Tarikan napas teratur dan wajah damai yang tertidur. Juna tidak henti-hentinya tersenyum tipis sembari mengecup puncak kepala Kalula. Setelah menjemput putrinya itu yang tadi sibuk menghabiskan waktu bersama Anka, Juna mengajaknya untuk ke pusat kota.
Tidak banyak.
Hanya berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam menyusuri jajanan kaki lima.
"Maafkan...Papa."
Gamang perasaan mengungkapkan kata tertahan. Terlalu banyak yang ingin disampaikan, sehingga membuat napas Juna beberapa kali tercekat.
"Dewasa lebih baik lagi, putri kecil Papa!" Bisik menusuk telinga Kalula. Menciptakan gerakan mata, kemudian terbuka membalas sendunya tatapan Juna.
Senyuman perempuan dalam dekapannya terulas samar dalam pandangan sebab air mata menggenang.
"Kenapa nangis?" Tanya Kalula pelan memecah keheningan mobil yang menyusuri jalanan malam. Menatap lekat Juna berharap bisa tahu alasan mata itu memerah.
"Aku buat salah?"
Juna menggeleng.
"Lalu? Kenapa Papa nangis? Hari ini ulang tahun aku, sebentar lagi mau rayain di rumah. Gak boleh sedih!" Ucap perempuan yang baru menginjak usia 18 tahun itu cemberut. Kedua tangan serentak menepuk pipi Juna berkali-kali.
"Papa tidak sedih, hanya saja masih bersyukur bisa dikasih kesempatan buat berada pada posisi ini. Bentuk tebusan dari semua luka yang dari lahir diberikan," balas Juna membawa tubuh Kalula semakin masuk dalam pelukan.
Menahan ekspresi sedih yang kian membuncah hendak memecah suasana hangat di antara mereka.
"Tiap orang berhak buat dikasih kesempatan kedua. Begitupun dengan Papa. Gak ada alasan aku buat nolak jika Papa memang mau berubah. Jangan sedih, oke! Besok aja. Hari ini aku mau bahagia dulu."
Aneh terdengar untuk Juna. Membentuk kerutan berusaha mencerna kata-kata terakhir Kalula.
"Pa?"
"Kenapa sayang?" Juna mengangkat alis bertanya. Jemarinya menyapu helaian rambut Kalula yang menghalangi wajah.
"Aku sayang Papa."
"Papa lebih sayang Kalula. Sayang banget," jawab Juna cepat.
"Rasanya pengen sama Papa terus, gak mau jauh. Aku pengen bahagia sebentar." Serak terucap tidak terlalu dapat Juna dengar karena merasakan guncangan beberapa kali pada mobil.
Tubuh setengah paruh baya itu menegak, meminta penjelasan pada sang sopir yang ikut panik.
"Kenapa?" Nada suara Juna meninggi saat laju mobil di penurunan jalan semakin tinggi.
"Maaf, Pak." Sopir tersebut melipat bibir dengan napas tertahan. Matanya membola menatap arah jalan yang sebentar lagi hendak sampai pada persimpangan. Kilatan lampu merah terlihat jelas di depan mata, namun laju mobil tidak kunjung berhenti.
Juna bergerak risau. Tangan cekatnya semakin memeluk tubuh Kalula erat, berdetak cepat jantungnya seolah tahu permasalahan yang secara tidak langsung diperlihatkan oleh tingkah supir di depan.
"Papa?"
"Tutup matanya sebentar, ya." Juna berucap lembut mengusap punggung bergetar Kalula, merasakan kegelisahan anaknya.
"Remnya blong?"
Membisu. Bibir Juna keluh untuk mengiyakan, lalu kepalanya enggan untuk memberikan jawaban.
Terlihat kembali senyuman manis pada wajah Kalula. "Yahh, pesta ulang tahunnya gak jadi."
"Jadi sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Teen Fiction"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
