"Aru!"
Perempuan dengan almet biru tua itu menoleh ke asal suara. Garis senyuman mulai terlihat saat menangkap sosok laki-laki yang baru turun dari motor.
"Lula mana?"
Aruna terdiam. Binar pada matanya meredup dalam sekejap. Ada perasaan aneh yang melingkupi hati saat bukan dirinya yang ditanyakan, namun Kalula. Lagi dan lagi. Aruna menunduk dengan mata terpejam. Remasan pada map plastik yang sedari tadi digenggam semakin menguat.
Hati Aruna memanas.
"Gara, bisa anterin gue pulang?"
Pertanyaan Aruna membuat pandangan Anggara terpecah. Beralih pada perempuan yang berdiri di hadapannya.
"Lula mana?" Bukannya menjawab, pertanyaan yang sama kembali terucap. Hendak melangkah masuk melewati gerbang SMANTA yang sudah terbuka lebar, menandakan waktu sekolah sudah usai. Namun ucapan Aruna membuat langkahnya terhenti.
"Jangan masuk, Gara!" Teriak Aruna menarik lengan teman laki-lakinya itu untuk kembali mundur.
"Bukan mau cari ribut, gue cuma susul Lula," ujar Anggara menatap aneh wajah panik Aruna.
"Dia udah pulang," beritahu Aruna lalu mengambil posisi duduk di atas motor sport Anggara yang terparkir di depan gerbang. Aruna dengan sikap seenaknya.
"Sama siapa? Lo gak bohong lagi, kan?" tanya Anggara dengan tatapan tajam.
Lidah Aruna untuk sekedar menjawab kata tidak saja rasanya kelu. Belum lagi tatapan Anggara yang membuat dirinya terancam. Wajah Aruna memucat saat tangan besar itu dengan tiba-tiba mencengkram pergelangannya kuat. Jarak keduanya hanya sebatas jari telunjuk. Yang mana membuat Aruna mengerjap pelan dengan senyuman malu. Namun tidak dengan Anggara, masih ada perasaan ragu tentang ucapan Aruna.
"Gue gak bohong," jawab Aruna mantap. Menepis perasaan bersalah, mencoba tidak peduli dengan keadaan Kalula yang mungkin sudah dari pagi membutuhkan pertolongannya.
Aruna boleh jahat, bukan?
Selalu tentang Kalula.
Kenapa Anggara tidak peduli padanya?
Aruna benci akan itu.
Sepele, namun kehadiran Kalula yang memecah persahabatan mereka. Tiga tahun yang lalu, Kalula datang dan perasaan Anggara menghilang. Tidak lagi tertuju pada Aruna.
"Woi, ada yang pingsan nih!" Teriakan menggema di koridor kelas 11, disusul teriakan histeris murid perempuan yang mana membuat para siswa yang masih berkeliaran di sekolah mengambil langkah untuk mendekat.
Beberapa dari mereka tampak berlarian ke arah ruang guru. Namun tidak ada satupun orang yang membantu tubuh lemas perempuan berwajah pucat itu.
"Dagunya lebam."
"Kepala bagian belakangnya ada bekas darah, ih kasihan."
"OSIS gak ada yang bantu apa dari tadi?"
"Dibayar kali, mana ada yang bisa ngelawan anak DPR."
"Bu Sena pasti punya alasan lagi nih buat nutupin kelakuan biadab anaknya."
"Kalula, lo masih sadar, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Teen Fiction"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
