihat suatu pembunuhan di universitasnya. Terpergok oleh kelompok pembunuh itu membuat Naya akhirnya terjebak di antara mereka, dalam permainan gila yang akan membuatnya kehilangan a...
![Eccedentesiast [Huang Renjun]](https://img.wattpad.com/cover/355062392-64-k827437.jpg)