Bab 41 [ SAKIT UNTUK DIKENANG ]

5.6K 252 20
                                        

Tidak ada yang berubah sejak satu minggu ini. Masih tetap sama, Kalula yang enggan untuk membuka mata. Membiarkan banyak orang memikirkan seperti apa akhir bagi tubuh yang semakin melemah. Tidak ada tanda-tanda akan kesadaran yang diharapkan oleh orang-orang tersayang, dia tampak nyaman dengan posisinya.

"Banyak yang luka," lirih penuh genangan air mata. Niskala terpaku, lalu terkekeh seraya merebahkan kepala menghadap Kalula.

Ruang inap selalu sepi di pagi hari, hanya ada Niskala yang selalu menemani, setiap hari, tanpa henti. Bentuk penembusan rasa bersalah karena lalai menjaga saudaranya.

"Lagi mimpi apa?" Tanya Niskala dengan dahi berkerut saat menangkap tetesan air mata mengucur ke daun telinga. Setiap Niskala mengajaknya untuk bercerita, mata itu senantiasa terpejam, tapi selalu mengeluarkan air mata. Menunjukkan kesedihan mendalam pada sosok Niskala yang selama ini diharapkan sebagai tempat berpulang dari segala derita.

Yah, Niskala saja yang terlalu pengecut untuk mengakui bahwa dia ada.

"Ayo, bangun. Kamu udah tidur lama banget, tubuhnya makin kurus, jelek," kata remaja itu tertawa menekan perasaan sesak. Niskala tidak pernah suka, benci saat rasa tersebut menumpuk di uluh hatinya dan berat untuk sekedar bercerita.

Jika bercerita pun pada siapa? Tidak ada yang Niskala punya selain Kalula. Saudaranya. Satu ayah dan satu ibu, berbagi tempat dalam kandungan, lahir dengan keadaan sehat, tapi kenapa Niskala dibuang? Semenjak lahir, dia ditiadakan.

"Kalula, Niskala di sini," bisik menyeruak penuh mengisi ruang yang sepi. Tidak ada hal yang lebih menarik selain menunggu kelopak mata Kalula terbuka. Semua waktunya untuk Kalula.

Menjelajah jejak luka yang masih basah dengan tatapan tidak terbaca. Sudut bibir Niskala berkedut, ingin berucap namun lidah terasa berat. Jarinya bergerak membelai wajah pucat Kalula, terdiam, dan kembali bergerak merapikan rambut sebahu itu. Masih dengan potongan acak.

"Dunia gak adil banget ya sama kita? Gak ada yang peduli. Semua sisi menyakiti. Kita gak punya apa-apa La, bagian mana lagi yang mau mereka rampas?" Rutinitas Niskala menceritakan tumpukan beban kepala.

Semakin meredup arah pandang Niskala saat rasa kantuk menyerang. Terpejam untuk sekedar mengistirahatkan, tapi telinganya secara jelas dapat menangkap derit pintu dibuka pelan. Disusul gesekan roda dan lantai merebut perhatian.

"Abang."

Datar tanpa senyuman. Siapa pun dapat menilai raut marah Niskala saat kedatangan dua sosok berbeda umur itu. Mulut ditutup rapat dengan pandangan menyelidik pada perempuan berumur satu tahun di bawahnya.

"Maaf datang tanpa izin."

"Lo gak punya hak buat panggil gue dengan sebutan itu." Balasan Niskala melunturkan senyuman manis pada wajah pucatnya.

"Niskala," tegur dari suara rendah pria paruh baya yang berdiri di belakang kursi roda.

Mengangkat alis dengan kepala sedikit miring pertanda bertanya, apa ada yang salah dari ucapannya? Niskala rasa tidak. Anak kesayangan Juna tidak mempunyai hak memanggil dirinya dengan sebutan yang diberikan untuk Kalula.

"Hanya satu."

Juna menghembuskan napas gusar, mengusap bahu Atma untuk menghibur agar tidak terlalu larut dengan ucapan Niskala.

"Kenapa kalian ke sini?" Nada sinis bercampur ekspresi tidak senang dari Niskala semakin membuat Atma merasa tersudut. Sorot mata sendu yang beradu nyatanya tidak membuatnya luluh. Hanya liputan dendam dari mata yang sama persis dengan Juna.

"Aku mau lihat keadaan Kakak," jawab Atma tersenyum tipis.

Niskala berdecak memasang raut wajah malas. "Jangan panggil Kakak, lo bukan siapa-siapa, entah itu bagi gue atau Kalula."

TRAGEDI 23.59 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang