Jari lincah itu berhenti menuliskan bait kata saat satu set alat lukis disodorkan oleh sosok paruh baya. Menciptakan kerutan samar disusul senyuman miris yang muncul, membisu saat gerakan lembut terasa pada pucuk kepala. Elusan dan tatapan penuh kasih yang tercurah dari Juna, Papanya.
Berbagai pertanyaan mengisi kepala. Lidah yang berat menanyakan apa alasan Juna dengan tiba-tiba kembali memberikan ruang bagi Kalula menikmati dunianya.
Melukis. Alat yang sudah lama tidak Kalula pegang sebab ketidaksukaan Juna, membenci hobinya. Namun, hari ini? Aneh, apalagi mendapat perlakuan yang selama ini Kalula pinta pada Tuhan.
Kasih sayang.
Dan perhatian.
"Kenapa? Papa butuh sesuatu dari aku?" Lolos dalam satu kali tarikan napas. Mendongak untuk dapat menangkap arti mata Juna yang terdiam, tanpa suara tetap memberikan senyuman.
"Kenapa tidak pernah cerita sama Papa?"
Gigitan pada pipi kanan bagian dalam menguat saat jari kasar Juna menyentuh lebam yang menghitam pada lengan, samar terlihat namun masih meninggalkan rasa sakit saat ditekan.
"Papa pernah kasih waktu buat aku cerita sedikit saja tentang sekolah? Papa hanya peduli pada Atma...Hari ini baik, Nak? Itu hanya untuk Atma bukan aku, jadi kenapa masih bertanya?" Kalula tatap dengan dalam manik Juna yang sayu. Berusaha agar tidak kembali menangis setelah mengucapkan ketidakdilan dari kasih sayang yang diberikan.
Karena kendatinya sedari kecil Kalula yang selalu mengemis meminta peran Papa? Hak yang seharusnya didapat tidak sekalipun Kalula rasakan.
Sosoknya ada, hanya peran yang hilang. Lupa, jika masih memiliki satu anak dari wanita yang katanya sekedar pelampiasan nafsu saja.
"Aksa."
"Atas nama dia, Papa minta maaf. Papa akan hukum dia, tapi Kalula cabut tuntunan itu, ya? Jangan bikin malu, Papa," tutur Juna pelan direspon kekehan kecil oleh Kalula.
"Jadi, Papa nyogok aku pakai ini?" Melirik alat lukis yang terletak di atas meja belajar. Firasat Kalula tidak pernah salah. Terlalu berharap jika Juna benar-benar ingin berubah untuk memperbaiki semua masalah. Nyatanya, hanya untuk menyelamatkan nama baik dan putra kesayangannya.
"Jahat."
Dekapan menyelimuti tubuh kecil Kalula yang bergetar.
Mendorong lalu memukul dada Juna melupakan amarah yang tidak mampu lagi ditahan. Rasanya menumpuk di dalam sana, lagi dan lagi menerima kenyataan yang sulit Kalula telan. Banyak yang ingin Kalula ceritakan pada Juna tentang hari-harinya selama dua tahun di SMANTA. Namun, kenapa dengan santainya berucap meminta Kalula untuk melepaskan pelaku yang tanpa perasaan menghancurkan, tanpa sisa.
"Yang aku harap itu Papa tanyain keadaan aku, bukan malah minta aku buat cabut tuntunan biar anak Papa lepas. Kenapa harus malu?" tanya Kalula dengan sorot mata sedih.
"Kita bisa selesaikan di rumah, tidak perlu membawa pihak kepolisian. Aksa, saudara kamu, Kalula," balas Juna tetap tidak mau salah. Masih berpihak pada Aksa, bukti banyak lebam pada tubuh Kalula tidak berarti apa-apa bagi Juna. Karena sedikit banyaknya Juna turut menorehkan luka pada tubuh Kalula.
Hanya saja tidak sadar.
"Aku gak pernah anggap Aksa ataupun Atma itu saudara." Kalula berucap dengan suara mengecil. Menantang mata Juna yang memperlihatkan ketidaksukaan.
"Karena Papa gak pernah anggap aku sebagai anak. Jadi, kami juga bukan saudara, kan?"
Terdiam.
Juna mati kutu dibuatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRAGEDI 23.59 (END)
Teen Fiction"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMANTA adalah tempat yang paling menakutkan. Menjadi korban perundungan membuat hidupnya berantakan. Tubuh penuh luka. Hati yang gelisah. Akal y...
