Malam itu gue terus ngulur waktu buat Yangyang cukup mabuk sampai gak sadarkan diri, gue gak semurahan itu buat mau di tiduri siapa aja. Kalau bukan karena gue butuh hp ke Renjun kemarin pun gue gak akan pernah sudi buat tidur sama dia, gue merasa hina buat lakukan itu sebenarnya tapi gue gak punya pilihan lain.
Hp ini cuma gue pake buat stalking akun sosmed Sungchan sama kakak gue, cuma buat memastikan kalau mereka sama bunda baik-baik aja.
Beberapa kali gue nangis liat postingan mereka tentang mereka yang menyesal minta maaf dan bilang kalau mereka kangen gue.
Ingin rasanya gue balas postingan itu, bilang kalau gue baik-baik aja tapi gue gak yakin kalau mereka percaya bahwa Naya masih hidup. Paling gue di anggap caper atau ngaku-ngaku aja.
Dan Renjun, gue rasa dia bukan orang yang mampu buat gue lawan. Dia punya seseorang atau koneksi yang luar biasa di belakangnya,yang jadi alasan kenapa kejahatan mereka sejauh ini gak tersentuh sama sekali.
Yang gue dengar dari Yangyang bahkan kakaknya punya perusahaan cukup besar dan sepeninggal kakaknya perusahaan itu jadi punya Renjun belum lagi di tambah mungkin nanti dia akan mewarisi perusahaan ayahnya.
Tapi sejauh ini gue gak pernah liat Renjun sibuk, dia kaya bukan orang yang punya perusahaan. Dia cuma sibuk kuliah, nongkrong dan ke klub malam. Sama sekali gak keliatan kalo dia ini orang penting yang banyak duitnya. Kalo kata Yangyang percuma sok sibuk juga karena gak akan ada yang percaya kalo ada orang banyak duit di umur 20an, ya ada benarnya juga.
"Habis nangis-nangis lagi lo?" Tanya Renjun setelah membuka pintu kamar gue.
"Enggak, gue cuma gak enak badan." Jawab gue sambil ngangkat bahu
"Beberapa hari ini lo gak enak badan terus, lo gak hamil kan?" Tanya Renjun, gue cuma geleng-geleng kepala.
"Lo juga liat sendiri hasilnya kemarin negatif." Jawab gue ketus
"Lo disini udah satu bulan lebih, gue belum pernah denger lo datang bulan tuh." Renjun berucap sambil menyilangkan tangan di dadanya menatap gue.
"Apa perlu gue ngomong ke lo kalo gue lagi datang bulan? Kayaknya gak perlu juga." Jawab gue, gue udah datang bulan kok cuma 1-2 hari aja. Gue rasa itu karena gue stres belakangan ini, gue udah sering kaya gini. Setiap gue setres dan banyak pikiran siklus datang bulan gue gak beraturan.
"Ibu lo masuk rumah sakit karena terlalu setres. Bahkan katanya dia mulai linglung sekarang sering duduk di teras pas di tanya ngapain nungguin lo pulang katanya." Cerita Renjun
"Apa lo bilang?" Gue tanya Renjun buat memastikan ucapannya barusan
"Singkatnya ibu lo udah hampir gila."
"Puas kan lo? Brengsek!"
"Itu belum ada apa-apanya Naya, tenang aja gue gak akan buat ibu lo menderita terlalu lama kok." Jawabnya sembari mengangkat bahu
"Jangan berani sekali-kali lo usik bunda!" Gue langsung bangkit dari duduk, nunjuk Renjun. Dia cuma ketawa.
"Emangnya lo bisa apa?"
"Cukup gue aja, dia gak tau apa-apa!"
"Iya gue ngerti kok." Jawab Renjun dengan santai sambil mengangguk. Lalu dia pergi gitu aja.
.
Udah 3 hari dari gue denger kabar bunda sakit, gue benar-benar gak tenang bahkan gue gak bisa tidur semalaman. Pikiran gue terus penuh memikirkan kira-kira kondisi bunda gimana sekarang? Gue cuma bisa berdo'a semoga mereka selalu baik-baik saja.
Mungkin karena terlalu setres juga rambut gue sampai perlahan rontok sekarang.
Gue kebangun sekarang karena perut gue sakit banget. Gue yakin ini karena gue lagi datang bulan hari pertama ditambah gue banyak pikiran, tapi rasa sakitnya keterlaluan gak kaya biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eccedentesiast [Huang Renjun]
Fanfiction21+ | Jung Naya,mahasiswi jurusan psikologi yang tanpa sengaja melihat suatu pembunuhan di universitasnya. Terpergok oleh kelompok pembunuh itu membuat Naya akhirnya terjebak di antara mereka, dalam permainan gila yang akan membuatnya kehilangan a...
![Eccedentesiast [Huang Renjun]](https://img.wattpad.com/cover/355062392-64-k827437.jpg)