Bab 7 [ SEMUA UNTUK ATMA ]

6.9K 296 5
                                        

Yang buruk tidak akan pernah terlihat menarik.

Kalula tersenyum pedih. Rentangan tangan menurun dengan harapan yang pupus. Matanya berkaca dan hati yang tiba-tiba memanas.

Perihal Papa Kalula selalu lemah.

Bukan dirinya yang dipeluk. Bukan kepalanya yang dikecup. Dan bukan matanya yang ditatap dengan redup. Atma dan Atma. Selalu tentang dia.

"Atma berangkat bareng Papa, ya."

Juna jelas mengangguk. Tidak pernah ada penolakan menyangkut Atma.

"Besok Atma tampil di pentas seni sekolah. Papa sama Mama harus datang, ya!" tutur Atma menatap orang tuanya bergantian.

"Pertama kalinya Atma tampil di depan banyak orang. Atma senang, teman-teman Atma juga banyak yang dukung."

"Oh, ya?" Juna mengacak rambut Atma yang terurai dengan bandana sebagai hiasan yang membuat tampilannya menarik.

"Anak Papa selalu yang terbaik," balas Atma menepuk dadanya bangga. Membuka mulut menerima suapan Gitta, Mamanya.

Atma diperhatikan.

Begitu pandangan Kalula.

"Turnamen basket kamu juga minggu depan kan, Bang?" tanya Juna beralih pada sosok Aksa yang menikmati sarapan dengan tenang.

"Abang pasti menang, kan berbakat."

Aksa terkekeh mendengar ucapan Atma. Benarkah? Aksa hanya berharap baik untuk ke depannya.

"Kalah atau menang, Papa tetap bangga. Menjadi yang terbaik adalah bonus, tapi melakukan yang terbaik itu harus," jelas Juna yang ditanggapi dengan senyuman kecil oleh Aksa.

Keluarga yang hangat. Petuah yang sampai kapan pun tidak akan pernah Kalula dapatkan. Peran yang hanya ditujukan pada Aksa dan Atma bukan untuk Kalula. Menjadi pengecualian untuk menerima hak yang seharusnya, Kalula dibiarkan berpikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Dituntut untuk belajar tanpa diajar. Didesak untuk paham tentang hal yang tidak dimengerti.

"Keadaan yang buat aku se dewasa ini," lirih perempuan dengan rambut terkepang dua itu.

Kunyahannya semakin memelan dan terpaksa menelan makanan. Mata yang kian memerah disembunyikan, menunduk dengan jari yang mencengkram sendok erat. Menyalurkan kecemburuannya di sana, menahan tangis yang tumpah dan bulir air mata.

Hidup di abaikan seperti ini rasanya menyakitkan.

Tidak bisa diungkapkan.

Kalula dilarang untuk mengemukakan.

"Cepat! Jangan sampai telat, awas aja kalau saya dapat panggilan dari sekolah!" Suara tegas disusul delikan sinis dari Gitta membuat Kalula tersentak dan sadar.

Menoleh pada pintu dan menangkap ketiga punggung yang mulai hilang. Hanya tersisa mereka berdua di ruang makan.

"Lula pamit, Ma!" Kalula menarik nafas saat uluran tangannya di tatap tajam. Memilih berbalik dengan bahu merosot, tidak pernah ada senyuman ketika berangkat sekolah, selalu suram.

TRAGEDI 23.59 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang