Gue udah muak sama semua ini,gue pasrah aja dan berharap kali ini semoga gue mati beneran. Kayaknya udah hampir setengah jam gue di sini.
Cowok berbadan kekar masuk,yang gue tebak mungkin itu bodyguard nya cewek ini. Dia cuma diem di belakang gue,gue denger suara ribut-ribut di luar dan gak butuh waktu lama buat sosok renjun muncul.
"Lo memang gak pernah mengecewakan ya renjun." Ujar cewek itu berjalan ke arah renjun,tapi renjun mengeluarkan sebuah pistol di balik jaket dia dan mengarahkan ke cewek itu.
Dan bodyguard cewek itu yang ada di belakang gue juga gak diem aja,dia jambak rambut gue dan todongin pisau ke leher gue. Gue gak bisa apa-apa karena tangan sama kaki gue di ikat di kursi.
"Gak usah sok kenal sama gue." Ujar renjun
"Yahh,ayo negosiasi. Gue bawa naya dan lo nyerah aja urusan kita selesai. Lo bisa pergi gak perlu repot-repot."
"Atau lo berdua mati aja disini." Ujar cewek itu melanjutkan,renjun cuma senyum terus dia ketawa.
"Gue tau siapa yang suka pake cara ke kanakan gini,gue gak suka buang-buang waktu. Tentu saja gue pilih lo yang mati disini." Jawabnya,renjun mendekat ke cewek itu dan nodongin pistolnya tapi dengan tiba-tiba dia ngarahin pistol itu ke gue dan melepaskan tembakannya.
Gue syok bukan main,gue lihat kepala orang pecah dan darah segar menciprat ke wajah gue. Renjun baru aja tembak kepala cowok di belakang gue ini,dan gue yang lagi di jambak otomatis melihat ke atas. Dan gue beneran lihat gimana peluru itu nembus kepalanya,gue cuma bisa bengong saking kagetnya. Kejadian itu terus terbayang-bayang di kepala gue,bau amis darah benar-benar menyengat dan bikin gue pusing sekarang.
"Naya!!" Teriak renjun menyadarkan gue dari lamunan gue
"Lo gila renjun!! Apa-apaan itu tadi,brengsek.. gue takut banget,lo gila!!" Ujar gue histeris,gue rasa gue udah di ambang batas kewarasan akal sehat gue.
"Jangan bego,gue lakuin itu juga buat lo!" Sahutnya,gue baru menyadari kalau sekarang renjun lagi bertarung sama cewek itu. Saling pukul gak tanggung-tanggung sampai gue ngeri sendiri melihatnya,cewek itu hebat bisa mengimbangi setiap pukulan renjun dan dia gak tumbang meskipun renjun pukul berkali-kali padahal pukulan renjun luar biasa menyakitkan menurut gue.
Gue berusaha lepasin ikatan tangan gue sekuat tenaga,tangan gue di ikat ke belakang. Gue lihat renjun semakin terpojok,dia udah babak belur banget.
Gue makin khawatir kalau dia bakalan kalah.
"Renjun!!" Teriak gue,renjun lengah dan cewek itu ternyata punya pisau di balik bajunya berhasil nusuk perut renjun. Renjun langsung jatuh ke lantai,tapi dia langsung cabut pisau itu dan melemparnya ke sembarang arah. Gue semakin histeris pas lihat cewek itu injak perut renjun yang luka dan teriakan kesakitan renjun benar-benar menakutkan buat gue.
Cewek itu ketawa,lalu dia duduk di perut renjun dan mulai cekik renjun.
"Naya.." ucap renjun,dia berusaha buat melawan dengan mencengkram tangan cewek itu,tapi renjun yang mulai kehilangan banyak darah gak bisa berbuat banyak.
"Lihat,siapa yang akan mati duluan." Ujar cewek itu sambil ketawa-ketawa.
Gue semakin paksain tangan gue buat lepas,gue gigit kerah baju gue dan gue tarik tangan kiri gue. Dapat gue rasakan kulit tangan gue kaya mengelupas tapi untungnya tangan gue berhasil lepas.
Gue buru-buru lepas ikatan di kaki gue,gue abaikan darah yang terus mengucur di pergelangan tangan sama paha gue,gue bawa tali itu dan lari terpincang-pincang nyamperin renjun. Gue cekik cewek itu pakai tali yang ada di tangan gue,semakin cewek itu cekik renjun semakin gue kencangin juga jeratan di lehernya sampai cewek akhirnya ngelepasin tangannya dari leher renjun.
"Lo buk-aann pembunuh nay.." ujar cewek itu
"Persetan..." Teriak gue,entah keberanian dari mana buat gue semakin mengencangkan cekikan gue di leher cewek itu. Cewek itu sedikit menggelinjang dan kemudian terkulai lemas,gue dorong tubuh cewek itu buat menjauh dari renjun.
"Kerja bagus naya." Ujar renjun sambil berusaha bangun dengan susah payah.
"Kita bawa cewek itu ke rumah sakit juga?" Tanya gue
"Buat apa? Dia udah mati,lo juga mau jadi tersangka pembunuhan emangnya?"
"Dia cuma pingsan,gue gak bermaksud buat bunuh dia. Gue-" ucapan gue terhenti ketika gue benar-benar melihat cewek itu udah gak bergerak lagi terkapar di lantai dengan mata melotot.
"Gue gak mungkin bunuh orang,gue udah bunuh seseorang. Ini gila,gue gak mau jadi pembunuh! Gue gak maksud buat bunuh dia!!" Gue mulai nangis histeris,gue udah bunuh seseorang dengan tangan gue sendiri. Ini gila,gue jadi seorang pembunuh!
"Tenang nay,gue yang akan beresin ini. Gue akan pastikan gak ada satupun orang yang tau tentang ini."
"Bukan itu masalahnya brengsek,gue pembunuh!! gue udah bunuh orang lain!!"
"Lo gak sengaja bunuh dia,lo melakukan itu buat perlawanan itu gak salah! Dengar naya,apapun yang terjadi akan gue pastikan lo gak akan pernah terseret sama semua ini. Lo percaya gue kan?" Jawab renjun,dia usap air mata gue dan gue tatap mata dia. Gak ada sedikitpun keraguan buat gue percaya sepenuhnya sama renjun. Gue mengangguk pelan.
"Sekarang bantu gue beresin kekacauan ini sebelum pergi." Ucap renjun.
Gue sedikit kaget melihat setidaknya ada 5 pria yang terkapar dengan genangan darah di sekitar tubuh mereka,yang dapat gue pastikan kalau mereka pasti udah mati juga.
"Bantu gue buat seret mereka ke dalam nay." Perintah renjun,gue ikutin renjun. Kita bekerjasama buat seret mayat-mayat itu ke dalam,menuangkan minyak tanah dan membakar gedung yang sepertinya bekas pabrik ini.
Renjun juga gak lupa buat ninggalin senjata yang dia bawa sebelum pergi dan ikut membakarnya.
....
"Ren.." ujar gue,mobil yang kita kendarai sedikit hilang kendali. Gue lihat renjun hampir kehilangan kesadarannya,gue baru ngeh kalau baju yang dia pake udah benar-benar basah sama darah yang terus keluar dari luka di perut dia.
"Menepi,gue telepon bantuan." Ucap gue,renjun menggeleng pelan.
"Jangan,kalau lo telepon layanan darurat kita bakalan masuk penjara."
"Tapi lo kehilangan banyak darah renjun."
"Yangyang udah otw kesini."
"Kalau gitu kita tunggu aja." Ucap gue,renjun nurut dan menepi. Menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang gue gak tau ini dimana dan jalanan sangat sepi. Kanan kiri kita cuma tanah lapang yang dipenuhi tumbuhan ilalang.
Gue buka baju dan gue pake buat menahan darah yang keluar dari perut renjun,gue lihat luka nya cukup parah. Gue tekan luka itu buat menghentikan pendarahannya,renjun sedikit meringis.
"Bertahan sebentar lagi,lo pasti bisa." Ucap gue,renjun cuma senyum.
Dia raih pipi gue dan mencium bibir gue singkat.
"Apapun yang terjadi,cuma yangyang yang bisa lo percaya." Bisik renjun
"Gue gak akan percaya siapapun lagi selain lo." Jawab gue
"Lo suka sama gue ya?" Kekeh renjun
"Brengsek,lo masih bisa bercanda?" Ujar gue jengkel,renjun tertawa pelan tapi lalu dia meringis.
"Naya,cium gue." Pinta renjun,tanpa banyak omong gue cium bibir pucatnya. Tangan renjun bergerak menyentuh pipi gue,lalu tangan itu jatuh terkulai begitu saja.
"Renjun.." ujar gue pelan menyentuh pipinya,mata renjun terpejam dan dia gak merespon gue sama sekali.
"Ren,bangun.. lo gak boleh tidur sekarang,lo harus jaga kesadaran lo. Renjun.." gue berusaha buat bangunin dia,gue guncang bahunya.
"Renjun,gue tinggalin lo kalau lo bercanda sekarang. Renjun!!" Gue mulai panik,gue nangis sekarang. Gue emang benci dia tapi gue juga takut,entah kenapa gue takut kalau gue harus kehilangan renjun. Mungkin karena gue benar-benar gak punya siapa-siapa lagi selain dia buat bergantung sekarang,atau gue yang mulai suka sama dia yang jelas gue gak mau kehilangan renjun.
"Renjun..." Gue menangis meraung peluk renjun yang gak bergerak sama sekali.
To Becontined...
KAMU SEDANG MEMBACA
Eccedentesiast [Huang Renjun]
Fanfic21+ | Jung Naya,mahasiswi jurusan psikologi yang tanpa sengaja melihat suatu pembunuhan di universitasnya. Terpergok oleh kelompok pembunuh itu membuat Naya akhirnya terjebak di antara mereka, dalam permainan gila yang akan membuatnya kehilangan a...
![Eccedentesiast [Huang Renjun]](https://img.wattpad.com/cover/355062392-64-k827437.jpg)