Bab 37 [ DENDAM MENGGEROGOTI ]

5.8K 278 61
                                        

Ketujuh wajah laki-laki seumuran yang sering Kalula jumpai saat jam pulang. Kumpulan orang bermasalah selalu menjadi incaran. Kalula hadapi dengan buncahan ketakutan dan teriakan yang ditulikan. Tiap cengkraman terasa meremukkan, kepala didorong hingga membentur dasar lantai agar menghentikan perlawanan.

"Kita aman, kan?"

"Gue gak mau terlibat."

"Alah, yang penting nih anak mampus. Si Tua itu juga udah jamin keselamatan kita, dia orang penting dan buat bungkam mulut orang-orang rendahan gini gampang, tinggal kasih uang."

"Rayden suruh rekam."

Gerak tubuh yang ribut dengan mulut bersuara semakin menciptakan resah dalam dada. Merangkak berusaha menggapai ganggang pintu yang terbuka setengah, Kalula gigit kuat bibir bawah menerima tendangan pada bagian sensitifnya.

Ini pelecehan.

"Diam cewek bego, gak usah nambah masalah!" Laki-laki yang paling tinggi di antara ketujuhnya menggeram pelan.

"Tolong!" Suara serak menyatukan kedua tangan, pandangan memohon ditujukan pada setiap pasang mata yang menyaksikan.

"Aku salah apa?"

"Mau dibuat hancur kayak apalagi? Ini sakit, aku cuma pengen keadilan dari semua yang kalian lakukan, dua tahun menghakimi dan kembali menyiksa malam ini. Mau bagian mana? Sisain sedikit buat bisa rasain bahagia," isak tangis Kalula tidak bereaksi apa-apa dari ketujuh laki-laki itu.

Saling membuang muka dengan gejolak amarah pada mata. Tetap pada tekad untuk melaksanakan perintah dari sosok berkuasa. Berlandaskan uang dan ancaman semuanya memihak pada kejahatan yang disembunyikan. Membiarkan seorang rendahan berada di jurang kematian.

Dua laki-laki dengan jaket yang sama lebih dulu mengambil alih. Menutup mulut Kalula yang terus berteriak keras meminta pertolongan.

"Lepas!"

"Ampun."

"Tolong, aku gak mau." Kaki lemah menjadi bagian untuk bisa menyerang. Walaupun berakhir mengeluh saat kaki kirinya diinjak tanpa perasaan.

Sorak dari arah samping dan belakang tubuh yang membangkitkan jiwa luruh. Menggeleng ribut merasakan remasan pada bahu. Disusul hentakan keras pada kunciran rambut hingga membuat kepala bagian belakang hampir kembali beradu dengan lantai. Namun, satu tangan lain menahan. Menatap Kalula dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

Sesal, bersalah, ambisi, ketakutan, dan tertekan. Menyatu pada mata sipit yang memerah.

"Sial," umpat Kalula meninju rahang laki-laki dengan tubuh yang paling kecil. Memutar otak walaupun berkecamuk, bingung langkah apa yang perlu diambil untuk bisa lepas dari kurungan.

Tampilan kusut telah membuktikan banyak tangan berhasil melecehkan tubuh yang selama ini disakiti. Diiringi deras tangis, Kalula angkat kaki kanan menendang titik kelemahan para laki-laki. Membuat perhatian mereka beralih karena rasa sakit yang baru diberi. Bergetar lutut mempercepat langkah yang tertatih-tatih, menahan pijakan kaki yang terus goyah saat berhasil keluar dari ruang keramaian.

"Kejar bego!" Instruksi dari ketua komplotan biadab itu menggema di keheningan malam.

Membawa Kalula pada kegelisahan yang mencari jalan keluar atau sekedar mencari tempat persembunyian. Luas lapangan mengeluarkan keluhan pada bibir yang bergetar, patah harapan melihat gerbang tinggi di depan sana tertutup dengan kokohnya, dikunci dengan sengaja.

Seolah-olah memang telah mereka rencanakan untuk menghabiskan Kalula tanpa sisa.

"Akhir yang menyedihkan untuk aku yang selalu berangan-angan."

TRAGEDI 23.59 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang