Kapan terakhir kalinya berdiri di hadapan ribuan penghuni SMANTA dengan kepala terangkat? Kedatangan pertama penuh harap berujung perundungan habis-habisan. Semua mata tertuju bukan untuk mencurahkan kekaguman, tetapi penuh ejekan dan gerakan mulut yang menghasilkan kata penuh hinaan.
Dijauhi.
Asing di tengah-tengah keramaian.
Sendiri.
Tanpa teman.
Bahkan tempat pengaduan.
"Dua tahun." Terjeda kata karena debaran keras di dalam tubuh. Mengangkat dagu tidak ingin lagi menunduk untuk menyembunyikan pilu. Ini waktunya, untuk bicara pada dunia bahwa Kalula pantas untuk dipandang layaknya manusia biasa.
"SMANTA membuat saya putus asa. Dengan segala isinya yang kehilangan rasa. Otak ini bertanya-tanya, kenapa saya berbeda? Kenapa harus saya? Kenapa kaki pincang yang dititipkan malah menjadi canda orang-orang yang katanya sempurna? Hanya ada kenapa dan kenapa," tutur melemah seiring pijakan yang goyah. Kalula tatap seluruh penjuru lapangan yang penuh. Menyalurkan kebingungan pada mata yang sudah jenuh dengan segala ketidaksetaraan.
"Kalula anak pincang."
"Yah, itu saya. Perempuan cacat yang selalu menjadi topik pembicaraan di lingkungan SMANTA." Suara Kalula memarau saat perih
menyeruak pada tubuh. Pegangan pada mikrofon mulai bergetar tidak mampu melanjutkan.
Hening.
Tidak ada lagi sorak ramai yang menunjuk Kalula untuk jatuh, semua orang tertunduk dengan mulut yang membisu.
Mengukir senyuman tipis walaupun rasa sakit masih terasa di area bibir. Arah mata yang terfokus pada titik permasalahan, keangkuhan yang masih tergambar dengan sudut bibir terangkat meremehkan. Hanya Aurora yang enggan untuk saling tatap, perempuan yang sedari tadi bergerak resah menatap orang tuanya.
Bu Sena yang terdiam tanpa kuasa.
"Jangan pulang sebelum dipukul berulang-ulang. Peran empat orang penguasa yang paling meninggalkan bekas luka, mereka koyak sampai berdarah dan seluruh mata menatap iba, tapi satu tangan pun tidak diberikan kepada saya," lanjut Kalula diakhiri gelengan kepala miria menegangkan suasana. Pancaran mata yang menyala terbuka memperlihatkan emosinya.
"Bully dianggap biasa. Cacian, dorongan, pukulan, bahkan tamparan dipandang layaknya permainan. Seperti yang Bu Sena bilang, wajar jika kecacatan kaki saya dijadikan candaan para remaja. Wajar? Pikiran gilanya orang berjabatan," ujar Kalula meluap-luap. Menatap marah pada wanita berumur di depan.
"Pengaduan saya Bu Sena tulikan. Justru membela anak yang minim perasaan. Posisi sebagai kepala sekolah disalahgunakan, hak saya sebagai pelajar dilupakan dan mata melihat namun diabaikan. Tubuh saya sudah terlalu hancur, Bu. Tiap hari bisikan untuk mati selalu mengisi relung hati, menekan, sakit otak saya dibuatnya." Terisak mundur beberapa langkah, meremas sisi seragam menyalurkan amarah yang tidak bisa tumpah. Terlalu berbelit-belit kata untuk menjelaskan semua rasa sakitnya.
Tanpa bercerita semua orang tahu bagaimana Kalula diperlakukan hina.
"Keadilan, saya butuh itu. Menuntut pelaku mengaku dan bertanggung jawab," kata Kalula disambut suara-suara persetujuan.
Banyak acungan tangan yang melambai untuk menyemangati dan telunjuk yang mengarah pada pelaku dengan tutur kata benci. Manusia memang cepat berubah-ubah, melihat satu titik yang terluka menyerang habis titik yang tersisa.
"Orang tolol malah diam, gerak cepat oii."
"Minta maaf aja sesulit itu."
"Orang sombong mana mau nunduk."
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Teen Fiction"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
