Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 40 [ LELAH KEHILANGAN ARAH ]

5.8K 271 10
                                        

Jenuh pikiran menyiksa badan.

Keheningan mengisi di tengah-tengah kumpulan gelapnya langit malam. Tidak begitu banyak suara yang terdengar semenjak mereka duduk di area rooftop rumah sakit. Hanya saling tatap, menunduk, dan menghela napas dengan panjang. Ingin saling merangkul, namun lidah tidak mampu untuk sekedar memberi satu kata penyemangat pada beban yang dipikul.

Bunyi pematik disusul hembusan berat dari sosok berwajah lesuh di paling sudut. Matanya terpejam dan tubuh yang terbaring di atas kursi panjang, cukup berjarak dari ketiga temannya yang duduk memperhatikan.

"Gue takut."

Kata yang sama kembali terulang. Keresahan terselip pada nada suara yang melemah.

"Ada banyak hal yang belum gue lakuin dan masih belum ada satu pun keinginan Kalula yang bisa gue turutin. Berusaha buat mikir, kalau nantinya gue memang gak akan pernah bisa pertahanin, akhirnya seperti apa, ya?"

Ungkapan diakhiri alunan tawa lirih membuat semuanya menutup mata, menekan rasa sesak yang menyelusup. Membuang muka, tidak ingin terlalu larut dalam ruang kesedihan Anka.

"Masih banyak sakitnya, dia gak mungkin pergi, kan?" Menumpuk banyak pertanyaan pada kepala.

"Gue masih belum kasih bahagia untuk dia yang istimewa."

"Gue kira...semenjak hari kelulusan itu cuma gue yang menjadi orang satu-satunya yang tau tentang Kalula. Nyatanya, gak ada, gimana dia gak sebaik itu tinggal di rumah yang megah, bergelimang harta, tapi diperlakukan hina. Gue bahkan baru tau akhir-akhir ini, cowok tolol." Anka berdecak seraya memukul sisi kepala melampiaskan amarah pada diri sendiri.

"Mereka bohong."

"Mata gue jadi saksi dari perlakuan bejat orang-orang biadab."

Semakin menghisap kuat batang rokok untuk ketiga kalinya. Perlahan, kelopak mata itu kembali terbuka. Melimpahkan kebingungan yang menyiksa.

"Kalula...pasti baik-baik aja." Cakra menyahut sembari mengulas senyum.

Menyita perhatian Anka. Tatapan aneh terlihat dari mata yang memerah, kemudian terkikik tanpa suara.

"Pasti dong. Selama ini dia baik, kan? Yang katanya," jawab Anka parau.

"Balik sana! Lo butuh istirahat," usul Maven mengangkat suara, tatapan prihatin terus ditujukan pada penampilan kacau temannya itu.

Sudah terhitung dua jam menghabiskan waktu di ruangan terbuka ini. Pelampiasan dari asap rokok mengerubungi posisi tubuh. Tampak begitu mencolok perhatian mereka sedari tadi. Mungkin, banyak yang perlu mereka dengarkan tentang bagaimana Anka mengetahui Kalula, tapi waktu saja yang sudah terlalu larut, dingin semakin menusuk, dan Anka tidak pernah bisa melawan hawa itu.

"Ingat tubuh lo, nanti sakit. Alergi dingin, kan? Kalau lo sakit yang jagain Kalula besok siapa?" Pertanyaan bernada sarkas dari Benji. Bergerak merangkul tubuh Anka yang masih menolak untuk beranjak. Tampak begitu nyaman dengan tubuh berbaring lemah pada kursi kayu.

Cakra satu-satunya sosok yang tidak membuka suara dari tadi. Menjadi pengamat atas sikap keras Anka, tidak ingin pergi. Bayang-bayang percakapan dokter dengan para perawat itu berhasil mengambil alih kesadaran. Mendengar tanpa sengaja, tapi membuat detak jantung berhenti rasanya.

Tidak hanya pendarahan pada perut, tapi kerusakan pada otak yang justru mengancam. Ada bagian yang retak.

Sial. Cakra membisu dibuatnya.

"Kalula gak pernah ngeluh capek Ben, dia gak akan tutup mata selama itu, dokter bohong," lirih remaja itu menatap harap Benji yang bungkam.

"Sebentar lagi Kalula ulang tahun."

TRAGEDI 23.59 (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang