Bab 26 [ PERMAINAN RASA ]

5.3K 258 4
                                        

Terukir begitu manis senyuman dari wajah pucat yang beberapa menit lalu membuka mata. Bibir Anka berkedut dengan telapak tangan menepuk pelan sisi wajah Kalula. Bingung untuk menanyakan keadaan yang dapat Anka pastikan sendiri bahwa dia tidak baik-baik saja. Larut dalam hening dengan mata yang mengunci.

Bulir menupuk berisi ketakutan membuat Anka semakin menunduk, menempatkan posisi mulut pada telinga Kalula.

"Aku di sini."

Selepas kalimat terucap isakan kecil menyeruak memenuhi ruang. Sayup pilu didengar seolah meremas dada untuk mengucurkan air mata.

"Jangan sedih Kalula. Ayo kita perbaiki sama-sama." Anka tersenyum lembut menyalurkan ketenangan pada jiwa yang telah rusak itu.

"Sakit," tutur Kalula menunjuk area bibir yang menghitam, bekas luka bakar dari rokok itu tampak telah mengering dengan kulit bibir yang perlahan mengelupas.

Anka mengangguk. Turut menghapus jejak air mata yang membasahi pipi. Kemudian beralih pada rambut yang terpotong acak, merapikan dengan senyuman yang tidak luntur.

"Aku panggil dokter, ya."

Gelengan kepala diberikan sebagai penolakan. Kalula mencengkram lengan Anka yang terbalut jaket hitam. Matanya bergerak ke arah kiri menatap satu persatu penghuni lain yang sejak tadi ikut mendengar rintihan.

"Senyum dulu," titah Cakra meletakkan kedua telunjuknya di sudut bibir, menggerakkan untuk naik membentuk garis senyum.

Dan berhasil membuat Kalula mengeluarkan gelak tawa beralunan rendah. Serak menyedihkan.

"Cepat sembuh manis, nanti kita ngumpul bareng lagi, oke!" Benji menyahut sembari memperlihatkan pose wajah lucu pada Kalula. Kemudian melangkah mundur diikuti ketiga temannya. Memberikan waktu pada Kalula dan Anka untuk sekedar bercerita.

"Jelek, ya?" Kalula bertanya dengan bibir mengerucut dan jari yang memainkan surai rambut sebahu. Menunggu jawaban Anka yang masih tetap tersenyum kemudian tertawa geli.

"Mana ada? Kalula selalu cantik."

"Anka gombal, udah punya cewe juga," cetus Kalula membuang muka. Sedikit membasahi bibir yang mengering walau pada akhirnya meringis kesakitan.

Tarikan napas dari laki-laki yang duduk di sebelah ranjang itu membuat Kalula menoleh. Mengangkat alis kembali memasang senyuman. Tidak memberikan ruang bagi orang-orang untuk menatapnya kasihan pada situasi menyedihkan ini. Untuk ke sekian kalinya Kalula kembali berbohong tentang luka. Berusaha seperti tidak terjadi apa-apa.

Anka menopang dagu lalu satu tangannya lagi mengusap pipi tirus Kalula dengan lembut. Mencurahkan seluruh perhatian agar perempuan itu merasa ditemani.

"Ada yang sesak? Coba cerita sama aku. Kalau masih belum bisa gak papa."

"Jangan takut!"

"Aku bingung, mulai dari mana buat cerita, semuanya sakit, Anka." Kalula tertawa dengan napas kian melemah, seiring tetes air mata jatuh membasahi jari Anka yang berada pada sisi wajah. Terpejam menikmati usapan lembut yang menghapus jejak basah.

Menatap lurus manik kelam, berharap tanpa kata bisa memberitahu bagaimana beratnya berada pada posisi Kalula.

"Aku harus gimana?"

TRAGEDI 23.59 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang