Desember 2012
Anak perempuan berumur 5 tahun itu menangis. Tangan mungilnya menggapai punggung lebar lelaki yang duduk dengan panik di kursi kemudi. Sempat bertatap ketika pintu depan mobil di buka.
"Ayah, sakit!"
Tangisnya mengencang saat kaki kirinya terjepit begitu kuat. Memanggil sosok Ibu yang telah terlelap.
"Ayah, tolong Ula!" Suara bergetar yang membuat tubuh kepala keluarga itu terdiam. Kecelakaan tunggal yang baru terjadi berhasil membuat mobil nyaris hancur. Dengan keadaan wajah istri yang tidak lagi berbentuk dan kaki anak perempuannya yang terjepit.
Posisi mobil terbalik. Masih mengingat dentuman keras yang menabrak pembatas jalan. Suasana malam dan jalanan sepi membuat mereka tidak mendapatkan pertolongan.
Menangis.
"Ayah, jangan pergi!"
Menutup telinga.
Tertatih-tatih dengan hati resah.
Bagian depan mobil sudah mengeluarkan api, percik demi percik sehingga membuatnya enggan untuk menolong sang istri yang tidak lagi bernafas dan anak perempuannya yang histeris.
"Maaf."
Tubuh lelaki dewasa itu luruh.
"Lula!" Teriakan marah terdengar di tengah mobil yang terbakar. Sosok pria kecil tiba-tiba muncul dari arah bagasi.
Tangis bersahutan, rintihan dan ucapan penenang. Kedua tangan kecil berusaha menarik kaki kiri Kalula yang terjepit.
"Sakitt."
Berlumuran darah yang membuat kepala pening. Dalam lemah menyeret bahu Kalula, memejamkan mata saat raungan semakin keras. Daripada tubuh yang menjadi lalapan maka jalan akhirnya adalah mengorbankan kaki kiri Kalula.
Isakan keluar dari mulut pria kecil itu. Menggendong tubuh Kalula menjauh, berjarak seperkian detik ledakan dari balik punggung membuat keduanya terpental. Kobaran api menyambar, melahap tiap bagian dan tubuh sang Ibu di dalam mobil.
"Kulit Ibu melepuhh."
Racauan kata pilu.
"Ibu, jangan pergi."
"Tuhan jangan ambil, tolong!"
"Kita lahir bukan untuk dilindungi," tutur anak lelaki tadi. Matanya memerah, kepalan tangan yang bergetar saat menyaksikan keegoisan pria paruh baya yang terpaku di seberang jalan. Memilih selamat sendiri, tidak ada sedikitpun niat untuk membantu.
Kehilangan.
Terpejam dengan tubuh berpelukan dan jari yang bertaut. Kesadaran terenggut.
"Jangan mati!"
"Ibu pergi," kata lirih itu direndam oleh teriakan histeris dan klakson mobil yang berhenti. Senyuman keduanya terukir, tautan mereka terlepas, dibawa menjauh.
Terpisah.
Sepenggal kisah duka yang bermakna. Mengingatkan kembali pada kenangan yang merebut segalanya. Ayah, Ibu dan kebahagiaannya. Awal dari bahagia yang dirusak. Penyebab dari tindakan perundungan yang selama ini menghancurkan hidupnya. Terlalu sakit untuk diingat. Mimpi itu benar-benar nyata terjadi, lalu. Sudah lama.
Tapi kenapa kembali?
Terisak hebat.
Meremas dadanya yang perih di dalam sana. Kedua kaki yang terbaring di brankar rumah sakit itu menendang udara dengan lemah. Matanya ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Teen Fiction"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
