Bab 42 [ HAI, INI NISKALA! ]

5.6K 247 16
                                        

Sesak mengisi penuh rongga dada ketika membuka mata wajah panik bercampur senang menjadi objek menarik bagi Kalula. Ruang bercat putih khas rumah sakit ini tampak ramai diisi, dapat Kalula tangkap kelegaan pada masing-masing wajah mereka.

Kepala menoleh pelan ke arah kiri. Menemukan laki-laki berwajah kusut itu bertopang dagu seraya memberikan senyuman tipis, tenang dan nyaman bagi pandangan Kalula.

"Mana yang sakit?" Tanya Anka parau. Tubuhnya bergerak lebih dekat, menelisik wajah pucat Kalula yang sesekali meringis kecil saat rasa perih menjalar ke sekujur tubuh.

"Perut aku," jawab Kalula lemah. Mata terpejam berusaha menahan agar lenguhan dari luka yang tidak sengaja ia tekan. Kalula tatap dengan lamat seluruh penghuni yang menjadi saksi.

Tersenyum tipis seolah mengungkapkan ucapan terima kasih karena telah berkunjung dan meluangkan waktu melihat keadaannya.

"Jangan banyak gerak, luka kamu masih basah," beritahu Anka menyibak rambut Kalula yang menghalangi pandangan mata perempuan itu.

Disusul tangan kanan Anka menyodorkan satu gelas air pada Kalula. Laki-laki itu tersenyum mengusap pucuk kepala, berbisik mengucapkan kata yang membuat dahi Kalula berkerut dan memancarkan kebingungan pada mata.

"Satu minggu?"

Anka mengangguk. "Tidur kamu nyenyak banget. Capek banget, ya?"

Terpaku, masih mencerna ucapan Anka. Apakah selama itu? Jika memang benar, satu pertanyaan yang muncul.

"Papa gak pernah ke sini?" Pelan tapi terdengar jelas oleh semua orang. Saling lirik dan serentak membuang muka.

Anggara tertawa kecil dengan kedua tangan yang terbuka, merengkuh hangat tubuh lemah Kalula. Mengecup pelipis saudaranya itu lama, dengan usapan pada pipi kiri.

"Ada kami."

Jawaban Anggara membuat Kalula terpejam dalam pelukan. Menyembunyikan raut kecewa pada belitan tangan Anggara, Kalula kesal mendengarnya. Masih tidak kunjung Kalula dapatkan perhatian Juna, disaat tubuhnya melawan untuk tetap hidup.

"Jangan pikirin orang yang gak pernah peduli sama kita, Kalula. Sejatinya, kita memang udah dituntut dari kecil kayak gini, kan? Udah biasa sendiri, berharap apalagi? Banyak sakit karena Papa, jangan tanya dia lagi, ya. Kalau akhirnya kamu kembali nangis, terus berharap dan berharap," tutur Anggara lembut, cukup merasa bersalah akan ucapannya yang kembali membuat Kalula bergetar. Memang tidak terdengar isakan dari bibir Kalula, tapi Anggara dapat menyimpulkan ada tangis yang kembali runtuh dalam diamnya mulut.

"Kamu harus sehat, banyak yang lebih peduli, walaupun itu gak sebanding dengan harapan."

Luruh tanpa suara.

"Kangen," bisik Kalula semakin menekan kepala pada dada Anggara. Mencengkram punggung saudara laki-lakinya itu geram, sulit untuk menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Entah tubuh atau malah hati yang perlu diperbaiki lebih dulu.

Anggara melerai pelukan itu. Melirik laki-laki yang berdiri tepat di depan pintu, menyaksikan dalam diam interaksi hangat keduanya sedari tadi.

"Ada yang mau ketemu," kata Anggara menaruh dagu pada kepala Kalula. Kembali membawa masuk tubuh kurus itu ke dalam pelukannya, tidak ingin jauh. Karena mimpi buruk yang beberapa hari terakhir terus menghantui pikiran Anggara, di sana, kesedihan yang membuncah, kehilangan, dan kehancuran pada hidupnya, Kalula pergi.

Semua orang tampak mengerti akan ucapan Anggara. Mereka mundur, melangkah keluar dan memberikan ruang bagi tiga saudara itu.

"Cepat sembuh." Anka menepuk sisi kepala Kalula gemas, membuat perempuan itu terkekeh menatapnya. Hendak memeluk Anka, namun Anggara menahannya. Menciptakan raut kesal pada wajah pucat Kalula dan dengusan malas dari Anka.

TRAGEDI 23.59 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang