Bertemu

492 35 3
                                        

Gue kira gue gak akan bangun lagi setelah melakukan aborsi itu,tapi lagi-lagi gue rasa tuhan mau melihat gue lebih tersiksa dengan membiarkan gue tetap hidup.
Gue yang pendarahan dan hampir lewat kemarin dibawa ke rumah sakit besar,dan setelah 5 hari menghabiskan beberapa kantung darah gue baru dibolehkan pulang.

"Gue rasa gue udah tau siapa kaka lo." Ucap renjun

"Kapan lo cari tau?"

"Enggak ini baru dugaan, melihat haechan yang menginginkan lo sebesar itu gue rasa kakak lo jung jaehyun. Kayaknya jaehyun yang itu, pengusaha muda yang terkenal." Ujar renjun

"Gue gak tau." Jawab gue

"Kita cari tahu nanti setelah lo benar-benar pulih." Ucap renjun, gue hanya mengangguk menanggapinya.
Setelah menebus resep obat kita berjalan ke arah parkiran di basement rumah sakit ini.

Renjun memutuskan buat kita pulang ke apartemen yang dulu lagi, karena di rumahnya masih tidak aman. Masih banyak orang-orang aneh yang memata-matai di sekitar rumah renjun dan entah apa mau mereka.

Kita memasuki lift bersamaan dengan seorang bapak-bapak yang memakai jaket tebal,sedikit mencurigakan. Mungkin dia pasien yang kabur, siapa yang peduli. Gue merapat berdiri di samping renjun, sementara dia repot dengan 2 tas besar yang berisi baju-baju ganti juga keperluan kita selama di rumah sakit kemarin.

Gue sedikit tidak nyaman karena si bapak tadi ternyata mengikuti kita, tapi gue pikir mungkin memang mobilnya parkir di dekat mobil renjun juga. Gue menggandeng tangan kanan renjun yang dia masukan ke dalam saku jaketnya,sementara tangan kirinya menenteng tas.

.....

    Gue kembali lagi ke tempat ini, gue dilanda perasaan aneh yang gak bisa gue jelaskan. Kepala gue mendadak berat, jantung gue berdebar gak karuan dan dengan cepat kilas balik semua hal yang sudah pernah terjadi disini berputar di kepala gue.
Gue melangkah mundur sampai menubruk pintu, ingatan soal pemerkosaan dan penyiksaan yang renjun lakukan sama gue dulu terus berputar di kepala gue.

"Enggak.." gumam gue, gue mulai panik. Gue jatuh terduduk.

"Naya.." panggil renjun sembari mengulurkan tangannya

"Jangan sentuh gue brengsek!!"
Gue meringkuk di lantai, menutup kedua telinga gue. Banyak suara yang berteriak di kepala gue bilang 'bunuh dia!'

"Gue gak mau.. gue gak mau!!"

"Naya... Naya.." renjun raih tangan gue, membuat kesadaran gue kembali dan gue mulai bisa mengendalikan diri lagi.

"Kita tinggal di hotel aja." ujar renjun setelah gue cukup tenang.

"Gapapa, gue baik-baik aja kok."

"Lo bisa gila kalau terus disini."

"Gue gak tau kalau sekarang trauma gue jadi sebesar itu, tenang aja gue masih bisa kendalikan semuanya."

"Lo yakin?"

"Gue rasa, kita coba aja dulu." Jawab gue, renjun mengangguk setuju.

.....

   Gue gak tau sekarang jam berapa, gue maupun renjun masih terjaga. Kita cuma saling diam berbaring di atas ranjang menatap langit-langit kamar.

"Naya, ayo kita menikah." Ujar renjun tiba-tiba, gue berbalik menatapnya lalu tertawa.

"Jangan gila."

"Gue serius nay.." renjun bangun dari ranjang, mengambil sesuatu dari dalam saku jaket yang ia kenakan tadi siang. Sebuah kotak cincin.

Eccedentesiast  [Huang Renjun]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang