2. Berbincang kecil

10.3K 611 232
                                        

↷✦; w e l c o m e ❞

Di pagi hari yang cerah, banyak sekali remaja yang sudah sibuk dengan keberangkatan mereka menuju sekolah. Beberapa dari mereka terlihat tergesa-gesa, sambil menyantap roti di tangan atau membenarkan dasi seragam yang miring. Suara langkah kaki mereka berpadu dengan suara motor yang dinyalakan, juga obrolan ringan antar teman yang kebetulan satu arah.

Tak jauh dari sana, para Ibu rumah tangga sudah memulai rutinitas pagi mereka. Ada yang menyapu halaman sambil mengenakan daster, ada juga yang sibuk menyiram tanaman dengan selang atau ember kecil, kadang sambil mengobrol dengan tetangga sebelah. Suasana pagi itu hidup, tapi tetap terasa damai.

Yang menarik, hampir semuanya terbangun karena satu hal sederhana namun khas, yaitu suara ayam berkokok. Suara ayam itulah yang berbunyi, entah dari jam berapa mulai bersahut-sahutan, menggema sampai ke lantai atas dan lorong-lorong sempit.

Dari atas balkon rumah, atau dari jendela kos-kosan, pagi itu tampak sangat indah. Cahaya matahari naik perlahan di balik pepohonan dan genteng-genteng rumah, menciptakan warna oranye lembut yang menyapu langit biru muda. Rasanya hangat di mata, dan di hati juga.

Dan ya, jangan heran kalau di kos-kosan ada suara ayam. Soalnya, tepat di belakang bangunan itu ada kampung kecil, dengan deretan rumah yang saling berdempetan dan suasana yang masih asri. Salah satu warga di sana, kabarnya, memelihara banyak ayam. Suaranya jadi langganan alarm alami untuk semua penghuni sekitar, termasuk yang tinggal di lantai tiga kos.

Yah.. jadi banyak sekali ayam miliknya yang berkeliaran. Bahkan sampai ke sini hanya untuk membangunkan manusia yang begitu malas dengan perjalanan mereka menuju masa depan.

Jika yang lain malas memikirkan perjalanan masa depan mereka, maka berbeda dengan seorang pemuda yang tengah berada di sebuah kosan kecil, agak tersembunyi di antara deretan bangunan kota. Ia tidak sendiri. Sudah dua hari terakhir ini, ada seorang anak kecil yang 'menumpang' tinggal bersamanya.

Bayangkan, dua hari. Dua hari yang terasa seperti dua tahun bagi pemuda bernama Taufan itu.

Awalnya, ia pikir anak itu hanya mampir. Tapi ternyata, entah karena nyaman atau memang tidak tahu jalan pulang, anak kecil itu tetap tinggal. Bukan hanya tinggal, tapi juga menempel seperti lem. Ke mana pun Taufan pergi, anak itu mengikut. Bahkan saat mandi pun nyaris ikut berdiri di depan pintu kamar mandi sambil bertanya, "Udah selesai, Ibunda?"

Selama itu juga, Taufan berkali-kali melirik ponselnya, membayangkan telepon dari orang tua si bocah, atau mungkin nomor asing yang ternyata salah satu keluarga anak itu. Seolah tidak ada yang mencari anak sekecil itu. Dan mau tak mau, kekhawatiran mulai tumbuh di dalam dirinya.

Taufan benci itu.

Ia benci perasaan itu. Rasa peduli yang tumbuh tanpa izin. Yang merayap pelan-pelan, lalu tiba-tiba mengambil alih.

Padahal dia orangnya tipikal yang tidak pedulian dan tidak suka ribet. Dunia ya.. dunia dia sendiri.

Namun, sejak anak kecil yang imut dan sedikit dungu itu hadir dengan mata bulat yang selalu penasaran dan tawa renyah yang bisa muncul hanya karena sandal terbalik, semua rasa 'tidak pedulian' itu seperti menguap. Hilang begitu saja. Berganti dengan sesuatu yang dulu pernah ada dan sempat dia lupakan yaitu rasa peduli.

Dan sekarang, dia benci itu.

Tapi anehnya, ia juga merindukannya. Merindukan rasa hangat yang muncul ketika ia menyuapkan sesuap nasi ke mulut mungil itu, atau ketika ia menepuk pantat kecilnya agar cepat tertidur.

Makannya Jangan Menduda! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang