Setelah mandi gue cuma diem di balkon kamar,gue masih malu buat keluar. Bisa-bisanya gue gak ingat sedikitpun,gue udah berusaha keras buat ingat-ingat apa yang udah terjadi semalam tapi tetap aja gue gak bisa ingat apapun.
"Sarapan sana." Ujar renjun di belakang gue
"Gue malu buat keluar,brengsek!" Sahut gue tanpa menoleh,gue denger renjun ketawa.
"Lo gak mau pulang sekarang?"
"Hasil tes DNA nya belum keluar."
"Haechan cuma manfaatin lo buat jebak si brengsek itu,dan dia udah di tangkap sekarang. Secara teknis lo udah gak di butuhkan lagi."
"Haechan baik kok,dia memperlakukan gue dengan sangat normal. Gak kayak lo."
"Kaya gue kenapa? Karena gue tidurin lo? Lo punya gue naya,dan gue pasti gak akan biarkan dia sentuh lo itu udah jelas. Haechan tau konsekuensinya." Sahut renjun,gue cuma ngangguk.
Perhatian gue ter alihkan sama haechan yang melepas jaketnya dan langsung membakarnya,kaos putih yang dia pake juga ikut dia lepas dan di bakar,gue baru sadar kalau kaos itu ada noda darahnya.
"Cowok itu di apain haechan?" Tanya gue menoleh ke arah renjun yang udah berdiri di samping gue.
"Menurut lo?" Renjun balik bertanya dengan santai,otomatis otak gue langsung bilang kalau cowok itu pasti di bunuh,gue gak terlalu kaget kalau iya.
"Lo ikut bunuh dia?"
"Enggak,gimana bisa gue biarin lo yang gak sadar di rumah haechan sendirian."
"Gue gak akan kabur kok."
"Bukan itu masalahnya,lo terlalu menggoda semalam. Sekalipun gue suruh yangyang orang yang paling gue percaya gue yakin dia pasti tergoda buat tidurin lo juga."
"Dan lo juga malah perkosa gue lagi."
"Lo punya gue seutuhnya naya,lagipula lo sendiri yang minta."
"Gue gak ingat apa-apa tuh semalam."
"Gue yakin lo pasti malu kalau ingat apa yang lo lakukan semalam. Atau perlu gue ceritain?"
"Gak perlu." Sahut gue dengan cepat,gue yakin itu terlalu memalukan.
"Lo udah ingat? Bahkan dengan frontal lo ngomong ren-"
"Gue dibawah pengaruh obat sama alkohol." Gue memotong ucapan renjun dengan cepat.
"Iya gue tau,tapi lo yang seliar itu gue suka." Ujarnya,renjun menarik sedikit kerah bajunya. Terlihat jelas di leher putihnya terdapat beberapa tanda merah.
Wajah gue langsung panas,gue rasa wajah gue udah merah sekarang. Renjun cuma ketawa melihat gue yang gak berkutik lagi.
"Lain kali gue rekam biar lo percaya." Ucapnya lagi dengan sengaja buat menggoda gue.
"Gak usah aneh-aneh lo." Ucap gue,gue segera berlari masuk kembali ke kamar.
"Lo malu naya? Liat pipi merah lo itu." Renjun tertawa
.....
"Jadi,lo suka sama renjun sekarang?" Tanya haechan sambil natap gue,gue cuma ketawa. Itu gak mungkin terjadi.
"Ya enggak lah,gila aja." Jawab gue
"Tadi pagi gue liat lo bercanda sama renjun,ternyata hubungan kalian sebaik itu. Gue gak nyangka." Komentarnya,gue cuma senyum. Baik apanya?
"Lo gak penasaran nay,kenapa kita bisa se enaknya keluar masuk ke apart tempat tinggal kalian?"
"Karena kalian temenan,dan saling percaya juga tau kebusukan satu sama lain." Jawab gue,gue lihat haechan sedikit terkekeh menyunggingkan senyum miringnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eccedentesiast [Huang Renjun]
Fiksi Penggemar21+ | Jung Naya,mahasiswi jurusan psikologi yang tanpa sengaja melihat suatu pembunuhan di universitasnya. Terpergok oleh kelompok pembunuh itu membuat Naya akhirnya terjebak di antara mereka, dalam permainan gila yang akan membuatnya kehilangan a...
![Eccedentesiast [Huang Renjun]](https://img.wattpad.com/cover/355062392-64-k827437.jpg)