Menit berlalu namun Kalula tidak jenuh menunggu. Pesan yang tadi Anka kirimkan berhasil membuat bibirnya tersenyum begitu manis. Rasanya luka yang baru tertoreh tadi siang sesaat pudar ketika Anka mengajaknya untuk menghabiskan waktu senja di bukit kecil tidak jauh dari pusat kota.
Tatapan Kalula beralih saat bangku disebelahnya terisi. Kedatangan Bu Sena membuat suasana Halte seketika hening. Sekumpulan siswa yang tadi berisik mulai mengambil jarak untuk memberikan keduanya ruang.
"Kamu, baik?"
Apa itu?
Rasanya ingin tertawa.
Kalula melengah lalu kekehan kecil memecah perhatian Bu Sena yang sedari tadi terfokus pada jalanan. Kepala Sekolah yang mulai berumur itu menatap Kalula rumit.
"Manusia mana yang baik ketika terluka berkali-kali, Bu?"
"Maafkan Aurora. Pikirannya masih labil, wajar. Dia remaja yang masih membutuhkan figur orang tua untuk membimbingnya. Mereka hanya bercanda, Kalula!" jelas Bu Sena pelan.
Kalula termenung. Jadi, sebuah hal yang wajar ketika hidupnya dipermainkan. Kaki cacatnya yang dijadikan bahan omongan banyak orang adalah sebuah candaan ketika mereka bosan. Labil adalah satu kata yang selalu terucap dari Bu Sena, berusaha agar putri kesayangannya tidak bersalah.
"Candaan mereka buat mental saya berantakan. Tubuh saya bukan mainan buat anak-anak manja seperti mereka, saya manusia dan punya rasa," ungkap Kalula.
Bu Sena terdiam. Tidak memberi sanggahan akan ucapan Kalula. Hanya diam dengan pikiran yang tidak menentu.
"Jika Aurora berada di posisi saya, apa yang Bu Sena lakukan?"
"Aurora beruntung mempunyai orang tua yang peduli, namun saya? Hilang, Bu. Bahkan sebelum saya masuk di lingkungan SMANTA." Kalula mendongak sembari memejamkan mata, menahan cairan bening itu agar tidak keluar lebih banyak.
"Aurora dan teman-temannya pasti mempunyai alasan, kamu membuat kesalahan, ya?" tanya Bu Sena masih tetap pada pendirian.
"Aurora anak yang baik. Tidak seperti pengaduan kamu, dia bukan anak nakal."
Kalula menggeleng dengan raut wajah menolak. Sangat jelas tidak terima akan pendapat Bu Sena tentang Aurora. Orang baik tidak akan melukai siapapun untuk dipandang banyak orang.
"Cacat adalah panggilan dari penghuni SMANTA untuk saya. Bukan kesalahan namun kekurangan yang membuat mereka jijik dan merasa paling sempurna untuk dibandingkan. Orang baik tidak akan bersikap seperti itu kan, Bu? Aurora jelas tidak menerima keberadaan saya di sana."
"Selain itu posisinya juga tergeser sebagai perwakilan lomba menggambar tahun lalu, dia tertantang. Karena apa? Karena terbiasa sedari kecil dimanjakan, terbiasa mendapat sesuatu yang diinginkan tanpa perlu perjuangan. Anak manja memang sering berlaku seenaknya," tutur Kalula semakin membuat Bu Sena memanas. Terbukti dari wajahnya yang memerah dengan bibir menipis menahan geraman emosi.
Mata yang semula menatap Kalula teduh berubah dengan cepat. Tatapan tajamnya dengan tangan yang terangkat hendak melayangkan satu tamparan pada pipi Kalula.
"Bukan anaknya tapi didikannya yang salah. Orang berkuasa seperti kalian terlalu berambisi agar selalu dipandang sebagai Tuhan. Menyepelekan para rakyat kecil yang pengaduannya disepelekan," lanjut Kalula lalu melangkah mundur. Menatap remeh pergerakan tangan Bu Sena yang terhenti, untuk kali ini izinkan Kalula melawan. Mengungkapkan yang selama ini membuat pikirannya berkecamuk, mempertanyakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Ficção Adolescente"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
